Tangerang Selatan, 11 Juni 2026 — Di Lahad Datu, Sabah, Malaysia, sebagian anak-anak Indonesia tumbuh dan belajar jauh dari suasana sekolah yang ideal. Mereka tinggal di wilayah perkebunan, jauh dari pusat kota, dan menempuh pendidikan di Community Learning Center (CLC) yang menjadi harapan penting bagi masa depan mereka.
Di ruang-ruang belajar itulah para guru Indonesia menjalankan peran besar. Tidak jarang, satu guru harus mengajar beberapa jenjang sekaligus, dari kelas 1 hingga kelas 9. Tantangannya bukan hanya soal mengajar, tetapi juga bagaimana menjaga semangat belajar anak-anak, membangun karakter, sekaligus memberi bekal hidup yang relevan dengan kondisi mereka.
Melihat kebutuhan tersebut, Universitas Terbuka (UT) hadir melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional 2026 di Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Kegiatan ini resmi dibuka secara daring pada Kamis, 11 Juni 2026, sebagai bagian dari komitmen UT untuk menjangkau masyarakat Indonesia di luar negeri melalui program yang dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara LPPM UT, Konsulat RI Tawau, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Koordinator Penghubung Wilayah Lahad Datu, serta pengelola CLC Ilmuwan. Sekitar 50 guru dari berbagai satuan pendidikan Indonesia di wilayah Sabah turut mengikuti kegiatan ini.
PKM Internasional 2026 tidak hanya dirancang sebagai forum berbagi materi. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang penguatan bagi para guru dan komunitas PMI agar memiliki bekal yang lebih aplikatif dalam menghadapi persoalan pendidikan, karakter, dan kemandirian masyarakat.
Ada tiga program utama yang diusung dalam kegiatan ini, yaitu penguatan moderasi beragama, pembelajaran kreatif melalui Storytelling for Effective Teaching, serta rekayasa model literasi ekonomi dan kemandirian finansial masyarakat Pekerja Migran Indonesia (PMI). Ketiga tema tersebut dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan guru, siswa, dan komunitas Indonesia di Sabah.
Melalui penguatan moderasi beragama, guru diharapkan memiliki bekal dalam menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan karakter positif kepada peserta didik. Melalui storytelling, pembelajaran di kelas dapat dibuat lebih hidup, dekat, dan mudah dipahami oleh anak-anak. Sementara itu, literasi ekonomi dan kemandirian finansial diarahkan untuk membantu komunitas PMI agar memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengelola potensi dan kehidupan ekonomi keluarga.
Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dengan format blended. Sesi daring pada 11 Juni 2026 menjadi tahap pembekalan awal bagi peserta. Setelah itu, kegiatan akan dilanjutkan secara luring di Lahad Datu pada 15 Juli 2026 sebagai ruang implementasi, pendampingan, dan pengembangan proyek nyata bersama masyarakat.
Dengan pola tersebut, PKM Internasional UT tidak berhenti pada ceramah atau penyampaian teori. Program ini diarahkan agar para peserta dapat membawa pulang pengetahuan yang bisa dipraktikkan, dikembangkan, dan dirasakan manfaatnya oleh siswa maupun komunitas di sekitarnya.
Kegiatan ini hadir di tengah kebutuhan pendidikan yang cukup besar bagi anak-anak PMI di Sabah. Berdasarkan data Konsulat RI Tawau, terdapat lebih dari 120.000 Pekerja Migran Indonesia di wilayah tersebut. Saat ini, terdapat 101 CLC yang menampung lebih dari 8.000 siswa. Banyak dari mereka belajar di kawasan perkebunan yang jauh dari akses pendidikan formal sebagaimana umumnya anak-anak Indonesia di tanah air.

Dalam sambutannya, Ketua LPPM Universitas Terbuka, Prof. Dra. Dewi Artati Padmo Putri, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa UT ingin hadir secara berkelanjutan bagi komunitas Indonesia di luar negeri. Menurutnya, PKM Internasional ini disiapkan bukan sekadar sebagai kegiatan sesaat, tetapi sebagai bentuk kepedulian UT terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia di perantauan.
