Prestasi itu datang lebih dulu, membuka jalan bagi cerita yang lebih panjang. Dari Kalimantan Timur, nama Syawqi Novebrian Tole—yang akrab disapa Suki—mulai dikenal di tingkat provinsi hingga nasional. Ia terpilih sebagai Duta Inspirasi Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Batch 13, sebuah pencapaian yang menempatkannya sebagai representasi pemuda inspiratif daerah. Tak berhenti di sana, kepercayaan kembali datang ketika ia ditunjuk sebagai Project Director Duta Inspirasi Indonesia Batch 14 serta Branch Manager Duta Aksi Nusantara. Peran-peran strategis ini menjadikan Suki bukan sekadar peserta, melainkan penggerak program literasi dan pemberdayaan pemuda di berbagai wilayah.
Di balik deretan capaian tersebut, Suki adalah seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Terbuka (UT) di ICB Insan Cerdas Battiwakkal, Berau. Pilihan berkuliah di UT bukan tanpa alasan. Sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel memberinya ruang untuk tetap belajar tanpa harus meninggalkan aktivitas organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian sosial yang selama ini ia tekuni. Bagi Suki, UT bukan hanya tempat kuliah, melainkan ruang tumbuh—tempat ia belajar mengelola waktu, tanggung jawab, dan konsistensi.
Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Sebelum dikenal lewat berbagai prestasi, Suki lebih dulu akrab dengan kegagalan. Pada 2021, ia belum berhasil menembus tiga besar Duta Pelajar Sadar Hukum Kabupaten Berau dan tidak lolos seleksi Duta Baca SMA Negeri 2 Berau. Setahun berikutnya, hasil serupa kembali ia alami ketika belum masuk enam besar Duta Pelajar Sadar Hukum Provinsi Kalimantan Timur, bahkan kesempatan memperoleh beasiswa daerah pun sempat terlewat. Alih-alih berhenti, kegagalan-kegagalan itu justru menjadi titik balik—membentuk daya juang dan mental bertumbuh yang kelak membawanya melangkah lebih jauh.
Sebagai mahasiswa UT, Suki mempraktikkan nilai-nilai yang selama ini digaungkan kampusnya: kemandirian, keterbukaan, dan keberlanjutan belajar. UT memberinya akses pendidikan tinggi tanpa batas ruang dan waktu, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa kualitas tidak ditentukan oleh jarak geografis. Dari Berau, Suki membuktikan bahwa mahasiswa UT mampu bersaing secara nasional, berjejaring luas, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Dari semua kegagalan yang ada, aku terus meyakinkan diriku untuk berani memulai, berani berproses, dan berani gagal,” tutur Suki. Prinsip itu menjadi pegangan dalam setiap langkahnya. Ia percaya bahwa setiap pengalaman—baik berhasil maupun tidak—selalu meninggalkan pelajaran. Dengan motto “Belajar, Berdaya, Berdampak”, Suki menjadikan proses belajar di UT sebagai bahan bakar untuk kerja-kerja sosial yang lebih luas, khususnya di bidang literasi dan pemberdayaan pemuda.
Kisah Suki juga mencerminkan langkah UT dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek pendidikan yang inklusif dan berkualitas (SDG 4). UT membuka akses setara bagi mahasiswa di daerah untuk berkembang sesuai potensinya, tanpa harus meninggalkan konteks lokalnya (SDG 10). Dari akses itulah lahir prestasi, kepemimpinan, dan dampak sosial yang nyata.
Kisah Suki mengajarkan bahwa perjalanan menuju prestasi tidak selalu dimulai dari kemenangan, tetapi dari keberanian untuk bangkit setiap kali gagal. Ia membuktikan bahwa keterbatasan jarak, kesempatan yang sempat tertunda, bahkan penolakan berulang, bukanlah akhir dari mimpi. Dengan keyakinan pada proses, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian mengambil peran, siapa pun dapat menciptakan jalannya sendiri. Dari ruang belajar Universitas Terbuka hingga panggung pengabdian nasional, Suki memberi pesan sederhana namun kuat: ketika kita berani memulai dan konsisten berproses, prestasi dan dampak akan menemukan jalannya sendiri.


