Akses Pendidikan Tinggi Kian Inklusif, UT Surakarta dan SLB Baturetno Bangun Harapan Baru

Di sebuah sudut desa di Baturetno, harapan tentang bangku kuliah tak lagi terasa sejauh mimpi. Selasa (24/2/2026), Universitas Terbuka Surakarta resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan SLB Mulatsarira Baturetno. Langkah ini menjadi sinyal bahwa akses pendidikan tinggi tidak berhenti pada batas kota, kondisi fisik, maupun keterbatasan ekonomi.

Direktur UT Surakarta, Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si., menegaskan kerja sama ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi komitmen jangka panjang agar siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendampingan hingga menyelesaikan studi.

“Kami hadir untuk memastikan anak-anak ini bisa kuliah, didampingi, dan lulus dengan baik. Itu komitmen kami,” ujar Agus Joko Purwanto.

Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan mandat Universitas Terbuka sebagai perguruan tinggi negeri yang menjangkau masyarakat yang belum terlayani pendidikan tinggi, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedesaan dan memiliki keterbatasan fisik. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, UT menghadirkan ruang belajar yang lebih fleksibel dan adaptif.

“UT didirikan untuk membuka akses seluas-luasnya dengan nilai inklusivitas. Anak-anak desa dan siswa berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi. Sistem pembelajaran jarak jauh yang kami miliki dirancang untuk menjawab kebutuhan itu,” tegasnya.

Menurutnya, fleksibilitas pembelajaran memungkinkan mahasiswa tetap produktif tanpa harus meninggalkan realitas sosialnya.

“Mereka bisa bekerja, magang, bahkan membantu keluarga sambil tetap menjalani studi. Pendidikan tinggi hadir berdampingan dengan aktivitas keseharian mahasiswa,” katanya.

Dalam konteks layanan difabel, UT Surakarta menyatakan kesiapan melayani mahasiswa tuna daksa dan tuna rungu. Untuk layanan bagi tuna netra, pihak kampus masih memerlukan penyesuaian materi dan teknologi pendukung yang akan dipersiapkan secara bertahap.

Tak hanya jalur akademik, UT Surakarta juga membuka sekolah vokasi sebagai alternatif bagi siswa yang ingin memperkuat keterampilan praktis dan meningkatkan daya saing.

“Kami telah membuka sekolah vokasi. Jika ada siswa yang berminat dan memenuhi kriteria, kami siap memfasilitasi agar keterampilan mereka semakin terarah dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.

Kepala SLB Mulatsarira Baturetno, Ria Widhiastuti, menyampaikan kerja sama ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Banyak lulusan SLB kesulitan melanjutkan pendidikan karena jarak perguruan tinggi dan keterbatasan biaya.

“Kami mempunyai anak-anak yang hebat. Sekolah kami kecil dan berada di desa, cukup jauh dari perguruan tinggi. Banyak orang tua menyampaikan anak-anak mereka kesulitan melanjutkan kuliah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan kepercayaan diri yang kerap membayangi lulusan SLB.

“Sering kali bukan hanya soal biaya, tetapi rasa percaya diri. Mereka merasa berbeda, padahal kemampuan mereka tidak kalah,” katanya.

Ria mencontohkan dua lulusan yang kini menempuh studi Manajemen di UT Surakarta dan menunjukkan perkembangan positif. Seorang siswa mampu memperbaiki instalasi dan peralatan teknis, sementara siswi lainnya mengajar menjahit dan membuat kerajinan dari barang bekas serta membantu guru sebagai pelatih di tingkat cabang dinas.

“Adik-adiknya jadi punya gambaran bahwa mereka juga bisa kuliah. Mereka melihat kakaknya mampu, lalu tumbuh semangat untuk mengikuti,” ujarnya.

Saat ini, SLB Mulatsarira Baturetno memiliki 105 siswa dari jenjang SDLB hingga SMALB, dengan sekitar 15–20 siswa di tingkat SMA. Meski fasilitas terbatas, sekolah tersebut mencatat prestasi pada 2025 dengan meraih Penghargaan Harapan II pada Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta peringkat lima kejuaraan nasional bidang seni tari.

“Prestasi ini membuktikan bahwa anak-anak kami punya daya saing. Kami hanya membutuhkan akses yang lebih luas agar potensi mereka terus berkembang,” pungkas Ria.

Kerja sama ini memperkuat semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas, pengurangan ketimpangan, dan pekerjaan layak. Dari desa, harapan itu kini tumbuh semakin nyata bahwa setiap anak berhak bermimpi dan mewujudkannya melalui pendidikan tinggi.