2.529 Mahasiswa Baru Mulai Kuliah di UT Jakarta, Bukti Pendidikan Tinggi Tak Lagi Dibatasi Jarak 

TANGERANG SELATAN – Bagi sebagian orang, kuliah mungkin identik dengan gedung kampus, ruang kelas, dan perjalanan menuju perguruan tinggi. Namun, bagi 2.529 mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Jakarta, awal perjalanan itu justru dimulai dengan satu pesan penting: pendidikan tinggi tidak harus dibatasi jarak. 

Pesan tersebut terasa dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Tahap 1 UT Jakarta yang digelar di Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Sabtu (25/7/2026). Bukan sekadar seremoni penyambutan, OSMB menjadi pintu pertama bagi ribuan mahasiswa baru untuk mengenal dunia perkuliahan sekaligus bersiap menjalani semester 2026/2027 Ganjil. 

Pesan tersebut terasa dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Tahap 1 UT Jakarta yang digelar di Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Sabtu (25/7/2026). Bukan sekadar seremoni penyambutan, OSMB menjadi titik awal bagi 2.529 mahasiswa baru untuk mengenal sistem pembelajaran UT sekaligus memulai semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. 

Bagi Prof Ali, OSMB UT Jakarta menjadi penanda dimulainya babak baru pembelajaran di UT. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai simbol sekaligus kick off proses pembelajaran semester 2026/2027 Ganjil. 

“OSMB UT Jakarta menjadi simbol dan kick-off dari proses pembelajaran di semester 2026-2027 ganjil di Universitas Terbuka,” ujar Prof Ali. 

Namun, ada hal yang membuat OSMB UT Jakarta kali ini terasa lebih dari sekadar agenda awal perkuliahan. Di balik ribuan mahasiswa yang hadir, tersimpan gambaran mengenai luasnya jangkauan pendidikan jarak jauh yang dijalankan UT. 

Prof Ali menyebut UT Jakarta sebagai salah satu barometer pendidikan jarak jauh di Indonesia. Alasannya, jumlah mahasiswa UT Jakarta telah mencapai lebih dari 100.000 orang. Mahasiswa tersebut pun tidak hanya berasal dari wilayah kabupaten/kota dan kota administratif di DKI Jakarta, tetapi juga tersebar di lebih dari 200 kabupaten di Indonesia, bahkan hingga berbagai wilayah di dunia. 

Artinya, kampus tidak selalu harus dekat secara geografis untuk bisa memberikan kesempatan belajar. Melalui sistem pendidikan jarak jauh, UT Jakarta melayani mahasiswa dengan latar belakang dan lokasi yang beragam. Sekitar 7–8 persen dari keseluruhan mahasiswa UT bahkan terkonsentrasi dan dilayani oleh UT Jakarta. 

Jangkauan yang luas tersebut tentu membawa konsekuensi lain: mahasiswa UT harus mampu menjadi pengelola utama proses belajarnya sendiri. Karena itu, di tengah fleksibilitas yang ditawarkan, Prof Ali menitipkan tiga hal penting kepada mahasiswa baru, yakni integritas, dignity, dan reputasi

Ketiganya, menurut Prof Ali, menjadi kunci keberhasilan mahasiswa dalam menjalani pembelajaran mandiri. Terlebih, dalam sistem belajar mandiri, mahasiswa dituntut memiliki kedisiplinan dan kejujuran karena dirinya sendiri yang paling mengetahui sejauh mana proses belajar telah dijalankan dengan benar. 

“Belajar mandiri harus punya integritas karena hanya dia yang bisa tahu dirinya berbohong atau tidak dan hanya dirinya yang tahu dia jujur atau tidak,” kata Prof Ali. 

Dari pembentukan karakter mahasiswa, pesan OSMB kemudian bermuara pada tujuan yang lebih besar: memperluas kesempatan masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Hal tersebut sejalan dengan semangat kehadiran UT Jakarta yang ingin berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. 

Direktur UT Jakarta Drs. Moh. Muzammil, M.M. mengatakan, kehadiran UT Jakarta merupakan bagian dari upaya menjalankan amanat UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. 

“Alhamdulillah UT Jakarta hadir dan berkontribusi untuk pemajuan bangsa tersebut, untuk memfasilitasi warga negara yang ingin belajar, yang ingin meningkatkan kualifikasi pendidikannya,” ujar Muzammil. 

Besarnya jumlah mahasiswa UT Jakarta menjadi salah satu bukti bahwa kebutuhan terhadap akses pendidikan tinggi yang fleksibel masih sangat besar. Saat ini, mahasiswa UT Jakarta telah mencapai lebih dari 100.000 orang. Angka tersebut dinilai menjadi bentuk kontribusi UT Jakarta terhadap pendidikan nasional, terlebih angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 24–25 persen. 

Kondisi itu menunjukkan bahwa pekerjaan untuk memperluas akses pendidikan tinggi masih terbuka lebar. Karena itu, UT Jakarta diharapkan dapat terus mengambil peran dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di pendidikan tinggi dengan menghadirkan kesempatan belajar yang dapat menjangkau lebih banyak kalangan. 

Upaya tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4 atau Pendidikan Berkualitas, yang mendorong tersedianya pendidikan yang inklusif, berkualitas, serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. 

Pada akhirnya, 2.529 mahasiswa baru yang mengikuti OSMB Tahap 1 tidak sekadar memulai semester baru. Mereka memulai perjalanan yang membuktikan bahwa pendidikan tinggi kini dapat diakses tanpa harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, maupun tempat tinggal. Di Universitas Terbuka, jarak bukan lagi penghalang untuk terus belajar dan berkembang.