Pendidikan Tanpa Batas: Saat UT Purwokerto Mengubah Literasi IT Menjadi Peluang Kerja

Kabut tipis sering kali menyapa pagi di Purwokerto, seorang mahasiswa duduk terpaku di depan layar gawai miliknya. Tangannya lincah menari di atas papan ketik, sementara pikirannya melanglang buana menembus batas-batas geografis yang dulu sempat ia kira sebagai penghalang cita-cita. Inilah potret keseharian mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Purwokerto—mereka yang menolak menyerah pada keadaan dan memilih untuk menjadi tangguh di tengah keriuhan dunia yang serba digital.

Bagi masyarakat di “Kota Satria”, menempuh pendidikan tinggi terkadang bukan perkara mudah. Banyak di antara mereka yang harus membagi waktu antara bekerja di ladang, menjaga toko di pasar, hingga mengurus rumah tangga. Namun, kehadiran UT Purwokerto seolah menjadi oase, membuktikan bahwa akses pendidikan berkualitas kini tak lagi tersekat oleh dinding-dinding kelas konvensional. Pendidikan kini telah menjadi milik semua orang, merasuk hingga ke pelosok-pelosok desa di Banyumas dan sekitarnya.

Suasana hangat itu kian terasa pada Kamis (15/1/2026), saat puluhan mahasiswa dari berbagai latar belakang berkumpul di Ruang Tutorial Kantor UT Purwokerto. Mereka hadir untuk mengikuti penguatan bertajuk “Menjadi Mahasiswa Tangguh di Era Disrupsi: Adaptif, Inovatif, Kolaboratif”. Meski berasal dari program studi yang berbeda—mulai dari Pariwisata, Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), hingga Ekonomi Pembangunan—mereka membawa satu kegelisahan yang sama: bagaimana cara bertahan di era yang kini dikuasai oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Hadir di tengah-tengah mereka, Sekretaris Majelis Wali Amanat UT, Dr. Ake Wihadanto, S.E., M.T., memberikan wejangan yang menyejukkan sekaligus membakar semangat. Ia memandang bahwa mahasiswa UT memiliki “DNA” spesial. Sejak awal, mereka sudah ditempa untuk mandiri secara teknologi, “Karena mahasiswa UT punya keunggulan dalam IT dan sudah terbiasa menggunakan IT sebagai media pembelajaran, ini menjadi nilai tambah tersendiri,” ujar Ake dengan penuh keyakinan. Pesan ini bukan sekadar motivasi, melainkan pengakuan bahwa sistem belajar jarak jauh telah mencetak generasi yang lebih siap menghadapi tantangan global.

Ake juga mengingatkan agar para mahasiswa tidak melupakan aspek bahasa asing dan kemampuan komunikasi. Baginya, teknologi adalah mesin, namun bahasa adalah jembatan hati untuk menjangkau pasar kerja internasional. Literasi digital dan penguasaan bahasa asing inilah yang akan menjadi bekal mereka untuk berdiri tegak di kancah persaingan global, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin keempat mengenai Pendidikan Berkualitas.

Sentuhan kepedulian UT tidak berhenti pada teori. Manajer Pembelajaran dan Ujian UT Purwokerto, Drs. Suhartono, M.Si., menegaskan bahwa kampus mereka adalah rumah bagi inovasi. Ia tidak ingin melihat mahasiswanya hanya sekadar lulus, tapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan baru (sejalan dengan SDG poin kedelapan tentang Pekerjaan Layak).

“Kami tidak sungkan-sungkan untuk mahasiswa yang mempunyai proposal atau ide. Kami bersedia atau siap membantu dan memberikan arahan dalam menyusun proposal,” tutur Suhartono dengan tulus. Bahkan, pihak kampus telah menyiapkan skema bantuan pembiayaan minimal Rp 5 juta untuk mahasiswa yang berani memulai langkah dalam dunia kewirausahaan.

UT Purwokerto terus menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci kemandirian. Melalui akses yang tanpa batas, setiap anak bangsa di pelosok Purwokerto kini memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ahli pariwisata, perencana kota, hingga ekonom handal—membuktikan bahwa siapa pun bisa bersinar, selama ada teknologi di tangan dan semangat di dalam jiwa.