Sejak subuh, Julia Monic Fadhila—akrab dipanggil Monic—sudah terlihat sibuk di pasar tradisional Desa Sulang, Rembang. Dengan apron sederhana dan senyum ramah, ia melayani pembeli ayam potong yang menjadi usaha keluarganya. Aktivitas ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari perjalanan hidupnya membangun kemandirian, sambil tetap mengejar pendidikan tinggi.
Monic lahir pada 20 Juli 2000 di Rembang. Saat ini, ia sedang menempuh semester VIII Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Terbuka (UT). Kehidupan sehari-harinya cukup padat: pagi hari di pasar membantu orang tua, siang bekerja di BPR Saribumi Cabang Lasem, dan di sela-sela itu mengikuti perkuliahan daring di UT. “Banyak orang bilang, ‘masih muda kok jualan di pasar?’ atau ‘kuliah kok jualan di pasar?’ Tapi saya tidak peduli,” katanya. Bagi Monic, selama usaha yang dijalankan halal dan bermanfaat, tidak ada kata malu.
Yang membuat semua ini bisa berjalan adalah fleksibilitas yang ditawarkan oleh UT. Sistem belajar daring memungkinkan Monic kuliah tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya di pasar atau pekerjaan kantornya. Ia bisa mengakses materi kuliah dari rumah, belajar sesuai jadwalnya sendiri, dan tetap mengikuti ujian dan tugas tepat waktu. “Kalau bukan karena UT, saya mungkin sulit membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan membantu orang tua. Dengan UT, saya tetap bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa mengorbankan kegiatan lain,” ujarnya.
Berjualan di pasar bukan selalu mudah. Ketika ramai, Monic merasa semangatnya melonjak, tapi ketika pembeli sepi, hatinya sempat terasa berat. “Kalau sepi kadang jadi down. Tapi saya selalu ingat, ada kalanya ramai, ada kalanya sepi. Yang penting tetap disyukuri dan telateni,” jelasnya. Pengalaman ini mengajarkan Monic kesabaran, ketekunan, dan manajemen waktu—nilai-nilai yang juga sangat berguna dalam studi hukum di UT.
Bagi Monic, kuliah di UT bukan sekadar mengejar gelar. Pendidikan yang fleksibel ini memberinya kesempatan meraih ilmu, sekaligus tetap aktif berwirausaha dan membantu keluarga. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang memberi manfaat bagi orang lain. “Berwirausaha mengajarkan saya bahwa kesuksesan bukan hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang bagaimana kita bisa membantu orang tua dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Kisah Monic sejalan dengan misi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, SDGs 5 tentang kesetaraan gender, dan SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Dengan UT, pendidikan tinggi tidak lagi terbatas oleh lokasi, waktu, atau latar belakang ekonomi. Generasi muda seperti Monic bisa menempuh pendidikan sambil tetap produktif, tanpa harus mengorbankan tanggung jawab keluarga.
Dari pasar tradisional hingga perkuliahan daring, Monic menempuh pendidikan dengan ritme yang menyesuaikan kehidupan sehari-harinya. Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel, Universitas Terbuka memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk terus belajar, bekerja, dan merencanakan masa depan secara berkelanjutan.


