UT Pekanbaru Ajak Warga Sulap Pekarangan Kosong Jadi Sumber Pangan dan Penghasilan 

Tak semua perubahan besar harus dimulai dari lahan yang luas. Di tengah padatnya kawasan perkotaan, secuil pekarangan yang selama ini dibiarkan kosong ternyata dapat menjadi sumber pangan, tambahan penghasilan, sekaligus harapan baru bagi keluarga. Dengan sentuhan pengetahuan, semangat gotong royong, dan pendampingan yang tepat, ruang yang semula tak dimanfaatkan dapat berubah menjadi kebun sayuran organik yang produktif. 

Semangat itulah yang dibawa Universitas Terbuka (UT) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berkolaborasi dengan Yayasan ARU Anotero Scientific. Mengusung tema “Transformasi Lahan Kosong Menjadi Kebun Urbani untuk Produksi Sayuran Organik dan Pengelolaan Sampah sebagai Sumber Ekonomi Masyarakat”, kegiatan ini digelar di Gedung Serbaguna BRI, Masjid Dar El Tasqif, Jalan Taman Karya XX, Panam, Pekanbaru, Ahad (26/7/2026). 

Lebih dari sekadar memberikan penyuluhan, kegiatan ini mengajak masyarakat melihat potensi yang selama ini kerap terabaikan. Pekarangan rumah diperkenalkan sebagai ruang produktif yang dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran organik, sementara sampah rumah tangga didorong agar tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Pendekatan sederhana tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menambah sumber penghasilan masyarakat. 

Kajian menghadirkan Ronny Basista, S.Ag., M.Si., Ph.D. dari Universitas Terbuka bersama Tim Ahli Yayasan ARU Anotero Scientific. Keduanya berbagi pengetahuan sekaligus pengalaman mengenai pemanfaatan lahan perkotaan, pengelolaan lingkungan, serta pentingnya membangun kemandirian masyarakat melalui inovasi yang dapat diterapkan langsung di kehidupan sehari-hari. 

Kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa Universitas Terbuka untuk terjun langsung ke tengah masyarakat. Mereka tidak hanya berinteraksi dengan masyarakat mitra nonproduktif, tetapi juga diajak memahami persoalan yang dihadapi warga serta menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai bagian dari solusi. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk mengasah kepedulian sosial sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi di luar ruang kelas. 

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Rian Vebrianto, M.Ed., mengatakan bahwa pemanfaatan pekarangan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam mewujudkan swasembada pangan di tingkat keluarga. 

“Dalam kesempatan ini, kami juga menghibahkan showcase dan bibit tanaman untuk saling berbagi, jangan sampai ada warga yang tidak bisa masak atau kelaparan. Di sini juga nantinya akan ada lahan khusus nenas dan juga kolam ikan lele,” ujarnya. 

Komitmen tersebut diwujudkan melalui aksi nyata. Tim pengabdian menyerahkan sebuah showcase kepada masyarakat, membagikan masing-masing dua bibit terong kepada warga, serta menanam 50 bibit nanas di lingkungan sekitar. Ke depan, kawasan tersebut juga direncanakan memiliki area khusus budidaya nanas dan kolam ikan lele sebagai upaya menciptakan ekosistem pangan yang produktif sekaligus berkelanjutan. 

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama yang berlangsung hangat. Namun, yang paling penting bukanlah berakhirnya kegiatan tersebut, melainkan awal dari sebuah gerakan bersama. Dari pekarangan yang selama ini dibiarkan kosong, masyarakat mulai melihat peluang untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, menjaga lingkungan, sekaligus membuka sumber penghasilan baru. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kepedulian sosial, yang tumbuh bukan hanya kebun-kebun produktif, tetapi juga masyarakat yang semakin mandiri dan berdaya.