Dari Buah Nanas sampai Ragi Tempe, Begini Cara UT Kendari Bantu UKM Konkep Bikin VCO

Di sebuah wilayah kepulauan di Sulawesi Tenggara, kelapa bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan. Buahnya tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat dan selama ini menjadi bagian dari sumber penghidupan. Namun, di balik melimpahnya kelapa, ada satu pertanyaan yang lebih besar: bagaimana hasil bumi tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab Universitas Terbuka (UT) Kendari dan Universitas Halu Oleo (UHO) bersama UKM Ahbab Maju di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pada Sabtu (25/7/2026), tim dosen dari kedua perguruan tinggi tersebut hadir langsung di tempat usaha UKM Ahbab Maju untuk memberikan pendampingan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penerapan Teknologi Pembuatan VCO Berbasis Ragi Tempe dan Ekstrak Bromelin Nanas untuk Meningkatkan Kompetensi dan Kelembagaan UKM Ahbab Maju Kabupaten Konawe Kepulauan”.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk sinergi antar-perguruan tinggi dalam mendorong pelaku usaha di wilayah kepulauan agar tidak hanya mengandalkan bahan mentah, tetapi mampu mengolah potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Salah satu fokusnya adalah mengolah kelapa menjadi minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). Menariknya, tim memperkenalkan metode fermentasi menggunakan ragi tempe yang dikombinasikan dengan ekstrak bromelin dari buah nanas sebagai enzim alami untuk membantu mempercepat proses pemisahan minyak.

Bagi pelaku UKM, teknologi semacam ini bukan sekadar persoalan metode produksi. Efisiensi, biaya, kualitas, dan kemudahan penerapan menjadi hal yang sangat menentukan apakah sebuah inovasi benar-benar dapat digunakan dalam aktivitas usaha sehari-hari.

Ketua Tim Pelaksana, Dr. Rina Astarika, S.P., M.P., menjelaskan bahwa metode tersebut dipilih karena lebih efisien, murah, dan mudah diterapkan dibandingkan metode pemanasan konvensional.

“Sehingga dapat menekan biaya dan hasil yang diperoleh lebih baik dari segi kualitas dan kuantitas minyak,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima TribunnewsSultra.com, Minggu (9/8/2026).

Sebanyak 15 anggota dan pengurus UKM Ahbab Maju mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendengarkan pemaparan, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan VCO berbasis ragi tempe dan ekstrak bromelin nanas.

Dari proses tersebut, pembelajaran kemudian diperluas. Tim dosen turut memberikan pendampingan mengenai kelembagaan dan manajemen usaha agar kemampuan produksi yang diperoleh dapat menjadi fondasi bagi pengembangan UKM secara berkelanjutan.

Diskusi juga dilakukan mengenai pengembangan pasar dan peningkatan kualitas produk. Dengan begitu, pendampingan tidak berhenti pada pertanyaan “bagaimana membuat VCO”, tetapi bergerak lebih jauh menuju “bagaimana membuatnya menjadi usaha yang mampu bertahan dan berkembang”.

Ketua/Perwakilan UKM Ahbab Maju, Agus Dede, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan. Kehadiran perguruan tinggi menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam mengembangkan usahanya.

Bagi UT Kendari dan UHO, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi lintas institusi ini sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya hadir melalui ruang kelas, tetapi juga dapat berjalan bersama masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, lalu menghadirkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata.

Bagi masyarakat kepulauan, mengolah kelapa menjadi VCO bukan sekadar menghasilkan produk baru. Di dalamnya ada peluang untuk meningkatkan nilai hasil bumi, memperkuat usaha lokal, dan membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Melalui pendampingan UT Kendari dan UHO, potensi yang sebelumnya tersedia sebagai bahan mentah didorong menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas.

Dari Konawe Kepulauan, perjalanan kelapa menjadi sebotol VCO menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Dengan pengetahuan yang tepat, bahan yang tersedia di sekitar masyarakat, bahkan ragi tempe dan buah nanas dapat menjadi bagian dari jalan menuju usaha lokal yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.