Tidak semua anak di Banua memiliki jalan yang mudah untuk terus belajar. Sebagian harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi keluarga, sebagian lain terdorong bekerja di usia muda, menghadapi risiko pernikahan dini, atau tinggal di wilayah dengan akses pendidikan yang belum sepenuhnya memadai. Dari persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah, mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin diajak untuk melihat pendidikan bukan hanya sebagai urusan kampus, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama.
Semangat tersebut hadir dalam kegiatan “Forum Kritis Mahasiswa” bertema Banua Belajar, Banua Berdaya yang digelar UT Banjarmasin melalui Organisasi Mahasiswa (Ormawa), Kamis (4/6/2026). Bertempat di Ruang Tutorial lantai 2 UT Banjarmasin, forum ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, bertukar pandangan, sekaligus belajar membaca persoalan pendidikan anak di Banua dengan lebih jernih.
Isu yang dibahas dalam forum ini tidak jauh dari realitas masyarakat. Mulai dari kendala ekonomi keluarga, tingginya angka pernikahan dini, dorongan untuk bekerja di usia muda, hingga keterbatasan infrastruktur pendidikan. Persoalan-persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak anak yang membutuhkan dukungan agar dapat terus belajar, tumbuh, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Direktur UT Banjarmasin, Ir. Mochamad Priono, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan Rektor UT yang mendorong peningkatan kegiatan kemahasiswaan di daerah. Selain itu, kegiatan ini juga masuk dalam indikator kinerja program strategis universitas.
“Di dalam forum ini kita memberikan soft skill atau keterampilan bagaimana mahasiswa mampu berpikir kritis, sistematis, menganalisis, dan membuat solusi terhadap persoalan di wilayahnya. Kita ingin mahasiswa UT saat lulus nanti tidak sekadar bisa berpendapat, tapi mampu menyampaikan argumen yang berbasis data,” ujar Priono.
Antusiasme mahasiswa dalam mengikuti forum ini terlihat dari beragamnya daerah asal peserta. Mereka tidak hanya datang dari Banjarmasin dan sekitarnya, tetapi juga dari Kotabaru, Muara Teweh, hingga Kapuas, Kalimantan Tengah. Untuk memperluas jangkauan, kegiatan ini juga difasilitasi secara daring melalui Zoom sehingga mahasiswa dari berbagai wilayah tetap dapat terlibat.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah membuat forum ini terasa semakin dekat dengan persoalan nyata di lapangan. Setiap mahasiswa datang dengan pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Ada yang melihat langsung bagaimana kondisi ekonomi keluarga dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak. Ada pula yang memahami bahwa akses, lingkungan, dan dukungan sosial turut menentukan sejauh mana seorang anak dapat bertahan dalam proses belajar.
Forum ini semakin bermakna dengan hadirnya Guru Besar Universitas Terbuka, Prof. Dr. M. Gorky Sembiring, M.Sc., sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Prof. Gorky menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi mahasiswa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Tugas utama mahasiswa memang belajar, namun di zaman sekarang hal itu tidak cukup. Di era abad 21, kemampuan berpikir kritis adalah keharusan karena pemecahan masalah hanya bisa dilakukan jika kita punya kapasitas tersebut. Berpikir kritis akan melahirkan kreativitas, dan kreativitas memungkinkan seseorang berkomunikasi dalam sebuah kolaborasi,” ujar Prof. Gorky.
Pesan tersebut terasa relevan bagi mahasiswa UT yang banyak di antaranya juga merupakan pekerja. Bagi mereka, kemampuan berpikir kritis bukan hanya bermanfaat untuk menyelesaikan tugas kuliah atau menyusun skripsi, tetapi juga dapat digunakan dalam pekerjaan, organisasi, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Selama lima jam pelatihan, mahasiswa diajak untuk tidak berhenti pada keluhan atau pendapat semata. Mereka didorong untuk melihat masalah dengan data, menyusun argumen secara runtut, dan mulai memikirkan solusi yang masuk akal. Dengan begitu, forum ini tidak hanya menjadi tempat berbicara, tetapi juga ruang belajar untuk memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari cara berpikir yang lebih terbuka dan peduli.
Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, serta penguatan kolaborasi. Namun, lebih dari sekadar agenda global, nilai utama forum ini terasa sederhana dan dekat: semakin banyak mahasiswa yang peduli, semakin besar pula peluang lahirnya gagasan baik untuk pendidikan di daerah.
Melalui Forum Kritis Mahasiswa, UT Banjarmasin menegaskan bahwa kampus tidak hanya hadir untuk memberikan akses pendidikan tinggi, tetapi juga membentuk mahasiswa yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dari ruang diskusi ini, mahasiswa belajar bahwa menjadi lulusan berkualitas bukan hanya soal nilai akademik, melainkan juga tentang keberanian melihat masalah, menyuarakan gagasan, dan ikut mengambil peran bagi masa depan Banua yang lebih berdaya.



