CFD Jalan Ijen yang biasanya dipenuhi warga untuk berolahraga dan menikmati akhir pekan, Minggu (31/5), mendadak menjadi ruang diskusi tentang masa depan pendidikan. Di tengah keramaian itu, booth Universitas Terbuka (UT) Malang tak pernah sepi pengunjung yang ingin mencari tahu peluang melanjutkan kuliah dengan cara yang lebih fleksibel.
Sejak pagi, booth informasi UT Malang ramai didatangi masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, pekerja, hingga para orang tua tampak antusias berkonsultasi mengenai program studi, biaya pendidikan, sistem pembelajaran, hingga proses pendaftaran mahasiswa baru.
Tak sedikit pengunjung yang datang dengan satu pertanyaan utama: bagaimana cara melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Melalui sesi konsultasi langsung, mereka mendapatkan informasi mengenai sistem pembelajaran jarak jauh yang selama ini menjadi ciri khas Universitas Terbuka.
Direktur UPBJJ-UT Malang, Rini Yayuk Priyati, S.E., M.Ec., Ph.D., mengatakan tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pendidikan tinggi yang fleksibel dan mudah diakses terus meningkat.
Menurutnya, Universitas Terbuka hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa dapat belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, UT hadir dengan sistem yang fleksibel sehingga masyarakat tetap dapat belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun aktivitas lainnya,” ujarnya.
Rini menjelaskan, saat ini Universitas Terbuka menjadi salah satu perguruan tinggi negeri dengan jumlah mahasiswa terbesar di Indonesia. Tercatat sekitar 800 ribu mahasiswa aktif mengikuti sistem pendidikan jarak jauh yang diterapkan UT. Sementara itu, di wilayah Malang terdapat sekitar 30 ribu mahasiswa aktif yang menempuh pendidikan melalui UT.
Selain menawarkan fleksibilitas belajar, UT juga terus memperkuat komitmennya sebagai kampus yang inklusif. Hal itu terlihat dari banyaknya orang tua yang mendatangi booth untuk mencari informasi pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
“Kami terbuka untuk semua kalangan. Pendidikan adalah hak setiap warga negara, sehingga kami berupaya memberikan layanan yang ramah, inklusif, dan mudah diakses siapa pun,” tegasnya.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, yang mendorong akses pendidikan yang inklusif dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
Keunggulan lain yang ditawarkan UT adalah biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Mahasiswa dapat menempuh pendidikan tinggi dengan biaya registrasi mulai sekitar Rp1,2 juta per semester, tergantung program studi yang dipilih.
Bagi masyarakat yang tertarik melanjutkan pendidikan, UT Malang masih membuka pendaftaran mahasiswa baru Tahun Akademik 2026. Jalur reguler dibuka hingga 22 Juli 2026, sedangkan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan alih kredit berlangsung hingga 4 Juni 2026.
Melalui partisipasinya dalam kegiatan CFD, UT Malang berharap semakin banyak masyarakat mengetahui bahwa pendidikan tinggi di perguruan tinggi negeri kini dapat diakses dengan lebih fleksibel, terjangkau, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.



