UT Denpasar Susun Roadmap Pengabdian Masyarakat 2026–2030, Libatkan Pemerintah dan UMKM Bali

Di Klungkung, Bali, sebuah forum diskusi yang mempertemukan kampus, pemerintah, dan pelaku usaha kecil berlangsung dengan suasana yang cair namun penuh gagasan. Universitas Terbuka (UT) Denpasar hadir sebagai penggerak utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) sekaligus diseminasi hasil Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), yang tidak hanya menjadi ruang laporan akademik, tetapi juga ruang mendengar langsung kebutuhan masyarakat di lapangan. Dari forum inilah UT Denpasar menegaskan kembali perannya sebagai perguruan tinggi terbuka yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas sosial, menghadirkan pendidikan berkualitas yang dapat diakses tanpa batas oleh siapa pun, di mana pun.

Kegiatan yang digelar di Kabupaten Klungkung ini mempertemukan beragam pemangku kepentingan. Dari unsur pemerintah hadir Kepala Bidang Pengembangan Inovasi dan Pengelolaan KI Ira Damayanti, S.H., M.H., Ketua Tim Kerja Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual BRIDA Provinsi Bali Kadek Wisnu Bayupati, S.T., M.Si., serta jajaran BRIDA Kabupaten Klungkung seperti I Ketut Budiartha, S.H., M.Si. dan Pande Made Anggarnata. Dari UT Denpasar, hadir Direktur UT Denpasar Agus Tatang Sopandi, S.Sn., M.Pd., bersama tim dosen seperti Putu Ayu Anggya Agustina, Ni Putu Meri Dewi Pendit, Made Agus Suryadarma Prihantana, serta staf UT Denpasar lainnya. Pelaku UMKM, mahasiswa, hingga komunitas masyarakat turut terlibat aktif, menjadikan forum ini ruang kolaborasi yang hidup dan terbuka.

Sejak awal, UT Denpasar tidak hanya bertindak sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai pengarah diskusi yang memastikan setiap masukan dapat diterjemahkan menjadi rencana kerja yang terukur. Ketua Panitia FGD, Putu Ayu Anggya Agustina, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi pintu awal dalam penyusunan Roadmap PKM UT Denpasar 2026–2030. “Ini akan menjadi langkah awal dalam penyusunan roadmap PKM Universitas Terbuka yang selaras dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Melalui proses ini, UT berupaya memastikan pengabdian yang dilakukan tidak berjalan sendiri, melainkan benar-benar menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.

Peran UT Denpasar dalam kegiatan ini juga terlihat dari kemampuannya merangkul berbagai sektor untuk duduk bersama dalam satu ruang dialog. Dengan karakter sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh, UT memiliki keunggulan dalam menjangkau masyarakat luas, termasuk pelaku UMKM dan komunitas lokal di berbagai daerah. Melalui FGD ini, UT tidak hanya menyampaikan hasil pengabdian, tetapi juga mengumpulkan berbagai perspektif yang akan menjadi dasar perencanaan program yang lebih relevan, adaptif, dan berdampak.

Kegiatan ini turut didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) – World Class University (WCU), yang menjadi bagian dari upaya Universitas Terbuka dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Inisiatif ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, di mana kolaborasi menjadi kunci utama.

Direktur UT Denpasar, Agus Tatang Sopandi, menekankan bahwa hasil FGD ini akan menjadi pijakan penting dalam menentukan arah pengabdian ke depan. Ia menyebut bahwa UT ingin memastikan setiap kegiatan PKM memiliki basis data yang kuat dan tepat sasaran. “Dari hasil FGD ini akan didapat informasi akurat apa dan di mana pelaksanaan PKM yang akan dilaksanakan oleh UT Denpasar. Dengan adanya fokus khusus, sehingga kebermaknaan kegiatan lebih dirasakan masyarakat dan pemerintah khususnya di Bali,” paparnya.

Dalam forum tersebut, UT Denpasar juga memfasilitasi berbagai narasumber yang membahas isu strategis, mulai dari kebijakan Kekayaan Intelektual oleh BRIDA Bali, strategi branding produk oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, hingga perkembangan digitalisasi UMKM di Bali yang kini telah melibatkan ratusan ribu pelaku usaha. Semua pembahasan tersebut dirangkai UT menjadi satu alur diskusi yang saling terhubung, memperkuat posisi kampus sebagai penghubung antara pengetahuan dan kebutuhan pembangunan daerah.

Diskusi juga menyoroti potensi lokal Klungkung seperti Gula Dawan dan Lukisan Kamasan, yang menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi kreatif. Di titik ini, UT Denpasar berperan sebagai fasilitator yang mendorong agar potensi lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diperkuat melalui pendekatan akademik, perlindungan kekayaan intelektual, serta pengembangan nilai tambah ekonomi.

Pada akhirnya, kegiatan ini memperlihatkan bahwa Universitas Terbuka bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga ruang temu gagasan yang menghubungkan ilmu, masyarakat, dan kebijakan. Dari Klungkung, UT Denpasar kembali menegaskan perannya sebagai kampus terbuka yang menghadirkan pendidikan tanpa batas, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan memastikan bahwa pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, melainkan benar-benar kembali dan bermanfaat bagi masyarakat luas, sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang inklusif.