Pantun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Muhammad Sarbaini. Melalui kepiawaiannya merangkai kata, ia dikenal luas sebagai Rahmat Pantun, penggiat budaya asal Riau yang konsisten memperkenalkan pantun Melayu ke ruang publik. Bagi Rahmat, pantun bukan sekadar seni tutur, tetapi warisan budaya yang memuat nilai moral, etika, dan identitas masyarakat Melayu yang perlu terus dijaga dan diwariskan.
Kiprah Rahmat dalam melestarikan pantun telah membawanya tampil di berbagai kegiatan budaya dan menjangkau audiens yang lebih luas melalui media digital. Konsistensinya menjadikan pantun tetap relevan di tengah perubahan zaman dan mendekatkan generasi muda pada tradisi yang sarat makna. Pantun yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda dunia menjadi medium bagi Rahmat untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga akar budaya di tengah arus globalisasi.
Kesadaran akan perlunya penguatan pengetahuan mendorong Rahmat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Pariwisata Universitas Terbuka. Pilihan tersebut didasarkan pada keyakinannya bahwa pelestarian budaya perlu didukung oleh pendekatan ilmiah dan pengelolaan yang berkelanjutan. Melalui pendidikan pariwisata, Rahmat ingin mengembangkan potensi budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
UT memberikan ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan Rahmat. Sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel memungkinkan dirinya tetap aktif menjalankan peran sebagai penggiat budaya, sekaligus menempuh pendidikan tinggi secara mandiri dan terstruktur. Model ini sejalan dengan semangat pemerataan akses pendidikan tinggi yang menjadi komitmen UT.
Sebagai mahasiswa, Rahmat memadukan pengalaman lapangan yang telah dimilikinya dengan teori dan konsep yang diperoleh di bangku kuliah. Ia memandang pendidikan sebagai sarana untuk memperkuat kontribusi nyata di masyarakat. Pengetahuan pariwisata yang dipelajarinya diharapkan mampu mendorong pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis kearifan lokal.
Langkah Rahmat mencerminkan kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pendidikannya di Universitas Terbuka, Rahmat berkontribusi pada SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, dengan menunjukkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat dapat ditempuh oleh siapa saja. Kiprahnya dalam melestarikan pantun dan budaya Melayu juga selaras dengan SDGs poin 11, khususnya dalam upaya menjaga warisan budaya dan identitas lokal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Bagi Universitas Terbuka, perjalanan Rahmat Pantun menjadi gambaran nyata peran institusi pendidikan dalam mendukung mahasiswa yang telah berprestasi di tengah masyarakat. UT hadir sebagai mitra strategis dalam mengembangkan potensi mahasiswa agar mampu memberi dampak lebih luas. Melalui sinergi antara prestasi budaya dan pendidikan tinggi, UT terus mendorong lahirnya sumber daya manusia yang berdaya saing, berkarakter, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.



