Di tengah pemulihan pascabencana yang masih berlangsung di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ada satu hal yang terasa menguatkan warga di Sungai Landia: kehadiran langsung dari dunia pendidikan yang turun tangan tanpa sekat. Bukan sekadar membawa nama institusi, tetapi benar-benar hadir bersama masyarakat. Itulah yang dilakukan Universitas Terbuka melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kebencanaan pada Jumat (4/4/2026).
Sejak pagi, tim UT sudah berada di lokasi terdampak. Dipimpin langsung oleh Direktur UT Padang, Mery Berlian, rombongan ini tidak hanya datang untuk menyerahkan bantuan, tetapi juga memastikan bahwa apa yang dibawa benar-benar menjawab kebutuhan warga. Di tengah kondisi yang masih belum stabil, kehadiran UT menjadi semacam jembatan antara kepedulian akademik dan kebutuhan nyata di lapangan.
Peran UT di sini terasa kuat sejak awal. Sebagai perguruan tinggi yang dikenal dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT menunjukkan bahwa konsep “terbuka” bukan hanya soal akses belajar, tetapi juga tentang keterbukaan untuk hadir di tengah masyarakat kapan pun dibutuhkan. Dalam situasi darurat seperti ini, UT tidak menunggu, tetapi bergerak.
Di lapangan, warga yang terdampak masih berupaya menata ulang kehidupan mereka. Ada rumah yang belum bisa ditempati, akses air bersih yang terbatas, hingga kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi. Melihat kondisi itu, UT menyalurkan bantuan secara langsung berupa tenda lipat, pompa air (sanyo), dan jaket—tiga kebutuhan yang paling relevan untuk membantu warga bertahan di masa awal pemulihan.
Menariknya, proses penyaluran bantuan ini tidak dilakukan dari jauh atau sekadar simbolis. Tim PKM UT turun langsung, berinteraksi, dan menyerahkan bantuan dari tangan ke tangan. Di momen itu, peran UT bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi kemanusiaan yang hadir tanpa jarak.
Mery Berlian menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial UT yang melekat pada identitas perguruan tinggi. “Universitas Terbuka berkomitmen untuk tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, tetapi juga hadir memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap bantuan yang diberikan dapat membantu meringankan beban warga serta mendukung proses pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Jika dilihat lebih luas, peran UT dalam kegiatan ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 11 tentang komunitas yang tangguh dan berkelanjutan, serta SDG 17 tentang kemitraan. Namun di Sungai Landia, semua konsep itu tidak hadir sebagai teori—melainkan sebagai tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh warga.
Yang membuat kegiatan ini terasa berbeda adalah cara UT memosisikan dirinya: bukan sekadar pemberi bantuan, tetapi pendamping dalam proses pemulihan. UT hadir sebagai institusi yang memahami bahwa pendidikan dan kemanusiaan tidak bisa dipisahkan. Dari ruang kuliah digital hingga lokasi bencana, jangkauan UT tampak konsisten: menjangkau tanpa batas.
Menjelang akhir kegiatan, suasana di Sungai Landia perlahan berubah. Warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam proses bangkit ini. Dan di balik semua itu, UT meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar bantuan logistik—yakni kehadiran yang menunjukkan bahwa pendidikan bisa benar-benar turun ke tengah masyarakat, kapan pun dibutuhkan, di mana pun berada.



