Kuliah di Tengah Tuntutan Hidup, UT Menjawab Keraguan Anak Muda Sulawesi Barat

Bagi banyak lulusan SMA di Sulawesi Barat, keputusan setelah lulus bukanlah perkara sederhana. Pilihannya tidak hanya soal ingin kuliah atau tidak, tetapi juga tentang realitas hidup yang harus dihadapi. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan, namun di saat yang sama perlu membantu orang tua bekerja. Ada pula yang sudah mulai mencari penghasilan sendiri, sehingga kuliah terasa seperti rencana yang harus ditunda. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena merasa waktunya belum tepat.

Keraguan inilah yang coba dijawab oleh Universitas Terbuka (UT) Majene. Melalui kegiatan Sosialisasi dan Promosi (SOSPROM) ke sekolah-sekolah di enam kabupaten Sulawesi Barat, UT Majene hadir dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian anak muda. Pesan yang disampaikan pun sederhana dan relevan: kuliah tetap bisa dijalani tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun tanggung jawab di rumah.

Selama ini, kuliah kerap dibayangkan sebagai aktivitas yang menyita waktu penuh. Datang ke kampus sejak pagi, duduk di kelas hingga sore hari, lalu pulang dengan tugas yang menumpuk. Bagi sebagian siswa, gambaran ini terasa berat dan sulit diwujudkan. UT Majene menawarkan pola yang berbeda. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, mahasiswa memiliki kebebasan untuk mengatur waktu belajar sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Kami ingin menghapus anggapan bahwa kuliah itu harus selalu duduk di kelas dari pagi sampai sore. Di UT Majene, mahasiswa punya kendali atas waktunya sendiri,” ujar Marwa, S.S., anggota tim SOSPROM.

Dengan memanfaatkan Learning Management System (LMS), materi perkuliahan dapat diakses kapan saja. Mahasiswa bisa belajar pada malam hari setelah bekerja, di akhir pekan, atau saat memiliki waktu luang. Tidak ada keharusan meninggalkan aktivitas utama. Kuliah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, bukan beban tambahan yang mengganggu keseimbangan hidup.

Pendekatan ini sekaligus melatih kemandirian mahasiswa. UT Majene mendorong mahasiswa untuk bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri, mulai dari mengatur waktu hingga menyelesaikan tugas. Meski begitu, mahasiswa tidak dibiarkan berjalan sendirian. UT tetap menyediakan pendampingan melalui tutorial online maupun tatap muka bagi mereka yang membutuhkan.

“Anak-anak di Sulawesi Barat punya potensi besar untuk mandiri. UT hadir untuk mendukung itu, agar mereka bisa terus berkembang tanpa harus mengorbankan peran di keluarga dan lingkungan,” tambah tim SOSPROM.

Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan sosialisasi berlangsung. Banyak di antara mereka yang aktif bertanya, terutama mengenai kemungkinan kuliah sambil bekerja atau merintis usaha kecil. UT Majene menegaskan bahwa sistem perkuliahan yang fleksibel memang dirancang untuk kondisi seperti ini. Dengan kurikulum yang relevan dengan dunia kerja serta pembelajaran berbasis digital, mahasiswa dapat langsung mengaitkan materi kuliah dengan pengalaman nyata yang sedang dijalani.

Melalui upaya memperluas akses pendidikan tinggi yang adaptif terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, UT Majene turut mengambil peran dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif sekaligus mendukung kemandirian ekonomi generasi muda. Upaya ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam memastikan pendidikan berkualitas (SDG 4) yang dapat diakses semua kalangan serta membuka peluang peningkatan kapasitas dan produktivitas kerja.

Pada akhirnya, UT Majene bukan tentang kuliah yang rumit atau penuh batasan. UT hadir sebagai pilihan yang masuk akal bagi mereka yang ingin tetap melangkah maju di tengah keterbatasan. Kuliah tidak harus menunggu kondisi sempurna. Dengan sistem yang fleksibel dan pendekatan yang realistis, Universitas Terbuka Majene memberi ruang bagi siapa pun untuk terus belajar, bertumbuh, dan membangun masa depan tanpa harus meninggalkan kehidupan yang sedang dijalani.