Tepuk tangan panjang dan senyum yang tak disembunyikan menjadi penanda satu hal: ribuan perjalanan sunyi para pembelajar jarak jauh akhirnya bermuara pada satu hari bersejarah. Begitulah suasana Wisuda Universitas Terbuka (UT) Jember Periode II Tahun 2025 yang digelar di Auditorium Universitas Jember, Rabu (13/11), ketika 809 wisudawan dari diploma, sarjana, hingga pascasarjana dikukuhkan setelah menempuh pendidikan dengan ritme dan tantangan yang tak selalu mudah. Pada hari itu, UT kembali menunjukkan bagaimana akses pendidikan dapat benar-benar merata, tanpa batas jarak maupun waktu.
Direktur UT Jember, Dra. Barokah Widuroyekti, M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan para lulusan merupakan bukti nyata bahwa fleksibilitas bukan hanya konsep, tetapi peluang nyata bagi masyarakat yang ingin terus belajar. “UT hadir memberikan akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan fleksibilitas belajar,” ujarnya. Ia menambahkan, UT Jember bukan sekadar institusi akademik, melainkan ruang pengabdian yang ikut memperkuat budaya literasi di berbagai daerah.
Berbagai inovasi pembelajaran, menurutnya, terus diperbarui untuk memastikan mahasiswa dapat menempuh studi dengan lebih efisien dan nyaman. Optimalisasi teknologi digital, pengembangan layanan daring yang adaptif, hingga perluasan fasilitas akademik menjadi bagian dari langkah strategis UT. “Prinsip kami sederhana, belajar bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja,” tegas Barokah.
Mewakili Rektor UT, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT, Dr. Meirani Harsasi, M.Si, hadir memberikan pesan bahwa UT akan terus menjadi pelopor pendidikan tinggi jarak jauh yang inklusif dan fleksibel. Menurutnya, sistem pembelajaran UT didesain agar setiap mahasiswa—baik pekerja, orang tua, penyandang disabilitas, maupun warga di wilayah terpencil—tetap memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. “Kami memahami bahwa banyak mahasiswa UT adalah pekerja, orang tua, bahkan warga di daerah terpencil. Karena itu, model belajar yang adaptif menjadi kunci keberhasilan mereka,” ujarnya.
Meirani menegaskan bahwa UT juga terus meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kurikulum digital, layanan akademik yang responsif, hingga kolaborasi dengan berbagai lembaga. Upaya ini selaras dengan tujuan SDGs, khususnya poin tentang pendidikan berkualitas dan pemerataan akses pendidikan yang inklusif (SDG 4). “Hingga kini, UT Jember memiliki 17.124 mahasiswa aktif, dan secara nasional jumlahnya mencapai 768 ribu mahasiswa. Kami menargetkan 1 juta mahasiswa dalam waktu dekat sebagai bukti komitmen kami terhadap pemerataan pendidikan tinggi,” tuturnya.
Saat ini, UT memiliki 39 kantor daerah di seluruh Indonesia dan satu unit layanan luar negeri. Mahasiswanya bahkan berasal dari lebih dari 50 negara. Jangkauan yang luas tersebut menempatkan UT sebagai perguruan tinggi dengan layanan pendidikan paling merata di Tanah Air, sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan tidak harus terikat pada ruang kelas fisik.
Pada akhirnya, wisuda kali ini menjadi cermin bagaimana akses pendidikan yang setara mampu melahirkan generasi unggul dan berdaya saing. Dari ruang-ruang belajar yang tersebar di berbagai penjuru, hingga mereka yang menyelesaikan tugas di sela bekerja atau mengurus keluarga, UT membuktikan bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang tidak berhenti bermimpi. Dari Jember, pesan itu kembali menggema: pendidikan yang inklusif bukan wacana—tetapi kenyataan yang terus diperjuangkan.



