Di tengah hiruk-pikuk kota-kota dunia tempat para pekerja migran Indonesia mengadu nasib, sebuah kabar baik datang dari dunia pendidikan. Universitas Terbuka (UT) terus memperluas jejak globalnya dengan menghadirkan layanan pendidikan tinggi bagi warga Indonesia di berbagai negara. Melalui Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UT-LLN), kampus negeri berbasis pembelajaran jarak jauh ini kembali menegaskan kehadiran internasionalnya dengan menggelar Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Semester 2025/2026 Genap di sejumlah wilayah dunia, mulai dari Hong Kong, Taiwan, hingga Timur Tengah.
OSMB ini bukan sekadar agenda akademik tahunan. Bagi ratusan mahasiswa Indonesia yang tinggal jauh dari tanah air, kegiatan tersebut menjadi pintu pertama untuk memulai perjalanan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan kehidupan mereka di luar negeri. Dengan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, UT memberikan ruang bagi siapa saja untuk terus belajar, meningkatkan kualifikasi, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih baik.
Di Hong Kong, sebanyak 101 mahasiswa baru UT-LLN mengikuti OSMB yang diselenggarakan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong. Kegiatan yang juga disiarkan secara daring melalui Zoom ini menjadi ruang pertemuan yang hangat bagi mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang, terutama pekerja migran Indonesia yang tetap berkomitmen melanjutkan pendidikan tinggi di tengah kesibukan bekerja.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tamu dan narasumber, di antaranya Konsul Penerangan, Sosial, dan Budaya KJRI Hong Kong Clemens Triaji Bektikusuma, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Terbuka Prof. Rahmat Budiman, Ph.D., serta Direktur UT-LLN, Dr. Pardamean Daulay, S.Sos., M.Si., bersama jajaran UT lainnya.
Direktur UT-LLN Pardamean Daulay menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang turut membantu menyebarluaskan informasi mengenai Universitas Terbuka kepada pekerja migran Indonesia di Hong Kong, terutama organisasi Astama Hong Kong dan Perma Hong Kong.
Berkat dukungan tersebut, jumlah mahasiswa UT di Hong Kong menunjukkan peningkatan positif. Pada semester 2025 tercatat sebanyak 80 mahasiswa baru, sedangkan pada semester 2026 jumlahnya meningkat menjadi 101 mahasiswa. Dengan demikian, total mahasiswa aktif UT-LLN di Hong Kong kini mencapai 365 orang.
“Selamat datang kepada 101 mahasiswa baru. Terima kasih telah mempercayakan pendidikan Anda kepada kami. Ini adalah pilihan yang tepat,” ujarnya. “UT memberikan kemudahan akses agar hak-hak pekerja migran tetap terlindungi, termasuk hak mendapatkan pendidikan tinggi,” tambahnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Rahmat Budiman menegaskan bahwa menjalani kuliah di Universitas Terbuka bukanlah hal yang mudah, terutama bagi mahasiswa yang juga bekerja penuh waktu. Namun menurutnya, tantangan tersebut justru menjadi pintu menuju keberhasilan.
Ia menekankan pentingnya kedisiplinan, manajemen waktu, serta kemampuan menyeimbangkan antara pekerjaan, belajar, dan waktu istirahat. “Saya bangga karena teman-teman masih memikirkan masa depan. Masa depan milik mereka yang mempersiapkannya,” tegasnya.
Semangat yang sama juga terasa di Taiwan. OSMB UT-LLN bagi mahasiswa baru di wilayah tersebut digelar pada 1 Maret 2026 di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei. Penyelenggaraan kegiatan tahun ini didukung oleh Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) di Taiwan yang mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan secara optimal melalui skema hybrid, menggabungkan pertemuan luring dan daring.
Acara tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Terbuka Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si., Direktur UT-LLN, Dr. Pardamean Daulay, Ketua SALUT Taiwan Mohammad Fadhil Rasyidin Parinduri, organisasi mahasiswa UT-LLN, Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan (HIMMAS), serta jajaran staf UT-LLN.
Dalam kesempatan tersebut, Mohammad Fadhil menyambut kehadiran 344 mahasiswa baru UT-LLN yang melakukan registrasi pada Semester 2025/2026 Genap di Taiwan. Ia menyoroti keberanian para mahasiswa dalam mengambil keputusan besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi di tengah dinamika kehidupan di luar negeri.
“Kalian sudah berani ambil keputusan yang besar. Di Taiwan, ritmenya cepat dan deadline datang tanpa permisi. Kalau ingin berkembang, harus siap disiplin,” ujarnya.
Menurut Pardamean Daulay, jumlah mahasiswa UT-LLN terus mengalami peningkatan yang signifikan. Dari sekitar 7.000 mahasiswa pada semester sebelumnya, kini jumlahnya mencapai 8.446 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.878 merupakan mahasiswa baru pada Semester 2025/2026 Genap, termasuk 344 mahasiswa yang berada di Taiwan.
Ia juga mengapresiasi peran SALUT Taiwan dan HIMMAS UT Taiwan dalam mendukung peningkatan jumlah mahasiswa sekaligus membantu kelancaran pelaksanaan OSMB. “Usaha yang baik ini harus kita pertahankan,” tuturnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UT Meirani Harsasi menilai keputusan para mahasiswa untuk tetap melanjutkan pendidikan tinggi di tengah kesibukan bekerja dan jarak geografis yang jauh dari Indonesia merupakan langkah yang luar biasa.
Menurutnya, konsep open and distance learning yang diterapkan UT memberikan kesempatan luas bagi siapa saja untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa batas ruang dan waktu. “Penentu keberhasilan menjadi mahasiswa UT adalah kemandirian, disiplin, dan motivasi diri Anda sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, OSMB bagi mahasiswa UT di wilayah Timur Tengah juga telah dilaksanakan secara daring pada 27 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh Prof. Dr. Muhammad Irfan Helmy, Lc., serta Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi, Layanan Jarak Jauh Prof. Dr. Paken Pandiangan.
Paken menegaskan bahwa para mahasiswa baru telah memilih institusi yang tepat. Universitas Terbuka merupakan perguruan tinggi negeri ke-45 milik pemerintah yang berdiri sejak 1984 dengan akreditasi institusi A, serta pengakuan internasional seperti ISO, AAOU, dan ICDE.
Sementara itu, Muhammad Irfan Helmy menekankan pentingnya integritas dalam proses belajar. Menurutnya, fleksibilitas sistem pembelajaran jarak jauh harus diimbangi dengan kedisiplinan serta kejujuran akademik.
“Integritas yaitu kejujuran bahwa apa yang diraih dari kegiatan belajar di UT itu adalah hasil daripada usaha sendiri,” tandasnya.
Bertambahnya jumlah mahasiswa UT di berbagai negara menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi kini semakin inklusif bagi masyarakat Indonesia di mana pun berada. Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata bagi semua.
Di tengah jarak ribuan kilometer dari tanah air, langkah para mahasiswa ini membuktikan satu hal: mimpi untuk meraih pendidikan tinggi tidak pernah mengenal batas geografis.



