Di sebuah apartemen kecil di Tokyo, Dewi, pekerja migran Indonesia, menyalakan laptopnya setelah seharian bekerja di restoran. Di layar kecil itu, ia mengikuti kuliah daring Universitas Terbuka (UT). Lelahnya tidak menjadi penghalang untuk menuntut ilmu. “Saya ingin pulang ke Indonesia bukan hanya dengan tabungan, tapi juga gelar sarjana,” katanya. Kisah Dewi adalah cerminan dari ribuan pekerja Indonesia di luar negeri yang memanfaatkan UT sebagai jembatan meraih pendidikan tinggi tanpa batas jarak, waktu, atau usia.
UT Layanan Luar Negeri (UT-LLN) hadir untuk menjawab kebutuhan ini. Unit khusus Universitas Terbuka ini tidak hanya melayani WNI di perantauan, tetapi juga Warga Negara Asing yang ingin meningkatkan kapasitas akademik. Sebelumnya dikenal sebagai Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Layanan Luar Negeri (UPBJJ-UT LLN), UT-LLN resmi berdiri pada Januari 2014 dan diresmikan 2 Juni 2014 oleh Rektor UT, Prof. Ir. Tian Belawati, sebagai UPBJJ-UT ke-39. “Karena karakteristiknya yang khas, UPBJJ-UT LLN diubah menjadi Pusat Pengelolaan Mahasiswa Luar Negeri (PPMLN) dan kini menjadi UT-LLN setelah UT bertransformasi menjadi PTNBH pada 2023,” ujar Direktur UT-LLN, Dr. Pardamean Daulay.
Peran UT-LLN sangat strategis. Unit ini mengelola seluruh layanan mahasiswa di luar negeri mulai dari sosialisasi, registrasi, pembelajaran daring, hingga ujian akhir. UT-LLN juga dibantu UT daerah terdekat seperti Medan, Batam, Pontianak, dan Tarakan, agar setiap mahasiswa tetap mendapatkan layanan maksimal. “UT membuka kesempatan belajar seluas-luasnya. Siapa pun bisa kuliah, tanpa dibatasi lokasi atau pekerjaan,” kata Pardamean.
Hasilnya nyata. Semester ini, UT-LLN mencatat lebih dari 8.000 mahasiswa, naik dari 7.000 tahun lalu, bahkan melebihi target yang diberikan Rektor UT. Dukungan dari KBRI, KJRI, dan KDEI turut memperkuat proses perekrutan mahasiswa, ujian, hingga wisuda. Sistem daring UT memungkinkan pekerja migran belajar sambil bekerja, sehingga ketika pulang ke Indonesia mereka membawa pengalaman kerja sekaligus gelar sarjana yang bisa digunakan untuk CPNS, berwirausaha, atau menempati posisi strategis di perusahaan.
Jepang menjadi negara dengan jumlah mahasiswa terbanyak, sekitar 3.000 mahasiswa dari 55 negara, diikuti Korea dan Taiwan. Kesadaran bahwa kontrak kerja di luar negeri tidak selamanya mendorong para pekerja menyiapkan diri dengan pendidikan. UT-LLN menjalin kerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker RI), Kementerian Perlindungan Pekerja Migran (KP2M), dan Japinda agar mahasiswa magang tetap bisa kuliah tanpa hambatan dan memiliki peluang kerja lebih luas di Jepang.
Melalui UT-LLN, Universitas Terbuka membuktikan perannya sebagai institusi yang memberikan pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas, menjangkau mahasiswa di seluruh dunia. Fleksibilitas UT menjadi kunci agar generasi pekerja Indonesia bisa meraih masa depan lebih baik. Pendidikan yang diberikan UT tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Seperti Dewi, ribuan pekerja migran kini bisa pulang ke tanah air bukan hanya dengan tabungan, tapi juga gelar dan kompetensi yang membuka lebih banyak peluang.