“Tujuan UT mengadakan PKM Internasional ini betul-betul untuk komunitas yang paling dekat dengan Indonesia. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya satu atau dua kali. Jika masih dibutuhkan oleh sekolah Indonesia di Malaysia, kami siap merancang kegiatan-kegiatan lanjutan untuk peningkatan kualitas guru maupun hal-hal lain yang dianggap perlu untuk membekali masyarakat Indonesia di luar negeri,” ungkap Prof. Dewi.
Komitmen UT dalam kegiatan ini juga terlihat dari dukungan lintas fakultas. Hadir dalam pembukaan kegiatan ini Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc.; Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Dr. Subekti Nurmawati, M.Si.; Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik, Dr. Meita Istianda, S.IP., M.Si.; serta Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Meirani Harsasi, S.E., M.Si.
Kehadiran pimpinan dari empat fakultas tersebut menunjukkan bahwa pengabdian ini tidak berjalan sendiri-sendiri. UT membawa kekuatan lintas bidang untuk menjawab persoalan yang juga lintas dimensi, mulai dari pendidikan, karakter, metode pembelajaran, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Dukungan internasional juga hadir dari Universitas Malaysia Sabah (UMS) melalui kehadiran Dr. Soon Singh A/L Bikar Singh, Dekan Fakulti Pendidikan dan Pengkajian Sukan UMS. Keterlibatan UMS memperkuat ruang kolaborasi antara UT dan mitra akademik di Malaysia, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM UT, Dr. Heriani, S.IP., M.A., menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah disiapkan agar berjalan sesuai rencana. Ia menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sejalan dengan semangat “Kampus Berdampak” yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Apresiasi terhadap kegiatan ini disampaikan oleh Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL. Ia menilai program yang dibawa UT sangat relevan dengan kebutuhan guru dan siswa Indonesia di Sabah.


“Kami sangat mengapresiasi Universitas Terbuka karena ini bukan sekadar program akademik, tetapi bukti nyata bahwa pendidikan tidak harus berada di menara gading. Mudah-mudahan kerja sama ini akan berlanjut ke depannya dalam rangka memberikan layanan, khususnya pendidikan, kepada anak-anak kami yang ada di Sabah maupun Sarawak,” ujar Sahyuddin.
Dukungan juga datang dari Kepala Perwakilan RI Tawau, Dino Nurwahyudin. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu, terutama bagi para guru yang mendampingi anak-anak Indonesia di kawasan perkebunan.
“Anak-anak ini hidup, bahkan lahir dan besar di ladang yang sangat jauh dari kota. Dengan adanya kegiatan bakti dari Universitas Terbuka ini, kami sangat terbantu. Kami berharap pelatihan ini mampu mengisi dan memberi tambahan keterampilan serta membuka ide-ide baru bagi para guru di wilayah Lahad Datu,” ujar Dino.
Di tingkat lapangan, kegiatan ini turut diperkuat oleh Raden Banu Firdaus selaku Koordinator Penghubung Wilayah Lahad Datu; H. Agussalim Bin Buhannase selaku Pengelola CLC Ilmuwan; serta Mubarok Ijtihadi selaku Ketua Gugus Lahad Datu yang mengoordinasikan satuan pendidikan di wilayah Lahad Datu, Tawau, Sempurna, dan Kalabakan. Peran mereka menjadi penting agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan komunitas setempat.
PKM Internasional ini menghadirkan narasumber lintas bidang, yaitu Dr. Izzul Fatawi, M.Pd. untuk materi moderasi beragama; Widyasari, S.S., M.Hum. untuk materi Storytelling for Effective Teaching; serta Dr. Ami Pujiwati, S.E., M.M., Zulfahmi, S.E., M.Si., Eka Wirajuang Daurrohmah, S.E.I., M.Ak., dan Dr. Maya Maria, S.E., M.M. untuk materi literasi ekonomi dan kemandirian finansial.
Melalui PKM Internasional 2026, UT kembali menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah. Pendidikan juga bisa hadir di ladang, di ruang belajar sederhana, di tengah komunitas pekerja migran, dan di tempat-tempat yang selama ini membutuhkan dukungan nyata.
Di Lahad Datu, UT hadir bukan sekadar membawa nama besar perguruan tinggi, tetapi membawa kepedulian, pengetahuan, dan solusi yang dapat digunakan langsung oleh guru, siswa, dan masyarakat Indonesia di Sabah. Semangat inilah yang terus dihidupkan UT: membuka akses, memperluas manfaat, dan memastikan pendidikan tetap menjangkau siapa pun, di mana pun mereka berada.



