Tak Lagi Cuma Buku dan Pulpen, UT Hadirkan SI MAMY untuk Digitalisasi Posyandu Desa

BOGOR — Di Posyandu, masa depan anak kadang dimulai dari hal yang kelihatannya sederhana: angka di timbangan, tinggi badan yang dicatat kader, jadwal ibu hamil yang tidak boleh terlewat, atau tanda kecil yang bisa menjadi alarm awal risiko stunting. Masalahnya, di banyak tempat, urusan sepenting itu masih kerap bergantung pada buku catatan, pulpen, dan ketelitian kader yang harus berjibaku dengan tumpukan data.

Padahal, ketika satu data tercecer, dampaknya bisa panjang. Balita yang seharusnya dipantau bisa luput. Ibu hamil yang mestinya diperiksa bisa terlambat terdeteksi. Dari kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan warga inilah Universitas Terbuka (UT) resmi meluncurkan SI MAMY atau Smart Integrated Maternal and Mom Young/Yandu, aplikasi Posyandu Digital berbasis android untuk memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa.

Aplikasi tersebut mulai diimplementasikan di Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa ini diharapkan menjadi pilot project Posyandu Digital Nasional, sekaligus contoh bagaimana transformasi digital dapat dimulai dari layanan paling dasar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Peluncuran SI MAMY merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UT, dengan dukungan pendanaan bersama dari UT dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui program ini, UT tidak hanya membawa aplikasi ke desa, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem desa sehat berbasis data dan teknologi yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Ketua Tim Pelaksana PkM UT, Kani, S.Kom., M.Kom., mengatakan, SI MAMY lahir dari kebutuhan untuk memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan layanan kesehatan ibu dan anak yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.

“Setahun lalu kami mulai membahas bagaimana digitalisasi desa dapat dilakukan melalui layanan yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu Posyandu. Lahirlah gagasan untuk mengembangkan SI MAMY, sebagai sistem untuk membantu kader Posyandu melakukan pencatatan, pemantauan, dan pelaporan secara digital,” ujar Kani dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Rawakalong, Jumat (20/6/2026).

Menurut Kani, SI MAMY awalnya dirancang berbasis komputer. Namun setelah berdiskusi dengan aparat desa dan kader Posyandu, tim pengembang memutuskan mengalihkannya menjadi aplikasi berbasis perangkat mobile agar lebih mudah digunakan di lapangan.

“Kami ingin aplikasi ini sederhana dan mudah diakses. Kader Posyandu tidak perlu menggunakan laptop. Cukup dengan handphone atau tablet berbasis android yang harganya terjangkau, mereka sudah bisa menjalankan seluruh fungsi aplikasi,” katanya.

Melalui SI MAMY, kader Posyandu dapat mencatat data ibu hamil dan balita secara digital, memantau perkembangan kesehatan, serta membuat laporan secara otomatis. Sistem ini juga mampu menghitung status gizi berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Permenkes Tahun 2020.

Kader cukup memasukkan data berat badan, tinggi badan, usia balita, atau hasil pemeriksaan ibu hamil. Setelah itu, sistem akan mengolah data secara otomatis dan memberikan rekomendasi tindak lanjut yang dapat menjadi referensi bagi kader maupun tenaga kesehatan.

Aplikasi ini juga dilengkapi fitur pengingat dan notifikasi otomatis apabila terdapat balita yang belum ditimbang, ibu hamil yang belum menjalani pemeriksaan rutin, atau kondisi yang memerlukan perhatian khusus seperti risiko stunting dan gangguan gizi.

Keunggulan lain yang cukup penting, sebagian besar fitur SI MAMY tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet. “Hampir seluruh fitur utama dapat berjalan secara offline,” kata Kani.

Fitur tersebut menjadi relevan karena tidak semua wilayah di Indonesia memiliki kualitas jaringan internet yang sama. Data tetap dapat dicatat di lapangan dan akan tersinkronisasi ketika perangkat kembali terhubung dengan internet.

Kani menegaskan, Rawakalong dipilih bukan hanya sebagai lokasi implementasi, melainkan sebagai fondasi lahirnya model digitalisasi Posyandu yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

“Kami ingin membangun sistem lokal yang berdampak nasional. Rawakalong menjadi ‘pilot project’ sekaligus ‘living laboratory’ bagi pengembangan transformasi digital desa berbasis layanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan FGD dan diseminasi tersebut dibuka oleh Camat Gunung Sindur, Muhamad Jamaluddin, S.IP., M.Si., dan dihadiri Kepala Desa Rawakalong H. Wardi, Sekretaris Desa Jawanih, S.H., M.Hum., pakar Sistem Informasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Irman Hermadi, S.Kom., M.S., Ph.D., kader Posyandu, PKK, akademisi, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Selain menyosialisasikan aplikasi, forum tersebut juga dimanfaatkan untuk merumuskan arah transformasi digital Desa Rawakalong dalam lima tahun ke depan. Posyandu menjadi pintu masuk, tetapi peluang digitalisasi desa dapat diperluas ke sektor pelayanan publik lainnya.

Kepala Desa Rawakalong, H. Wardi, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan UT. Menurutnya, digitalisasi sudah menjadi kebutuhan dalam tata kelola pemerintahan maupun pelayanan masyarakat.

“Aplikasi SI MAMY akan sangat membantu kader Posyandu dan Tim Penggerak PKK dalam melakukan pemantauan kesehatan ibu hamil, balita, serta pencegahan stunting secara lebih efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Gunung Sindur Muhamad Jamaluddin menyatakan, inovasi yang dikembangkan UT sejalan dengan program digitalisasi yang tengah didorong pemerintah daerah.

“Kami mengapresiasi Universitas Terbuka yang telah menjadikan Desa Rawakalong sebagai pilot project. Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ucapnya.

Ia menilai masyarakat Gunung Sindur cukup siap menerima transformasi digital, mengingat wilayah tersebut berada di kawasan penyangga perkotaan yang berbatasan dengan Kota Tangerang Selatan dan Kota Depok. Jika implementasi SI MAMY berjalan baik di Rawakalong, model serupa dinilai sangat memungkinkan diperluas ke desa-desa lain di Kecamatan Gunung Sindur.

Pada akhirnya, SI MAMY bukan sekadar cerita tentang aplikasi baru yang diluncurkan di sebuah desa. Ini cerita tentang bagaimana teknologi turun dari bahasa seminar ke meja Posyandu, lalu membantu kader membaca data kesehatan warga dengan lebih cepat dan rapi.

Dari Rawakalong, UT menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari ruang yang megah atau sistem yang rumit. Kadang, perubahan justru dimulai dari layar ponsel kader Posyandu, dari data balita yang tidak lagi tercecer, dari ibu hamil yang lebih terpantau, dan dari desa yang pelan-pelan belajar membangun masa depan kesehatannya sendiri secara lebih inklusif, terukur, dan berkelanjutan.