Pukul empat pagi, Sarwono memulai aktivitasnya menata bunga tabur di lapak di pinggir Jalan Lawu, Karanganyar. Di waktu yang hampir bersamaan, di kediaman keluarga di Dusun Papahan, Gideon Permadi mengatur waktu belajarnya. Pagi hari kerap ia manfaatkan untuk membaca modul dan menyelesaikan tugas kuliah sebelum aktivitas keluarga dimulai. Dengan sistem pembelajaran yang fleksibel, proses belajar Gideon dapat berjalan seiring dengan dinamika kehidupan keluarga.
Sarwono (61) dan istrinya, Tjahjadi Widyawati (55) atau Ipung, menjalani usaha bunga tabur “Sekar Jaya” di RT 08 RW 05 Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu. Usaha keluarga ini menjadi bagian dari keseharian mereka sekaligus mendukung proses pendidikan anak bungsu yang kini menempuh kuliah di Universitas Terbuka.
Perjalanan Gideon menuju bangku kuliah dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan keluarga. Sarwono, pensiunan pengawas SPBU, sempat menjalani usaha warung makan pada 2010 sebelum kemudian memusatkan kegiatan pada usaha bunga tabur sejak 2020. “Kami memilih untuk menutup warung makan dan melanjutkan usaha bunga tabur agar lebih sesuai dengan kondisi keluarga saat itu,” ujar Sarwono saat ditemui, Kamis (5/2/2025).
Dalam mempertimbangkan pilihan pendidikan tinggi, Gideon dan keluarganya menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Universitas Terbuka menjadi salah satu pilihan yang memungkinkan Gideon melanjutkan pendidikan tinggi secara fleksibel. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, UT memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara mandiri, mengatur waktu belajar, serta tetap dekat dengan keluarga.
Sebagai mahasiswa Sosiologi Universitas Terbuka, Gideon menjalani aktivitas belajar dengan ritme yang menyesuaikan kehidupan keluarganya. Perkuliahan dapat diikuti dari rumah, sementara ujian dan tugas diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pola pembelajaran ini memberi ruang bagi Gideon untuk menjalani pendidikan tinggi secara terencana dan berkelanjutan.
Di sela aktivitas Sarwono dan Ipung berjualan bunga sejak pukul 04.00 WIB hingga menjelang Maghrib, Gideon menata waktu belajarnya secara mandiri. Pada momen tertentu, seperti tradisi nyadran atau malam Jumat Kliwon ketika aktivitas penjualan meningkat, Gideon melihat peran dan kerja keras orang tuanya sebagai bagian penting dalam perjalanan pendidikannya. Melalui sistem pembelajaran Universitas Terbuka, ia tetap dapat menjaga fokus belajar secara terencana dan seimbang dengan kehidupan keluarga.
“Alhamdulillah, melalui usaha yang kami jalani, kedua anak kami dapat menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi,” ujar Sarwono. Anak sulung mereka, Elia Rahayu Andryawati (28), saat ini bekerja di Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI di Semarang. Sementara itu, Gideon masih menjalani proses pendidikan, menyiapkan masa depan dengan bekal ilmu yang diperolehnya di Universitas Terbuka.
Saat aktivitas berjualan usai, Sarwono dan Ipung kembali ke rumah setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Bagi mereka, setiap proses yang dijalani merupakan bagian dari upaya mendukung pendidikan anak-anaknya. Dalam perjalanan tersebut, Universitas Terbuka menjadi institusi pendidikan yang mendampingi Gideon untuk terus melanjutkan studi dan menata masa depannya secara bertahap.



