Di tengah derasnya tren bisnis digital dan jargon ekonomi hijau yang berseliweran di media sosial, desa-desa ternyata sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih nyata: bagaimana caranya tetap bertahan, berkembang, dan tidak tertinggal zaman. Sebab di banyak tempat, Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesMa) dan pelaku UMKM desa masih berjibaku dengan urusan klasik—mulai dari tata kelola yang belum rapi, pemasaran yang belum maksimal, sampai literasi digital yang masih terseok-seok.
Kondisi itu yang coba disentuh Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Terbuka (UT) lewat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kabupaten Serang. Tidak sekadar datang membawa seminar formalitas, kegiatan ini justru mencoba menjahit satu hal yang sering kali tercecer dalam pembangunan desa: keberlanjutan.
Melibatkan pengurus BUMDesMa, pelaku UMKM desa, pemerintah daerah, hingga sektor perbankan dan pendidikan tinggi, program tersebut diarahkan untuk memperkuat pembangunan desa berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya bukan cuma soal ekonomi tumbuh, tetapi bagaimana desa bisa berkembang tanpa kehilangan daya tahan dan kemandiriannya.
Dosen Prodi Kewirausahaan FEB Universitas Terbuka, M. Adam Sudaryanto mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen kampus dalam mendukung pembangunan desa berbasis masyarakat melalui pendekatan yang ilmiah, praktis, dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini menjadi bentuk komitmen Program Studi Kewirausahaan FEB Universitas Terbuka dalam mendukung pembangunan desa berbasis masyarakat melalui pendekatan ilmiah, praktis, dan berkelanjutan,” ujar Adam dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).
Adam menilai, penguatan tata kelola BUMDesMa, pengembangan UMKM hijau, hingga pemanfaatan digitalisasi menjadi langkah penting untuk mendukung ekonomi desa yang lebih adaptif di tengah perubahan zaman.
“Pemberdayaan desa berbasis SDGs bisa melalui integrasi RPJM Desa, akselerasi UMKM hijau, dan literasi digital marketing,” katanya.
Di lapangan, tantangannya memang tidak sederhana. Banyak BUMDesMa masih menghadapi persoalan tata kelola organisasi yang belum optimal. Pengelolaan aset desa juga belum sepenuhnya terstandar, sementara akuntabilitas keuangan dan kemampuan digitalisasi UMKM desa masih perlu diperkuat.
Karena itu, kegiatan tersebut tidak berhenti di ruang diskusi semata. Ada upaya pendampingan yang diarahkan agar desa punya sistem usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Melalui program pendampingan ini, kami berupaya menghadirkan solusi komprehensif melalui penguatan tata kelola dan akuntabilitas BUMDesMa, optimalisasi pengelolaan aset desa,” kata Adam.
“Kami juga integrasikan RPJM Desa dengan target SDGs Desa, peningkatan kapasitas UMKM berbasis ekonomi hijau, penguatan literasi digital marketing, serta strategi pengelolaan dan investasi dana idle yang aman dan produktif,” sambungnya.
Senada dengan itu, Ketua Unit Kajian SDGs Desa Center PKN STAN, Tanda Setiya menyebut terdapat tiga fokus utama dalam kegiatan tersebut, yakni penguatan tata kelola, pengelolaan aset, dan akuntabilitas BUMDesMa untuk mendukung target SDGs Desa.
Sementara itu, perwakilan Bank Syariah Indonesia, Irma Junita memaparkan pendampingan investasi dana idle BUMDesMa agar dapat dimanfaatkan secara aman dan produktif untuk pembangunan desa berkelanjutan.
Kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Serang, Rudy Suhartanto itu turut dihadiri pengurus BUMDesMa se-Kabupaten Serang, pelaku UMKM desa, mitra kegiatan, hingga tim Pengabdian kepada Masyarakat dari PKN STAN dan Universitas Terbuka.
Di tengah tantangan ekonomi desa yang makin kompleks, kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi penting. Sebab membangun desa hari ini bukan lagi sekadar membangun jalan atau gedung, melainkan juga membangun kapasitas manusianya agar mampu bertahan di tengah perubahan. Dan dari ruang-ruang kecil di desa itulah, mimpi tentang pembangunan berkelanjutan perlahan mulai menemukan bentuknya.

