Tantangan Terbesar Bukan Tugas, Tapi Waktu: Strategi UT Surabaya Dampingi 5.000 Mahasiswa Baru

Di sela jam kerja yang padat, notifikasi rapat yang tak henti berbunyi, dan tanggung jawab keluarga yang tak bisa ditunda, ribuan mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Surabaya memilih satu keputusan berani: kembali duduk di “bangku kuliah”, meski tanpa ruang kelas fisik. Semester ini, sekitar 5.000 mahasiswa baru memulai perjalanan akademiknya dengan satu tantangan utama, yakni bagaimana menaklukkan manajemen waktu agar bisa lulus tepat waktu.

Untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian, UT Surabaya memperkuat pendampingan melalui Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh (LPKBJJ) dan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) yang digelar secara daring maupun luring. Langkah ini menjadi fondasi awal agar mahasiswa mampu memahami sistem pembelajaran jarak jauh sekaligus menyusun strategi belajar yang realistis sejak hari pertama.

Direktur UT Surabaya, Dr. Suparti, M.Pd., menyebut antusiasme peserta OSMB pada semester ini cukup tinggi. OSMB tahap kedua diikuti sekitar 4.000 mahasiswa secara daring dan 650 mahasiswa secara luring. Sebelumnya, pada tahap pertama terdapat 725 mahasiswa yang mengikuti secara luring. “Alhamdulillah OSMB tahap kedua ini diikuti sekitar 4.000 mahasiswa secara online dan 650 mahasiswa secara offline. Sebelumnya pada tahap pertama ada 725 mahasiswa yang mengikuti secara luring, sehingga total peserta mencapai sekitar 5.000-an mahasiswa baru semester ini,” ujarnya.

Jumlah tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang fleksibel. Namun, fleksibilitas dalam sistem pembelajaran jarak jauh juga menuntut disiplin dan kemandirian yang kuat. Karena itu, pembekalan dalam OSMB tidak sekadar seremoni pengenalan kampus.

Pada hari pertama, mahasiswa diperkenalkan pada sistem pembelajaran, layanan akademik, hingga mekanisme ujian. Tahapan ini penting agar mahasiswa memahami alur studi secara menyeluruh dan tidak mengalami kebingungan saat perkuliahan berjalan.

Berlanjut ke tahap berikutnya, mahasiswa mengikuti pelatihan keterampilan belajar jarak jauh, workshop tugas, serta klinik ujian. Pendekatannya dirancang praktis dan aplikatif. “Mahasiswa juga dilatih menyusun rencana belajar secara terstruktur. Mereka diajak mengatur waktu belajar dari Senin hingga Minggu sesuai aktivitas kerja atau kesibukan masing-masing,” jelas Suparti.

Manajemen waktu menjadi tantangan utama, mengingat mayoritas mahasiswa UT Surabaya merupakan pekerja aktif. Tanpa perencanaan yang matang, beban pekerjaan dan studi berpotensi saling berbenturan.

Selain itu, mahasiswa juga dibekali teknik membaca efektif untuk memahami modul pembelajaran yang cukup tebal. Mereka tidak hanya diminta membaca, tetapi juga diajarkan membuat catatan ringkas dan sistematis. “Setelah membaca, mereka diajarkan membuat catatan pembelajaran sehingga saat menghadapi ujian tidak perlu membuka modul kembali, cukup menggunakan catatan yang sudah disusun,” tambah Suparti.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan akademik sekaligus kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi evaluasi pembelajaran.

Saat ini, tingkat kelulusan tepat waktu mahasiswa UT Surabaya berkisar 60 persen. Angka tersebut menunjukkan capaian yang cukup baik, namun tetap menjadi ruang evaluasi untuk terus ditingkatkan. “Sebagian besar mahasiswa UT adalah pekerja, sehingga tantangan utamanya adalah manajemen waktu. Karena itu sejak awal kami bantu mereka merencanakan jadwal belajar yang realistis sesuai aktivitas harian,” katanya.

Untuk memperkuat dukungan, UT Surabaya juga menyediakan layanan konsultasi akademik dengan dosen sesuai bidang studi. Mahasiswa dapat berkonsultasi terkait materi maupun kendala yang dihadapi selama proses belajar.

Komitmen ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Melalui sistem pendidikan jarak jauh yang inklusif, UT Surabaya membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat luas, termasuk para pekerja yang ingin meningkatkan kompetensi tanpa meninggalkan pekerjaannya.

“Kami berupaya mendampingi mahasiswa sejak awal, mulai dari perencanaan belajar hingga pelaksanaan ujian, agar mereka dapat menyelesaikan studi dengan baik dan tepat waktu,” pungkas Suparti.

Di tengah ritme hidup yang kian cepat, pendampingan ini menjadi penegasan bahwa kuliah jarak jauh bukan sekadar fleksibel, tetapi juga terarah. Sebab di balik layar laptop masing-masing, ada ribuan mimpi yang sedang diperjuangkan — dan UT Surabaya memilih hadir untuk memastikan mimpi itu tidak berhenti di tengah jalan.