UT Palembang Gandeng 51 SALUT dan Siapkan 84 Titik Ujian untuk Perkuat Layanan Mahasiswa

Bayangkan mahasiswa yang tinggal jauh dari pusat kota, harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk memastikan lokasi ujian, memahami sistem registrasi, atau sekadar bertanya soal layanan akademik. Di tengah tantangan itu, Universitas Terbuka (UT) Palembang mencoba bergerak lebih dekat. Bukan hanya lewat sistem digital, tetapi juga melalui penguatan peran Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) yang selama ini menjadi salah satu pintu utama mahasiswa dalam mengakses layanan pendidikan jarak jauh.

Upaya tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) UT Palembang dan SALUT Tahun 2026 yang berlangsung pada 5–6 Juni 2026. Mengusung tema “Memperkuat Sinergitas dalam Mewujudkan Kewibawaan dan Reputasi Akademik yang Berintegritas dan Revolusioner”, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk menyamakan langkah di tengah berbagai perubahan layanan akademik UT.

Direktur UT Palembang, Drs. Muhammad Tair A, M.M., mengatakan Rakorda bukan sekadar agenda tahunan yang selesai di ruang pertemuan. Bagi UT Palembang, forum ini menjadi momen untuk mengevaluasi program, memperkuat koordinasi, sekaligus memastikan seluruh SALUT bergerak dengan pemahaman yang sama dalam melayani mahasiswa.

“Melalui Rakorda ini kita ingin menjaga silaturahmi sekaligus mengevaluasi berbagai program yang telah dilaksanakan. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh SALUT memiliki pemahaman yang sama sehingga pelayanan kepada mahasiswa dapat berjalan selaras,” ujarnya.

Naim, sapaan akrabnya, menjelaskan, Rakorda tersebut diikuti oleh 51 SALUT dengan minimal tiga peserta dari masing-masing SALUT. Menurut dia, semakin banyak peserta yang terlibat, semakin luas pula pemahaman terkait kebijakan dan layanan terbaru yang dapat diteruskan kepada mahasiswa di daerah.

Hal ini menjadi penting karena layanan akademik UT terus mengalami penyesuaian, mulai dari sistem registrasi, lokasi tutorial, tempat ujian, hingga skema pelaksanaan ujian. Perubahan tersebut, kata Naim, harus disampaikan secara utuh agar mahasiswa tidak kebingungan saat menjalani proses perkuliahan.

“Karena itu, informasi tersebut harus tersampaikan secara utuh kepada mahasiswa agar tidak menimbulkan kebingungan,” ucap Naim.

Ia menekankan, SALUT memiliki posisi strategis sebagai mitra UT dalam mendampingi mahasiswa. Di tengah layanan akademik yang kian berbasis digital, keberadaan SALUT membantu memastikan mahasiswa tetap mendapatkan arahan yang jelas, terutama bagi mereka yang membutuhkan pendampingan teknis maupun administratif.

“Kita ingin mahasiswa mengetahui sejak awal bagaimana sistem registrasi, lokasi tutorial, tempat ujian hingga skema ujian yang akan mereka ikuti. Dengan begitu layanan akan lebih tertata dan mahasiswa tidak mengalami kendala saat menjalani proses perkuliahan,” katanya.

Salah satu isu utama yang dibahas dalam Rakorda adalah pelaksanaan ujian secara online. UT Palembang bahkan memasang target lebih progresif dibandingkan target nasional. Jika secara nasional komposisi ujian diarahkan 80 persen online dan 20 persen tatap muka, UT Palembang menargetkan seluruh ujian dapat berlangsung secara online.

“Berbeda dengan target nasional yang mengarahkan komposisi 80 persen ujian online dan 20 persen ujian tatap muka, kami UT Palembang menargetkan seluruh ujian dapat dilaksanakan secara online,” terang Naim.

Untuk mengejar target tersebut, UT Palembang telah menyiapkan 84 lokasi ujian yang tersebar di berbagai daerah. Titik-titik ujian itu disiapkan melalui kerja sama dengan sekolah, Dinas Pendidikan, serta dukungan fasilitas dari PT Pos Indonesia.

“Kami akan mencoba melaksanakan ujian online 100 persen. Sebanyak 84 lokasi ujian sudah dipersiapkan dan mudah-mudahan pelaksanaannya berjalan lancar tanpa kendala,” ungkap Naim.

Pelaksanaan ujian online penuh ini dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai 20 Juni hingga 5 Juli 2026. Menjelang pelaksanaan tersebut, UT Palembang meminta seluruh SALUT lebih aktif mengingatkan mahasiswa untuk mencetak kartu peserta ujian serta membantu jika terdapat kendala teknis maupun administrasi.

Di sisi lain, Naim juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menganggap ringan tata tertib ujian. Ia menegaskan, pelanggaran selama ujian dapat berdampak serius pada hasil akademik, termasuk penggunaan telepon seluler saat ujian berlangsung.

“Kalau ketahuan membuka smartphone saat ujian, seluruh mata kuliah yang diambil pada semester tersebut bisa mendapatkan nilai E,” tegasnya.

Saat ini, sekitar 60 persen mahasiswa UT Palembang merupakan mahasiswa mandiri, sementara 40 persen lainnya merupakan mahasiswa binaan SALUT. Komposisi ini menunjukkan bahwa SALUT tetap memegang peran penting dalam memperkuat layanan pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, terutama di wilayah Sumatera Selatan.

Melalui Rakorda ini, UT Palembang juga menaruh optimisme terhadap capaian jumlah mahasiswa. Naim berharap, capaian mahasiswa tahun ini kembali melampaui target yang diberikan pusat pada tahun 2025.

“Kami berharap capaian mahasiswa tahun ini kembali melebihi target yang diberikan pusat. Minimal bisa mencapai 110 persen seperti yang pernah kita raih sebelumnya,” pungkas Naim.

Lebih dari sekadar forum koordinasi, Rakorda UT Palembang dan SALUT Tahun 2026 menjadi penanda bahwa transformasi layanan tidak boleh berhenti di sistem. Ia harus sampai kepada mahasiswa, dipahami dengan jelas, dan dirasakan manfaatnya. Melalui penguatan SALUT, perluasan titik ujian, dan dorongan layanan digital, UT Palembang ikut memperkuat akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif, sejalan dengan semangat SDGs dalam menghadirkan pendidikan berkualitas bagi lebih banyak masyarakat.