Suasana Minggu siang di Auditorium Al-Izza, SMK Pembangunan Kota Bogor, berubah menjadi ruang belajar yang hangat dan penuh inspirasi. Ratusan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Bogor dan peserta dari berbagai sekolah tampak larut dalam antusiasme ketika Jurnal Festival Fair (JFF) 2025 dibuka oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik dan Kehumasan UT Bogor pada Minggu (30/11/2025). Dengan mengangkat tema “Seni Memimpin di Era Digital,” acara ini menghadirkan tiga pemateri yang tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga menyuntikkan motivasi tentang bagaimana generasi muda bisa tumbuh dan memimpin di tengah perubahan dunia yang serba cepat.
Sesi pertama dibawakan oleh Vina Muliana yang mengajak peserta memahami bahwa perjalanan karier tidak bisa dimulai dari sekadar membuat CV. Ia menekankan bahwa ada tiga fondasi yang wajib dipikirkan sebelum menyusun CV, yakni Clarity, Competitive, dan Connection. “Jangan membuat CV sebelum memikirkan tiga hal ini, yaitu Clarity, Competitive dan Connection,” ujar Vina. Ia menjelaskan bahwa clarity membantu seseorang menemukan arah karier yang sesuai minat dan kebutuhan masyarakat, competitive mendorong peningkatan kompetensi melalui pengalaman, sementara connection membuka jalan jaringan profesional yang akan dibutuhkan saat memasuki dunia kerja.
Vina juga mengingatkan bahwa lulusan masa depan harus memiliki kemampuan yang tidak hanya teknis, tetapi juga humanis. Ia menyebut empat keterampilan utama yang harus diasah seperti self management, komunikasi dan kepemimpinan, kemampuan memecahkan masalah, serta literasi teknologi digital. Dalam penjelasannya mengenai proses rekrutmen, Vina mengibaratkan pengalaman melamar pekerjaan sebagai “PDKT dengan gebetan,” menggambarkan bahwa setiap perusahaan membutuhkan pendekatan berbeda. Untuk menghadapi wawancara, ia mendorong peserta menerapkan prinsip Prepare, Presence, dan Practice agar tampil lebih siap dan percaya diri.
Suasana semakin hangat ketika materi dilanjutkan dengan sesi Personal Branding bersama Safah Affifah dan Public Speaking oleh Desna Aryana. Keduanya memberikan perspektif baru tentang bagaimana anak muda bisa mengoptimalkan potensi diri melalui kehadiran digital, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian tampil di berbagai ruang publik. Para peserta tak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak terlibat dalam simulasi dan latihan singkat yang membuat materi terasa lebih hidup.
Tak berhenti pada seminar, JFF 2025 juga dimeriahkan bazar makanan, kuis interaktif, pembagian hadiah, hingga doorprize yang membuat peserta semakin betah mengikuti acara hingga akhir. Suasana kekeluargaan dan semangat kolaboratif membuat festival ini tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk berjejaring dan merayakan kreativitas kaum muda.
Ketua Pelaksana JFF 2025, M. Fakhran Fadillah, menyampaikan harapannya agar festival ini menjadi momentum penting bagi peserta. “Melalui Jurnal Festival Fair 2025, kita belajar banyak hal, terutama dari tiga topik besar seminar hari ini: Career Preparation, Personal Branding, dan Public Speaking. Semoga acara ini bukan hanya memberi wawasan, tapi juga menjadi langkah awal untuk terus berkarya, bersuara, dan bersinar,” ujarnya.
Dengan semangat menjadikan literasi digital dan kepemimpinan sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda, JFF 2025 menjadi perwujudan komitmen UT dalam mendukung SDGs, khususnya terkait peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan pemuda, dan kesetaraan akses belajar. Universitas Terbuka kembali memperlihatkan perannya sebagai perguruan tinggi yang menghadirkan pendidikan tanpa batas—terbuka bagi siapa saja yang ingin bertumbuh dan menjadi bagian dari masa depan yang lebih inklusif dan berdaya saing.

