Tiga Hari yang Mengubah Desa, Mahasiswa UT Bangun Kesadaran Agar Anak-Anak Tumbuh Lebih Sehat!

BANGKA TENGAH — Di sebuah pagi yang tenang di Desa Tanjung Gunung, langkah-langkah mahasiswa Universitas Terbuka (UT) terdengar ringan tapi penuh arti. Mereka datang bukan membawa janji, melainkan aksi — menghadirkan pengetahuan, kepedulian, dan harapan agar anak-anak desa tumbuh tanpa ancaman stunting.

Selama tiga hari, 10–13 November 2025, para mahasiswa ini meninggalkan rutinitas kuliah jarak jauh untuk benar-benar turun ke lapangan. Mereka menyatu dengan warga, belajar langsung tentang persoalan gizi, dan menemukan makna baru tentang bagaimana ilmu bisa hidup dan memberi dampak.

“Pencegahan stunting itu dimulai dari rumah,” ujar Usmanto, koordinator kegiatan. “Dari pola makan ibu hamil, sampai bagaimana orang tua memperhatikan gizi anak di tahun-tahun pertama kehidupannya.”

Balai Desa Tanjung Gunung yang biasanya sepi berubah menjadi ruang belajar bersama. Di sana, mahasiswa UT bekerja bahu-membahu dengan bidan desa dan kader posyandu mengadakan penyuluhan, permainan edukatif, hingga pendampingan langsung bagi keluarga yang memiliki balita.

Tak berhenti di teori, mahasiswa UT juga menggandeng puskesmas setempat untuk membagikan paket susu bergizi dan membuka sesi konsultasi kesehatan gratis. Langkah sederhana itu membuka mata banyak warga bahwa menjaga gizi bukan perkara sulit, asal ada kesadaran dan kebersamaan. “Kami tidak hanya bicara, kami ingin warga bisa langsung praktik dan merasakan manfaatnya,” tambah Usmanto.

Kehangatan dan keakraban tercipta sepanjang kegiatan berlangsung. Suasana yang awalnya canggung berubah menjadi ruang saling belajar—antara mahasiswa dan masyarakat, antara ilmu dan pengalaman hidup.

Kepala Desa Tanjung Gunung mengaku bangga atas semangat para mahasiswa tersebut. “Kehadiran mahasiswa UT memberi warna baru di desa kami. Mereka datang bukan hanya dengan teori, tapi dengan hati,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat di Universitas Terbuka. Melalui kegiatan seperti ini, UT menegaskan komitmennya untuk menjembatani dunia akademik dengan realitas sosial, agar mahasiswa mampu berpikir kritis sekaligus empatik terhadap tantangan masyarakat.

Langkah yang dilakukan para mahasiswa UT ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang serta peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Kini, setelah kegiatan berakhir, jejak kebermanfaatan itu tertinggal di Desa Tanjung Gunung. Para ibu kini lebih sadar pentingnya asupan gizi, anak-anak tumbuh dengan harapan baru, dan masyarakat merasakan bahwa perubahan tak selalu datang dari program besar — kadang cukup dimulai dari sekelompok mahasiswa yang datang dengan niat tulus untuk berbagi.

“Yang kami dapat di sini jauh lebih berharga dari nilai akademik,” kata Usmanto menutup kegiatan. “Kami belajar bahwa perubahan besar bisa lahir dari tempat kecil — asal dilakukan bersama dan dengan hati.”

Dari sudut kecil Pulau Bangka, mahasiswa UT membuktikan: ilmu bukan hanya untuk dipelajari, tapi untuk menghidupkan harapan. Dan mungkin, dari senyum satu anak yang kini tumbuh sehat, masa depan bangsa sedang disemai perlahan.