Landak, Kalbar- Bagi banyak siswa di Kabupaten Landak, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sering kali terasa seperti langkah besar—bahkan kadang tampak jauh dari jangkauan. Namun, awal November 2025 ini, harapan itu terasa semakin nyata ketika Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Landak mendatangi sekolah-sekolah untuk memperkenalkan cara baru menempuh pendidikan tinggi yang lebih sederhana, fleksibel, dan terjangkau.
Dalam kunjungannya, tim SALUT Landak telah menyapa 21 SMA dan SMK di Kecamatan Ngabang, Mandor, Sengah Temila, Menyuke Hulu, hingga Jelimpo. Fokus kegiatan ini adalah memberikan gambaran kepada siswa kelas XII mengenai berbagai pilihan perguruan tinggi setelah mereka lulus—termasuk pilihan PTN yang mungkin belum banyak mereka kenal.
Kepala SALUT Landak, L. Sahat Tinambunan, menjelaskan bahwa sosialisasi ini tidak hanya sekadar memperkenalkan Universitas Terbuka (UT), tetapi juga memberi pengetahuan baru bahwa sistem perkuliahan tidak selalu harus tatap muka seperti PTN konvensional. “Sekolah di kecamatan lainnya juga akan kami kunjungi dalam waktu dekat,” ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut, siswa diperkenalkan pada konsep perkuliahan yang lebih ramah bagi kehidupan sehari-hari. UT—sebagai perguruan tinggi negeri berakreditasi A—menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh, dan telah menggunakan berbagai inovasi teknologi untuk melengkapi proses pembelajarannya seperti tutorial online, tutorial webinar dan bahan ajar digital. Artinya, mahasiswa bisa belajar kapan mereka memiliki waktu: pagi sebelum membantu orang tua, siang sepulang kerja, atau malam ketika suasana sudah tenang.
Keunggulan lain yang cukup menarik perhatian siswa adalah biaya kuliah UT yang berkisar Rp1,5–2,3 juta per semester, termasuk buku paket. Bagi banyak keluarga, ini menjadi opsi pendidikan tinggi yang realistis tanpa harus terbebani biaya besar.
“Di era digital, kuliah tidak harus datang ke kampus setiap hari. Dengan sistem online, mahasiswa bisa belajar dan berdiskusi dari mana saja. Ini sangat membantu mereka yang ingin bekerja sambil kuliah,” jelas Sahat.
Tidak hanya fleksibel, UT juga membuka akses pendidikan bagi siapa saja tanpa batasan tahun lulus dan tanpa tes masuk. Kesempatan ini menjadi solusi bagi mereka yang sempat menunda pendidikan, tinggal di daerah yang jauh dari kampus, atau memiliki aktivitas lain yang tak bisa ditinggalkan.
“Yang penting punya tekad untuk belajar. Selama ada internet, kuliah bisa tetap jalan. Kami ingin anak-anak di pelosok pun tahu bahwa mereka punya peluang yang sama,” tambah Sahat.
Dalam sosialisasi tersebut, SALUT Landak juga memperkenalkan berbagai fakultas dan program studi, mulai dari FKIP, FEB, FST hingga FHISIP. Hanya Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mensyaratkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Selain itu, semua lulusan SMA sederajat bebas mendaftar tanpa terikat tahun kelulusan.
Upaya mengenalkan UT ini sejalan dengan tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pemerataan akses pendidikan untuk seluruh masyarakat. Dengan mendatangi sekolah-sekolah, UT dan SALUT Landak mempertegas komitmen mereka menghadirkan perguruan tinggi yang benar-benar bisa diakses siapa pun, di mana pun.
Kini, pintu kesempatan terbuka lebih lebar bagi siswa Landak. Dengan pilihan kuliah yang lebih fleksibel, mereka dapat merancang masa depan tanpa harus mengorbankan pekerjaan, aktivitas keluarga, atau jarak tempuh. Di tengah perkembangan teknologi, UT hadir sebagai bukti bahwa pendidikan tinggi seharusnya mudah, terjangkau, dan bisa diikuti oleh semua orang.


