Tangerang Selatan – Universitas Terbuka (UT) membuktikan bahwa kualitas akademik tidak terhenti oleh batas geografis. Komitmen ini tampak nyata di Hotel Villa Bogor, Majene, di mana puluhan tutor dari berbagai penjuru Sulawesi Barat berkumpul untuk “naik kelas”. Selama tiga hari, mulai Sabtu (4/4/2026) hingga Senin (6/4/2026), UT Majene menggelar Pelatihan Tutor Tutorial Tatap Muka (TTM) yang intensif. Bukan sekadar pertemuan rutin, agenda ini adalah kawah candradimuka bagi para pengajar untuk memastikan bahwa mahasiswa di pelosok Sulawesi Barat mendapatkan standar ilmu yang sama hebatnya dengan mereka yang berada di pusat kota.
Langkah taktis ini menjadi penegasan bahwa bagi UT, akses pendidikan tinggi adalah hak semua kalangan yang harus dibarengi dengan kualitas instruksional yang mumpuni.
Direktur UT Majene, Devi Ayuni, S.E., M.Si., menekankan bahwa dalam sistem pendidikan terbuka, peran tutor sangatlah vital. Mereka adalah jembatan langsung yang menghubungkan kurikulum pusat dengan realitas di lapangan.
“Tutor merupakan wajah institusi sekaligus ujung tombak yang berhadapan langsung dengan mahasiswa. Kualitas tutorial sangat menentukan kepuasan dan keberhasilan belajar mereka,” ujar Devi saat membuka acara.
Upaya peningkatan kapasitas ini merupakan manifestasi nyata dari SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas). UT Majene memastikan bahwa inklusivitas pendidikan bukan hanya slogan, melainkan aksi nyata untuk mencetak SDM unggul di seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Keseriusan UT dalam menjaga mutu akademik terlihat dari hadirnya dua pakar dari UT Pusat. Prof. Dr. Sardjijo, M.Si., anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UT, membawa pesan mendalam mengenai filosofi pendidikan terbuka. Ia mengingatkan bahwa integritas dan standarisasi nilai adalah pondasi utama yang menjaga kepercayaan publik terhadap institusi.
Di sisi lain, Dr. Andy Sapta, S.Pd., M.Pd., M.Si., Ketua Program Studi Magister Teknologi Pendidikan UT, membedah sisi kreatif pembelajaran di era digital. Menurutnya, tutor harus mampu mengubah kelas tutorial menjadi ruang diskusi yang interaktif dan tidak membosankan.
“Di era digital ini, tutor dituntut mampu memanfaatkan berbagai media instruksional agar proses transfer ilmu tetap menarik dan mudah dipahami oleh mahasiswa dengan latar belakang yang beragam,” tutur Andy di sela-sela sesi tanya jawab yang dinamis.
Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada teori. Pada hari kedua dan ketiga, suasana berubah menjadi ajang pembuktian melalui Praktik Tutorial Mini. Para peserta ditantang untuk mensimulasikan cara mengajar yang efektif, mulai dari teknik memotivasi hingga cara penilaian yang objektif sesuai modul.
Pembekalan yang matang ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing tinggi di dunia kerja. Hal ini secara langsung mendukung SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan), di mana masyarakat di daerah memiliki peluang yang sama untuk bertumbuh secara ekonomi melalui pendidikan tinggi yang berkualitas.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan evaluasi menyeluruh sebelum para tutor diterjunkan ke berbagai titik layanan di Sulawesi Barat. Pesan besarnya jelas: bersama UT, pendidikan berkualitas kini benar-benar hadir tanpa batas untuk semua.



