Memasuki dunia perkuliahan bukan hanya soal mengejar nilai dan menyelesaikan tugas. Dalam sistem pembelajaran jarak jauh, mahasiswa Universitas Terbuka (UT) juga memiliki ruang untuk bertemu, berorganisasi, berkolaborasi, hingga memperoleh pengalaman yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia.
Pesan itulah yang dibawa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Terbuka (UT) Sorong saat memperkenalkan berbagai kegiatan dan program kemahasiswaan kepada mahasiswa baru dalam rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Tahun Akademik 2026/2027.
Bertempat di Drei Kinder, Kilometer 10, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (15/8/2026), Ormawa UT Sorong menggelar sosialisasi bertajuk “Mengenal Apa Itu Ormawa UT Sorong?”. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat organisasi kemahasiswaan sekaligus melihat peluang pengembangan diri yang tersedia di luar aktivitas akademik.
Dalam sesi sosialisasi, tim Ormawa UT Sorong memperkenalkan keberadaan dan peran organisasi kemahasiswaan di lingkungan UT Sorong. Mahasiswa baru diajak mengenal struktur organisasi, berbagai divisi, program kerja, hingga kegiatan unggulan yang rutin dilaksanakan.
Namun, perkenalan tersebut tidak berhenti pada persoalan struktur organisasi. Mahasiswa baru juga diajak melihat Ormawa sebagai ruang belajar yang berbeda dari ruang kelas. Melalui kegiatan organisasi, mahasiswa dapat mengembangkan soft skill, kemampuan kepemimpinan, pengalaman berorganisasi, sekaligus memperluas jejaring atau networking.
Hal ini menjadi penting bagi mahasiswa UT yang menjalani sistem pembelajaran jarak jauh. Fleksibilitas perkuliahan tidak berarti kesempatan untuk bertumbuh menjadi lebih terbatas. Justru, berbagai kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan minat, mengasah kemampuan nonakademik, serta membangun relasi dengan sesama mahasiswa.
Ketua Ormawa UT Sorong, Kristie S. Liando, turut hadir mendampingi kegiatan sekaligus memberikan perhatian kepada mahasiswa baru. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak ragu bergabung dan mengambil bagian dalam berbagai aktivitas Ormawa.
Menurut Kristie, organisasi mahasiswa memiliki makna lebih dari sekadar pelengkap kegiatan kampus.
“Ormawa bukan sekadar pelengkap kegiatan kampus, tetapi rumah kedua untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan menemukan keluarga baru yang solid,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa baru agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi ikut mengembangkan kemampuan nonakademik dan mengambil peran dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Semangat itu kemudian dirangkum dalam jargon Ormawa UT Sorong, “Bertumbuh Bersama UT, Bergerak untuk Papua.” Bagi Kristie, jargon tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan sebagai mahasiswa tidak semestinya berhenti pada perkembangan akademik dan pribadi. Ada tanggung jawab yang lebih luas untuk bergerak, berkolaborasi, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan Tanah Papua.
Semangat ini sejalan dengan upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya memperluas akses belajar, tetapi juga membangun kompetensi, karakter, kolaborasi, dan kepemimpinan mahasiswa, sebagaimana semangat SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 17 yang mendorong kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Usai OSMB, mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 tetap memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh program kerja maupun bergabung dalam kegiatan Ormawa UT Sorong.
Sebab, perjalanan belajar mahasiswa UT boleh berlangsung dari tempat masing-masing, tetapi cerita tentang tumbuh, bertemu, berkolaborasi, dan memberi arti bagi sesama dapat dimulai ketika mereka berani melangkah bersama.



