Bagi masyarakat di Desa Surya Mataram, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, hamparan kebun lada adalah urat nadi kehidupan. Saban hari, para petani di desa mitra ini mencurahkan peluh dan tenaganya demi merawat komoditas unggulan Lampung tersebut. Sayangnya, saat musim panen besar tiba, para petani kerap didera tantangan klasik pascapanen: proses perontokan buah lada yang masih dilakukan secara manual, sehingga menguras banyak waktu, biaya, dan tenaga kerja yang tidak sedikit.
Melihat realitas di akar rumput tersebut, Universitas Terbuka (UT) Bandar Lampung hadir membawa angin segar lewat solusi teknologi tepat guna. Melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar Sabtu (30/5/2026), UT resmi memperkenalkan mesin perontok lada inovatif untuk membantu efisiensi kerja para petani setempat.
Tidak tanggung-tanggung, mesin perontok lada yang diserahkan sebanyak dua unit kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) ini memiliki kapasitas mekanis yang masif, yakni mampu merontokkan hingga 1 ton lada per jam.
Ketua Tim PkM UT Bandar Lampung, Dr. Welli Yuliatmoko, S.T.P., M.Si, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang murni untuk memotong beban kerja pascapanen yang selama ini dirasa berat oleh petani lokal.
“Proses perontokan manual membutuhkan biaya relatif besar. Melalui inovasi mesin ini, kami berharap dapat meningkatkan efisiensi pascapanen, mengurangi beban kerja petani, serta mendongkrak daya saing lada di tingkat nasional,” ujar Welli.
Program pemberdayaan yang digulirkan sejak tahun 2023 hingga sekarang ini mendapatkan dukungan pendanaan penuh dari Program Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY) Times Higher Education (THE) Impact Ranking UT Tahun 2025–2026 yang dikelola oleh LPPM UT Pusat.
Langkah nyata ini merupakan investasi sosial UT dalam menyukseskan target Sustainable Development Goals (SDGs). Pengenalan teknologi pertanian ini secara natural berkelindan dengan SDG Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer keilmuan yang inklusif, SDG Poin 1 (Tanpa Kemiskinan), serta SDG Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) karena mampu mendorong produktivitas ekonomi warga desa secara berkeadilan.
Apresiasi mendalam pun datang dari Kepala Desa Surya Mataram, Ismail Subing, dan Ketua Gapoktan, Rasdui. Mereka menilai, kehadiran mesin berkapasitas tinggi ini memangkas ketergantungan pada tenaga kerja manual yang lambat, sehingga petani kini bisa lebih fokus menjaga kualitas hasil budidaya lada mereka.
Acara diseminasi ini juga diperkuat oleh pandangan narasumber dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Perkebunan Lampung Timur, Ir. Teguh Pujianto, serta pengamat lada dari Kelompok Masyarakat PRABU, Agus Susanto. Kolaborasi segitiga antara akademisi, pemerintah, dan kelompok tani di lapangan menjadi kunci utama keberhasilan ini.
Hadir mewakili LPPM UT Pusat, Dr. Ade Imelda Frimayanti, M.Pd.I, menegaskan bahwa sebagai perguruan tinggi negeri yang mengemban mandat pendidikan terbuka, UT berkomitmen memastikan hasil riset tidak hanya berakhir di perpustakaan, melainkan langsung menyentuh dan membawa dampak nyata demi meningkatkan kualitas hidup semua kalangan masyarakat tanpa sekat pembatas geografis.



