Tak Hanya Masuk Marketplace, UT Dorong UMKM Pamulang Bangun Bisnis Berkelanjutan

TANGERANG SELATAN — Bagi banyak pelaku UKM, persoalan usaha sering kali dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian: produk sudah ada, pembeli sudah pernah datang, tetapi penjualan belum stabil; usaha berjalan, tetapi pencatatan belum rapi; promosi sudah masuk media sosial, tetapi belum tentu berujung pada pelanggan yang kembali membeli. Di titik inilah kehadiran perguruan tinggi menjadi penting, bukan hanya sebagai pusat ilmu, tetapi sebagai mitra yang membantu masyarakat menemukan jalan tumbuh.

Semangat itu mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Kolaborasi Strategis Transformasi Digital UKM melalui Inovasi Berkelanjutan: Sinergi UT – Pemkot Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan dalam Akselerasi SDGs di Wilayah Penyangga Urban”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Kamis, 11 April 2026, di Ruang Rasamala Wisma 2 Universitas Terbuka.

Forum tersebut menjadi ruang temu antara Universitas Terbuka (UT), pemerintah kecamatan, perwakilan kelurahan, akademisi, narasumber, dan pemangku kepentingan untuk membaca lebih dekat kebutuhan UKM di Kecamatan Pamulang. Melalui forum ini, UT tidak datang dengan program yang sudah jadi, melainkan membuka ruang dengar untuk memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pelaku usaha, mulai dari pelatihan, fasilitasi, penguatan kapasitas, akses pasar, pencatatan keuangan, legalitas, hingga pendampingan berkelanjutan.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka, Prof. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa FGD ini menjadi langkah awal untuk memetakan bentuk kontribusi UT bagi masyarakat sekitar.

“Acara FGD ini kita ingin menggali apa yang nanti bisa dibantu oleh UT. Apakah itu bentuknya pelatihan, fasilitasi, atau mungkin ada kerangka untuk kegiatan UMKM. Dari FGD inilah kita nanti akan mendapatkan sebetulnya yang terjadi di Pamulang untuk UMKM itu seperti apa,” ujar Prof. Dewi.

Bagi UT, PkM bukan sekadar agenda akademik yang selesai saat kegiatan berakhir. Masukan dari masyarakat akan dihimpun, dipetakan, lalu dihubungkan dengan kepakaran dosen UT. Dengan cara itu, persoalan pelaku UKM tidak diperlakukan sama rata, tetapi dijawab sesuai kebutuhan masing-masing usaha.

“Permasalahan-permasalahan dari UMKM itu akan berbeda satu dengan yang lain, dan nanti dosen-dosen UT dengan kepakaran masing-masing akan melihat, oke saya akan bantu dalam hal ini, dalam hal itu,” tambahnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan peran perguruan tinggi yang semakin konkret di tengah masyarakat. Ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi bergerak menjadi pendampingan, modul pelatihan, riset terapan, dan penguatan kapasitas warga. Dalam konteks UT, daya jangkau pendidikan tinggi yang berkualitas tidak hanya hadir melalui sistem pembelajaran jarak jauh, tetapi juga melalui kontribusi langsung sivitas akademika dalam menjawab kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kampus.

Dalam paparannya, Dosen Politeknik Multimedia Nusantara sekaligus pengusaha, Dr. Hendra Noor Saleh, S.E., M.Si., DBA., menekankan bahwa transformasi digital UKM perlu diposisikan sebagai perubahan model bisnis, bukan sekadar pelatihan aplikasi. Digitalisasi dinilai baru berdampak apabila mampu menghubungkan tiga hal penting, yakni pasar, manajemen, dan dampak.

Artinya, UKM tidak cukup hanya hadir di marketplace atau media sosial. Pelaku usaha perlu mampu menjangkau pembeli baru, membangun kepercayaan pelanggan, mencatat penjualan, stok, margin, dan arus kas, serta mengambil keputusan usaha berdasarkan data sederhana. Dalam kerangka SDGs, pendekatan ini juga membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, pekerjaan yang lebih layak, inovasi usaha, dan kemitraan lintas sektor.

Perspektif tersebut diperkuat oleh Pimpinan Yayasan Dinamika Mandiri sekaligus Komisaris PT Seway Banua Seika, Yuniardi Trisna, PFM, CFP, CSA, CRP, RTA, FRAC, QWP. Ia menyoroti bahwa UMKM tidak hanya perlu go digital, tetapi juga go industrial. Digitalisasi membuat UMKM lebih mudah ditemukan, sementara industrialisasi membuat UMKM lebih dipercaya.

Dalam paparannya, Yuniardi menekankan bahwa bisnis tidak cukup hanya viral. Pelaku UMKM perlu memiliki sistem dan standar yang terukur, kualitas yang konsisten, kapasitas produksi yang jelas, serta kesiapan untuk tumbuh lebih besar. Bahkan, akses ekspor dan pembiayaan bukanlah titik awal, melainkan hasil dari disiplin sistem, mulai dari pencatatan keuangan, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, standar produksi, sertifikasi, hingga kesiapan memenuhi kebutuhan pasar.

Di sinilah kolaborasi UT dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan menjadi strategis. Pemerintah memiliki kedekatan data dan pemahaman wilayah, pelaku usaha membawa pengalaman langsung di lapangan, sementara UT menghadirkan kepakaran akademik, riset, dan pendampingan. Ketiganya dapat saling mengisi agar program pemberdayaan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi benar-benar membantu UKM bergerak naik kelas.

Kegiatan ini turut dihadiri Sonny Wahyudi, S.Kom., M.M., Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc., serta perwakilan delapan kelurahan di Kecamatan Pamulang, yakni Mulyadi dari Pamulang Barat, Ade Heri Sutiawan dari Pamulang Timur, Udin Saad dari Pondok Benda, Dody Dores dari Benda Baru, Darwin Sopian dari Kedaung, Marissya Ariestiany dari Bambu Apus, Abdul Malik dari Pondok Cabe Udik, serta Prihadiyanto dari Pondok Cabe Ilir.

Melalui forum ini, UT menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga memperkuat warga, mendampingi pelaku usaha, dan membantu daerah membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh. Dari Pamulang, pesan itu terasa nyata: ketika kampus, pemerintah, dan masyarakat duduk bersama, transformasi digital tidak lagi menjadi jargon, tetapi berubah menjadi ikhtiar bersama untuk membuat usaha kecil lebih tertata, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi masa depan.