Mahasiswa UT Purwokerto Diingatkan: Lulus Kuliah Perlu Nilai, Menang Hidup Perlu Skill

PURBALINGGA – Minggu pagi biasanya identik dengan jeda sejenak dari rutinitas. Namun bagi sekitar 90 mahasiswa Sentra Layanan UT (SALUT) Perwira Purbalingga, Minggu (14/6/2026) menjadi ruang untuk menata ulang semangat: belajar, bekerja, bertahan, dan menyiapkan masa depan.

Melalui kegiatan “Kuliah Umum dan Bimbingan Akademik Persiapan UAS”, Universitas Terbuka (UT) Purwokerto tidak hanya hadir untuk memberikan arahan teknis menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menjadi mahasiswa UT bukan sekadar mengejar nilai, melainkan juga membangun daya tahan, karakter, dan kesiapan menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

Isu kesenjangan antara kualitas lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan besar, baik di tingkat nasional maupun global. Dunia kerja hari ini bergerak cepat. Perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan dengan indeks prestasi tinggi, tetapi juga pribadi yang mampu beradaptasi, berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan mengambil inisiatif.

Konteks inilah yang membuat kegiatan di SALUT Perwira Purbalingga terasa relevan. Sebab, sebagian besar mahasiswa UT menjalani perkuliahan dengan realitas yang tidak sederhana. Ada yang bekerja, mengurus keluarga, membagi waktu dengan tanggung jawab harian, namun tetap memilih melanjutkan pendidikan tinggi.

Kepala SALUT Perwira Purbalingga, Teguh, menyampaikan apresiasi kepada jajaran manajemen UT Purwokerto yang hadir langsung mendampingi mahasiswa. Menurutnya, kehadiran tersebut menjadi dorongan penting agar mahasiswa tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi UAS maupun proses perkuliahan.

“UT merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pelopor Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang sangat fleksibel dengan berbagai moda layanan berkualitas, seperti Tutorial Tatap Muka (TTM), Tutorial Web (TUWEB), hingga Tutorial Online (Tuton). Kami berharap mahasiswa memanfaatkan pembaruan (update) sistem ini dengan optimal untuk mendulang hasil terbaik di UAS nanti,” tutur Teguh.

Teguh juga berpesan agar mahasiswa terus menjaga pola pikir positif. Dalam sistem pendidikan jarak jauh, kemandirian menjadi kunci. Mahasiswa dituntut mampu mengatur ritme belajar, membaca peluang, dan tetap menjaga konsistensi meski berada di tengah berbagai kesibukan.

Pada sesi utama, Direktur UT Purwokerto menekankan bahwa mahasiswa UT perlu melihat kuliah sebagai jalan untuk memperluas kapasitas hidup. UAS memang penting, tetapi bekal menghadapi masa depan tidak berhenti pada ruang ujian. Mahasiswa juga perlu memiliki keberanian untuk tumbuh melalui berbagai peluang pengembangan diri.

UT Purwokerto mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti program nasional seperti Program Kewirausahaan Mahasiswa, Program Hibah Penelitian, serta Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Melalui program tersebut, mahasiswa dapat mengasah kemampuan menyusun gagasan, membaca persoalan, mencari solusi, sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

“Ini peluang nyata untuk mengasah keterampilan analitis. Bahan ajar kami sudah didesain dengan sangat bagus untuk membentuk karakter mandiri. Di tengah tantangan global, mahasiswa wajib menguasai dua fondasi penting: management diri dan management keuangan,” ungkap Direktur.

Selain peluang finansial dan akademik, Direktur juga menyoroti pentingnya fundamental skill, yakni keseimbangan antara hard skills dan soft skills. Mahasiswa perlu menguasai kemampuan teknis, tetapi juga tidak boleh mengabaikan integritas, komunikasi, adaptabilitas, kerja sama tim, serta kemampuan memecahkan masalah.

“Banyak lulusan sarjana yang belum terserap industri akibat minimnya soft skills. Dunia kerja hari ini jauh lebih menghargai lulusan yang berintegritas, penuh inisiatif, dan mampu bekerja sama dalam tim,” pungkas Direktur.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas kontribusi UT Purwokerto dalam mendukung pendidikan berkualitas dan peningkatan kesiapan kerja mahasiswa, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.

Dari Purbalingga, pesan itu terasa dekat dan membumi. Mahasiswa UT tidak hanya sedang menyiapkan diri untuk menghadapi UAS. Mereka sedang belajar memenangkan sesuatu yang lebih besar: masa depan yang mereka perjuangkan sendiri, satu modul, satu ujian, dan satu keberanian pada satu waktu.