Langkah Kaki Perjuangan Eska, Mahasiswi UT yang Menembus Jarak dan Reruntuhan Demi Masa Depan

Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) kini tengah diselimuti lumpur dan duka pasca-bencana banjir dan longsor sejak 26 November 2025. Namun, ditengah duka tersebut, terselip sebuah kisah tentang ketangguhan yang luar biasa. Kisah itu milik Eska Laurensia Sinabutar, seorang mahasiswi Universitas Terbuka (UT) Medan dari jurusan PGSD yang sedang di ujung masa studinya. Di saat banyak warga fokus pada upaya penyelamatan dan pemulihan, Eska hanya memiliki satu tujuan: menuntaskan kewajiban akademiknya yaitu menyelesaikan Tugas Akhir.

Bagi Eska, tantangan terbesar bukanlah puing-puing rumahnya di Desa Tukka, melainkan hilangnya sinyal komunikasi. Di tengah ketiadaan listrik dan jaringan, mengumpulkan Tugas Akhir yang harus dikirim secara daring adalah misi yang terasa mustahil. Misi inilah yang mendorongnya melakukan perjalanan yang mengharukan: berjalan kaki sejauh kurang lebih empat jam dari Tukka menuju Gor Pandan, pusat informasi dan pengungsian, hanya demi mendapatkan jaringan internet.

Selama dua hari berturut-turut, Eska dan beberapa temannya menempuh jalur yang berat itu, menembus sisa-sisa longsoran dan melewati sungai yang airnya meluap ke jalanan. Laptop yang seharusnya menjadi alat kemudahan belajar kini menjadi beban yang harus ia tenteng di tangan sepanjang perjalanan.

“Kami sudah dua hari mencari sinyal untuk mengirim tugas kami. Upaya kami bagaimana biar dapat sinyal, kami keluar dari rumah kami di Kecamatan Tukka ke Pandan, kurang lebih empat jam dengan berjalan kaki,” ujarnya dengan suara bergetar.

Di hari pertama, ia gagal. Namun, Eska kembali mencoba. Pada hari kedua, ia tiba di Gor Pandan pukul 11.00 WIB. Ia terlihat mondar-mandir cemas, berkali-kali mendekati Posko Pusat Informasi Bencana sambil menanyakan satu hal: “Pak, internet sudah jalan belum ya? Saya mau menyelesaikan tugas akhir saya.”

Melihat ketulusan dan urgensi dalam tatapan Eska, para petugas komunikasi tergerak. Mereka akhirnya memberikan hotspot darurat. Sesaat setelah jaringan tersambung, Eska langsung membuka laptopnya. Dari pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, ia memanfaatkan setiap detik koneksi yang ia dapatkan, menuntaskan babak akhir dari perjuangan akademiknya.

Dan di momen itulah, tangis Eska pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis lega yang meluap, menandakan betapa mahalnya harga sebuah kelulusan di tengah krisis. Tugas itu sudah dikirimkan!

Meskipun UT Medan telah menunjukkan kepedulian dengan menyetujui perpanjangan waktu ujian, Tugas Akhir tetap harus diselesaikan. Eska, yang berhasil menyemangati dan mengajak tiga teman mahasiswanya untuk mencari sinyal bersama, merasa bersyukur. “Puji Tuhan, tugas akhir telah terkirim. Saya bisa fokus untuk pekerjaan yang lain,” katanya, menutup lembaran perjuangan studinya.

‘Pekerjaan lain’ yang dimaksud Eska adalah upaya pemulihan setelah bencana. Ia mengenang momen mengerikan di Hari Guru, saat ia harus bergegas keluar dari sekolah karena ada informasi longsor akan datang, hingga kakinya terkilir. Setibanya di rumah, air bah sudah hampir mencapai atap, dan rumahnya kini dipenuhi lumpur dan kayu.

Kisah Eska menggambarkan perjuangannya untuk meraih pendidikan berkualitas—salah satu tujuan penting Pembangunan Berkelanjutan (SDG 4). Di tengah berbagai keterbatasan alam dan minimnya infrastruktur, ia tetap teguh mengejar ilmu, membuktikan bahwa kesempatan belajar tidak pernah benar-benar hilang bagi mereka yang bertekad. Kini, setelah menyelesaikan tugas kuliahnya, Eska dapat lebih fokus membantu keluarga dan memulihkan rumah mereka. Langkah ini bukan hanya wujud baktinya, tetapi juga bagian dari upaya mewujudkan SDG Nomor 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, serta membuka jalan menuju kehidupan yang lebih stabil dan penuh harapan.