Tangerang Selatan, 10 Juni 2026 – Pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) kini menjadi salah satu pilar krusial dalam membentuk cara berpikir anak di era modern. Di Riau, kehadiran STEAM Center UIN Suska Riau terus konsisten bergerak menjadi motor penggerak literasi teknologi tersebut, khususnya dalam mengenalkan dasar-dasar digital yang sistematis kepada generasi muda.
Melihat urgensi tersebut, Universitas Terbuka (UT) yang membawa visi besar memberikan akses pendidikan berkualitas tanpa batas di semua kalangan, langsung mengambil langkah strategis. UT menggandeng STEAM Center UIN Suska Riau untuk berkolaborasi nyata turun ke lapangan menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di SDIT Bunayya Pekanbaru, Jumat (5/6/2026).
Langkah inklusif ini menjadi bukti bahwa UT tidak hanya fokus pada bangku perkuliahan tinggi, tetapi juga peduli mendobrak sekat teknologi sejak usia dini demi mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang siap bersaing global.
Direktur UPBJJ-UT Pekanbaru sekaligus Ketua Tim Pengabdian, Drs. Tedjo Djatmiko, M.Pd., menjelaskan bahwa acara ini merupakan implementasi nyata dari pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. UT ingin menunjukkan komitmennya bahwa pendidikan inovasi dan teknologi ramah digital harus bisa diakses dengan mudah oleh seluruh lapisan sekolah.
“Melalui kolaborasi ini, kami memperkenalkan pembelajaran interaktif berbasis teknologi tinggi yang dirancang agar ramah dan menyenangkan, baik bagi para peserta didik maupun tenaga pendidik di tingkat sekolah dasar,” ujar Tedjo.
Suasana ruang kelas di SDIT Bunayya seketika berubah riuh dan hidup saat para siswa mulai diperkenalkan langsung dengan perangkat canggih Kids First Koding dan Robotic. Anggota tim pengabdian, Susilawati, M.Pd., mengungkapkan bahwa pemilihan sekolah ini merupakan bagian dari akselerasi adaptasi teknologi di tingkat dasar. Lewat perlengkapan tersebut, anak-anak ditantang menyelesaikan berbagai misi menggunakan kode atau simbol visual.
“Tujuannya adalah melatih kemampuan berpikir kritis (computational thinking), pemecahan masalah (problem solving), dan kemampuan berkolaborasi sejak dini,” urai Susilawati.
Senada dengan hal itu, pakar pendidikan yang juga anggota tim pengabdian, Dr. Rian Vebrianto, M.Ed., menegaskan bahwa mengenalkan dunia robotika bukan sekadar mengikuti tren. Pendekatan STEAM terpadu ini terbukti menstimulus otak anak untuk terbiasa berpikir sistematis dan logis.
Upaya ini secara natural selaras dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) No. 4 mengenai Pendidikan Berkualitas, yang menjamin kesiapan anak-anak daerah menyongsong ekosistem digital dunia.
“Kemampuan computational thinking seperti ini sangat mahal harganya. Ini menjadi kunci utama agar anak-anak kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi di masa depan, melainkan mampu tumbuh menjadi pencipta dan inovator handal,” jelas Rian.
Sepanjang kegiatan, para siswa begitu antusias bahu-membahu merakit model, memahami fungsi sensor, gaya, gerak, logika bilangan, hingga memodifikasi desain tampilan robot mereka.
Apresiasi mendalam pun datang dari Kepala SDIT Bunayya Pekanbaru, Devi Indryani, S.Pd. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas fasilitas dan ilmu yang dibagikan secara inklusif oleh UT dan UIN Suska Riau.
“Kami sangat berterima kasih atas kesempatan berharga ini. Harapan kami, ilmu yang telah diberikan tidak berhenti di sini, melainkan dapat diimplementasikan langsung oleh guru-guru kami dalam proses pembelajaran harian di kelas,” tutur Devi. Sinergi antar-lembaga ini diharapkan menjadi modal utama dalam melahirkan generasi cerdas yang siap bersaing di masa depan.


