UT Siapkan Layanan untuk 2,5 Juta Mahasiswa pada 2045, Tegaskan Tak Ada yang Tertinggal

TANGERANG SELATAN — Jalan menuju gelar sarjana tidak selalu sama bagi setiap orang. Ada yang bekerja sambil kuliah, ada yang kembali belajar setelah bertahun-tahun berkarier, dan ada pula yang menghadapi tantangan dalam proses pendidikannya. Di tengah keberagaman itu, Universitas Terbuka (UT) membawa satu pesan: kesempatan meraih pendidikan tinggi harus terbuka bagi semua.

Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam konferensi pers Wisuda UT Tahun Akademik 2026/2027 Ganjil Wilayah 1 di Universitas Terbuka Convention Center, Pondok Cabe pada Selasa (27/10/2026). Pada semester ini, sekitar 40.000 mahasiswa telah menjalani yudisium di berbagai wilayah. Sementara itu, wisuda Wilayah 1 diikuti 2.183 wisudawan dari 12 UT Daerah, yakni Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Jakarta, Surakarta, Malang, Majene, dan Gorontalo, serta UT Layanan Luar Negeri.

Bagi Prof. Dr. Ali Muktiyanto, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan pengakuan resmi atas kualifikasi dan kompetensi yang telah diraih mahasiswa. Terlebih, mayoritas lulusan UT telah bekerja dan menjadi bagian dari pembangunan masyarakat.

“Ini sekaligus sebagai penegasan komitmen UT untuk terus memberikan dampak bagi bangsa kita, khususnya dalam penyediaan sumber daya manusia yang tidak sekadar siap pakai, tapi meneruskan perjuangan,” ujar Ali.

Semangat tersebut tercermin dari meningkatnya capaian lulusan pascasarjana. Prof. Dr. Ali Muktiyanto, menyebut, wisuda kali ini diikuti 6 lulusan doktor dan 63 lulusan pascasarjana. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pascasarjana UT semakin menjadi pilihan masyarakat, termasuk mereka yang ingin meningkatkan kualifikasi dan kompetensi tanpa meninggalkan perjalanan profesional.

“Ini menunjukkan bahwa Pascasarjana UT saat ini bukan lagi sekadar pilihan untuk menunjang karier, tetapi memang menjadi pilihan, terutama bagi masyarakat yang sedang berkarier di        instansi masing-masing untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dirinya,” tuturnya.

Prof. Dr. Ali Muktiyanto,  juga menyoroti keberagaman latar belakang wisudawan yang mencerminkan peran UT sebagai ruang belajar bagi masyarakat dari berbagai profesi dan kondisi kehidupan, mulai dari kalangan pemerintahan hingga dunia hiburan, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Rektor turut mengapresiasi capaian salah satu lulusan terbaik, Dr. dr. Arjaty Wahidah Daud, MARS., yang meraih IPK 4,00. Menurutnya, keberagaman tersebut menegaskan bahwa perbedaan kondisi maupun keterbatasan bukanlah penghalang bagi siapa pun untuk menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar akademik. 

“Tidak ada kata tidak mungkin untuk menjadi seorang sarjana,” tegasnya.

Untuk menjaga kesempatan itu tetap terbuka, UT tidak sekadar mengejar pertambahan jumlah mahasiswa, tetapi juga mempersiapkan kapasitas layanan. UT menargetkan kesiapan melayani satu juta mahasiswa pada 2029 dan hingga 2,5 juta mahasiswa pada 2045. Saat ini, jumlah mahasiswa UT mencapai sekitar 857.000 orang dan diperkirakan mendekati 950.000 pada 2027.

“Sebenarnya UT tidak menargetkan satu juta atau dua juta atau berapa pun, tapi UT menargetkan memantaskan diri untuk melayani hingga 2,5 juta mahasiswa di tahun 2045,” kata Ali. Ia menegaskan, kesiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas layanan agar pertumbuhan jumlah mahasiswa tidak mengurangi mutu pembelajaran.

Upaya itu diwujudkan melalui investasi teknologi dan pembelajaran, termasuk pengembangan ujian daring berbasis perangkat seluler serta automated online proctoring. UT juga terus memperkuat pengakuan mutu melalui akreditasi Asian Association of Open Universities (AAOU), Quality Review oleh International Council for Open and Distance Education (ICDE), serta dorongan bagi program studi untuk meraih rekognisi internasional.

Komitmen memperluas akses sekaligus menjaga kualitas ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), terutama dalam mendorong pendidikan yang inklusif dan memberikan kesempatan belajar sepanjang hayat.

Bagi UT, toga bukanlah garis akhir perjalanan belajar. Ia menjadi penanda langkah baru ketika ilmu yang diperoleh kembali ke tengah masyarakat menguatkan profesi, membuka peluang, dan memberi manfaat bagi bangsa.