Di balik tembok tinggi Lapas Kelas I Madiun, secercah harapan baru tumbuh bagi warga binaan yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Pada Sabtu (27/9), Aula Saharjo menjadi saksi pelaksanaan pelatihan kewirausahaan bertajuk WEBE ENTREPRENEUR (Work, Empowerment, Business, Education) hasil kolaborasi antara Lapas Madiun dan Universitas Terbuka (UT) Surabaya.
Pelatihan ini ditujukan bagi warga binaan yang sedang menempuh studi S1. Tidak hanya memberi materi seputar dasar-dasar usaha dan pengembangan ide bisnis, kegiatan ini juga mendorong mereka menyiapkan masa depan lebih mandiri saat bebas nanti.
Kepala Lapas I Madiun, Andi Wijaya Rivai, menegaskan bahwa pendidikan menjadi kunci penting dalam proses pembinaan. “Kami ingin membekali WBP dengan keterampilan dan pengetahuan yang bisa mereka gunakan untuk membangun masa depan lebih baik. Pendidikan dan pelatihan seperti ini adalah investasi penting bagi keberhasilan reintegrasi sosial mereka,” ujarnya.
Program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh PBB, khususnya pada poin nomor 4 tentang pendidikan berkualitas, nomor 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta nomor 10 yang menargetkan pengurangan kesenjangan. Dengan menyediakan akses pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi warga binaan, program ini berkontribusi pada upaya menciptakan masyarakat inklusif yang berdaya dan adil. Melalui pemberdayaan keterampilan dan pengetahuan, para peserta diharapkan mampu keluar dari siklus kemiskinan dan stigma sosial, sekaligus membangun masa depan yang lebih mandiri dan produktif.
UT Surabaya turut menekankan pentingnya inklusivitas pendidikan. Dengan semangat “open university”, UT menghadirkan akses belajar tanpa batas, bahkan hingga ke dalam lembaga pemasyarakaan. Langkah ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menjadi alat perubahan sosial yang nyata.
Seorang peserta, D.S., mahasiswa S1 yang kini masih menjalani masa pidana, mengaku bersyukur dengan kesempatan ini. “Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan ini. Meski sedang menjalani masa pidana, saya tetap bisa belajar dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Pelatihan ini memberi semangat baru bagi saya untuk tidak menyerah,” ungkapnya.
Antusiasme peserta menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar teori, tetapi juga penggerak kehidupan. Dengan bekal kewirausahaan, para warga binaan memiliki peluang lebih besar untuk bangkit sebagai pribadi yang produktif ketika kembali ke masyarakat.
Sinergi ini menggambarkan bagaimana lembaga pemasyarakaan tidak lagi semata tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang membangun kembali masa depan. Kehadiran UT mempertegas bahwa akses pendidikan harus menjangkau semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini ikut mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif, berdaya, dan adil.
Proses dari langkah ini adalah terbukanya peluang reintegrasi sosial yang lebih baik, penurunan stigma terhadap warga binaan, serta hadirnya solusi pendidikan yang praktis dan berkelanjutan. Namun, tantangannya ada pada konsistensi program, dukungan berkelanjutan setelah bebas, dan bagaimana masyarakat menerima mereka kembali dengan tangan terbuka.
Terlepas dari itu, kerja sama Lapas Madiun dan UT Surabaya ini memberi pesan kuat: bahwa pendidikan mampu menembus sekat apa pun, termasuk jeruji besi.



