Kisah Wisuda yang Tak Biasa: Dari Pilot di Udara Hingga Kursi Kosong yang Membisu

Di antara deru kendaraan yang melintas, terdapat sebuah gedung yang menjadi saksi bisu berkumpulnya harapan dari berbagai penjuru. Di dalam Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Minggu (25/1/2026), sebanyak 557 mahasiswa berkumpul untuk satu tujuan: merayakan kemenangan atas perjuangan panjang mereka dalam menuntut ilmu.

Kisah wisuda kali ini bukan sekadar seremoni penyerahan ijazah, melainkan sebuah simfoni tentang ketangguhan manusia dan keberagaman yang menyatukan mereka. Di antara barisan wisudawan, ada wajah-wajah yang sehari-harinya berjibaku dengan tanggung jawab besar. Bayangkan, di sela waktu mengudara menembus awan, seorang Kapten Pilot Garuda Indonesia dan 23 rekan pramugara serta pramugarinya tetap menyempatkan diri membuka buku dan menyelesaikan tugas kuliah. Kehadiran mereka di atas panggung wisuda seolah membuktikan bahwa pendidikan tinggi adalah hak yang bisa digenggam siapa saja, tanpa terkecuali profesi, jadwal, maupun kesibukan.

Keragaman mahasiswa semakin terasa saat Universitas Terbuka (UT) Serang menunjukkan perannya sebagai rumah bagi semua kalangan. Ada Juwariah, seorang perempuan tangguh berusia 68 tahun, yang membuktikan bahwa cahaya ilmu tidak akan pernah redup dimakan usia. Di sisi lain, Siti Utari, 22 tahun, mewakili semangat muda yang baru akan memulai langkah. Di antara mereka, terjalin satu kesamaan: tekad yang sama untuk menuntaskan pendidikan tinggi. Inilah bukti nyata dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas); bahwa kualitas pendidikan di UT hadir secara inklusif, merangkul seluruh mahasiswa dari berbagai usia, pengalaman hidup, dan latar belakang sosial—dari mereka yang sudah menjadi profesional hingga yang baru memulai perjalanan akademik.

Suasana yang awalnya penuh tawa berubah menjadi hening dan haru saat sebuah nama dipanggil: Riyan Sahandi Arief. Kursi yang seharusnya ia duduki tampak kosong, namun kehadirannya terasa sangat nyata lewat selembar foto yang dibawa sang istri. Riyan telah berpulang tepat setelah ia dinyatakan lulus, meninggalkan kenangan manis di hari yang seharusnya menjadi perayaan ulang tahunnya.

“Dan hari ini, saat wisuda, tepat adalah hari kelahiran almarhum Riyan Sahandi Arief. Semoga almarhum husnul khotimah,” ujar Direktur UT Serang, Dr. Teguh Prakoso, S.Pd., M.Hum., dengan nada suara yang bergetar. Sebagai penghormatan terakhir, lantunan lagu “Yang Terdalam” mengalun, membawa doa dan air mata dari seluruh hadirin yang ikut bernyanyi.

Melalui tema “Transformasi Pendidikan Menuju Era Society 5.0”, UT Serang berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman karakter. Pesan ini diperkuat oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., yang menekankan bahwa teknologi hanyalah alat, namun manusialah pengendalinya. Kini, para lulusan ini siap pulang ke daerah masing-masing untuk menjadi local hero, membangun Banten yang lebih adil dan merata, sesuai dengan semangat SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Di UT, mimpi tak pernah dibatasi oleh jarak, waktu, maupun keadaan. Dan di setiap wajah wisudawan—dari yang berusia belasan hingga lansia, dari yang sudah berprofesi hingga yang baru memulai—terpancar satu kesamaan: semangat belajar yang tak mengenal batas, yang merayakan keberagaman sebagai kekuatan, dan menjadikan pendidikan sebagai hak setiap insan.