Belajar Tanpa Batas di Desa Terpencil, Inspirasi dari Seorang Polisi

Di balik seragam polisi yang dikenakannya, Aipda Yeskiel Hadjo, Wakapolsek Kualin, Polres Timor Tengah Selatan (TTS), memiliki misi lain: mencerdaskan anak bangsa dan memberdayakan masyarakat di wilayah terpencil.

Selama lebih dari 16 tahun bertugas di Kecamatan Kualin, Yeskiel tak hanya menjaga keamanan. Ia juga menjadi guru, mentor, dan sahabat bagi generasi muda, membuktikan bahwa pengabdian seorang polisi bisa melampaui tugas pokoknya. Perjalanannya di dunia pendidikan dimulai dari kepeduliannya pada anak-anak yang kesulitan belajar bahasa Inggris. Pada 2009, ia membuka bimbingan belajar gratis di rumahnya setiap Sabtu, bagi anak-anak mulai usia 6 tahun hingga mahasiswa, dibantu kerabat yang rela menjadi tutor demi masa depan mereka.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan mendorong Yeskiel dan istrinya, Feby Nailius, untuk mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Lembaga ini menjadi jembatan bagi mereka yang putus sekolah untuk menamatkan SD, SMP, hingga SMA. Tidak berhenti di situ, ia juga membuka PAUD dan kelompok bermain di beberapa desa, memberikan anak-anak kesempatan belajar sejak usia dini. Semua program dijalankan tanpa biaya, karena bagi Yeskiel, pendidikan adalah hak, bukan privilese.

Bagi lulusan SMA yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi terkendala biaya, Yeskiel membuka akses ke Universitas Terbuka (UT) melalui sistem kuliah jarak jauh. Dengan fleksibilitas UT, siswa dapat belajar dari rumah tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara Yeskiel menyediakan Wi-Fi gratis bagi sekitar 150 warga yang mengikuti kuliah daring. Langkah ini bukan sekadar memberi akses pendidikan, tetapi juga membantu mengurangi kesenjangan dan menciptakan peluang bagi anak muda Kualin untuk meraih masa depan lebih baik, sejalan dengan semangat SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan.

Tidak hanya peduli pendidikan, Yeskiel juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi dan pertanian. Ia membentuk kelompok tani dan kelompok wanita tani, mengelola lahan 4 hektare untuk menanam jagung, sayuran, dan tanaman pangan lainnya. Semua biaya ditanggungnya dari gaji sebagai anggota Polri, sementara hasil panen dibagi bersama warga.

Atas dedikasinya, Kapolda Nusa Tenggara Timur memberikan penghargaan kepada Yeskiel, yang diserahkan langsung oleh Kapolres TTS, AKBP Hedra Dorizen, dalam peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025.

“Segala yang saya lakukan semata-mata karena panggilan hati dan tanggung jawab moral. Tantangan ada, tapi justru itu yang memotivasi saya untuk terus berbuat positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Camat Kualin, Wilhelmus Nabunome, menegaskan, “Pak Yeskiel telah mengubah wajah pendidikan di Kualin. Beliau membuktikan bahwa polisi bisa menjadi penggerak perubahan nyata, bukan sekadar penegak hukum.”

Dengan ketulusan, kerja keras, dan semangat pengabdian, Aipda Yeskiel Hadjo bukan hanya pelindung masyarakat, tetapi juga penyala harapan bagi generasi muda dan petani di Kualin. Ia membuktikan bahwa pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian sosial bisa berjalan seiring, menghadirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan.