Siapa bilang pelajaran sastra harus identik dengan membaca teks panjang dan suasana kelas yang monoton? Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, pendekatan belajar yang interaktif kini menjadi kebutuhan. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Terbuka (UT) membekali guru sekolah dasar dengan keterampilan mengintegrasikan gamifikasi ke dalam pembelajaran sastra agar proses belajar menjadi lebih menarik, aktif, dan relevan dengan karakter generasi digital.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka menggelar pelatihan bertajuk “Integrasi Gamifikasi dalam Pembelajaran Sastra sebagai Wahana Belajar Interaktif” di SDN 223 Bhakti Winaya, Bandung, Kamis (18/6/2026). Sebanyak 23 guru sekolah dasar mengikuti kegiatan tersebut.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi digital dan pendekatan gamifikasi pada pembelajaran sastra. Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan di era digital. Langkah ini juga sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4, yakni pendidikan berkualitas yang mendorong pembelajaran inklusif dan adaptif bagi semua.
Bukan Sekadar Mengajar, Guru Ditantang Bikin Siswa Ikut Terlibat
Ketua Pelaksana PKM, Dr. Syafruddin, M.Pd., menegaskan bahwa guru memegang peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada penguasaan materi, tetapi juga bagaimana menghadirkan pembelajaran yang mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik.
“Peserta didik saat ini tumbuh di lingkungan digital yang sangat dinamis. Karena itu, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif agar proses belajar tidak hanya efektif, tetapi juga menyenangkan. Melalui kegiatan ini, kami berharap guru memperoleh keterampilan praktis dalam mengintegrasikan gamifikasi ke dalam pembelajaran sastra,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Prima Dwi Yuliani, M.Pd. dan Refisa Ananda, M.Pd. Pada sesi pertama, Dr. Prima menjelaskan bahwa gamifikasi merupakan penerapan elemen permainan dalam aktivitas pembelajaran untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa.
Menurutnya, pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam membangun empati, kreativitas, kemampuan berbahasa, serta karakter peserta didik. Namun, penyampaiannya perlu disesuaikan dengan karakter generasi saat ini.
“Sastra tidak boleh dipandang sebagai materi yang sulit atau membosankan. Dengan gamifikasi, guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menantang sehingga siswa terdorong untuk membaca, berdiskusi, dan mengapresiasi karya sastra dengan lebih antusias,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan elemen seperti poin, lencana penghargaan, level, tantangan, dan umpan balik cepat dapat meningkatkan motivasi belajar siswa ketika diterapkan secara tepat.
Dari Quizizz Sampai Kahoot, Guru Diajak Praktik Langsung
Setelah sesi pemaparan konsep, kegiatan dilanjutkan dengan workshop teknis yang dipandu Refisa Ananda. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan berbagai platform pembelajaran berbasis gamifikasi seperti Quizizz, Kahoot, Wordwall, Padlet, dan Booklet.
Tak hanya menerima teori, para guru juga langsung mempraktikkan penyusunan aktivitas pembelajaran sastra yang interaktif dan kolaboratif menggunakan berbagai platform tersebut.
Refisa menjelaskan bahwa platform-platform tersebut dipilih karena mudah digunakan dan mampu mendukung pembelajaran aktif di kelas.
“Teknologi seharusnya menjadi alat yang mempermudah guru, bukan menjadi hambatan. Berbagai platform ini dapat digunakan untuk diskusi cerita, kuis pemahaman bacaan, permainan kosakata, hingga proyek kolaboratif yang mendorong kreativitas siswa,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan budaya literasi sekolah, tim PKM Universitas Terbuka juga menyerahkan hibah buku kepada SDN 223 Bhakti Winaya.
Kepala SDN 223 Bhakti Winaya, Usremi, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era digital.
“Guru-guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman langsung menggunakan berbagai platform yang dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari,” ujarnya.
Menjelang akhir kegiatan, para peserta menyusun rencana tindak lanjut untuk menerapkan hasil pelatihan di kelas masing-masing. Melalui program ini, Universitas Terbuka berharap guru semakin siap memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran sastra, memperkuat budaya literasi sekolah, serta menghadirkan ekosistem belajar yang lebih adaptif, partisipatif, dan bermakna bagi peserta didik.


