Fleksibel Tanpa Turunkan Standar, ini Cara UT Mataram Jawab Tantangan Pendidikan Masa Kini

Menjadi sarjana tak lagi harus duduk di ruang kelas setiap pagi. Di Mataram, akhir pekan lalu, lebih dari 500 orang membuktikan bahwa kuliah bisa berjalan berdampingan dengan pekerjaan, keluarga, bahkan usia yang tak lagi muda. Di ballroom Hotel Sapadia, Sabtu (14/2/2026), Universitas Terbuka Mataram resmi membuka gerbang perjalanan akademik mereka melalui Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Program Kegiatan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ).

Selama dua hari, 14–15 Februari 2026, para mahasiswa baru diperkenalkan pada sistem pembelajaran khas UT yang berbeda dari kampus konvensional. OSMB menjadi ruang pengenalan wajah institusi dan gambaran umum perkuliahan, sementara PKBJJ difokuskan pada pematangan aspek teknis, mulai dari mekanisme belajar hingga perangkat digital yang akan menjadi “kelas” mereka sehari-hari.

Direktur UT Mataram, Heriyanto, S.IP., M.M., menegaskan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap sistem tersebut sejak awal. Menurutnya, model pembelajaran jarak jauh menuntut kesiapan dan kesadaran mahasiswa dalam mengelola proses belajarnya sendiri.

“Semua kegiatan core (utama) UT Mataram itu besok akan dimatangkan di PKBJJ,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan dua prinsip utama yang menjadi fondasi UT Mataram: terbuka dan mandiri. Terbuka berarti memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa memandang latar belakang profesi, usia, maupun asal daerah. Syaratnya hanya satu: memiliki ijazah SLTA atau sederajat. Lulusan Paket C dan SMA Terbuka pun diterima.

“Karena visi-misi UT Mataram itu memberikan akses pendidikan kepada seluruh masyarakat Indonesia, siapapun dia,” tegas Heriyanto.

Semangat ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas yang inklusif dan merata. Di tengah tantangan akses pendidikan tinggi, UT Mataram hadir sebagai solusi bagi mereka yang selama ini terkendala jarak, waktu, atau biaya.

Namun keterbukaan itu berjalan beriringan dengan prinsip kemandirian. Mahasiswa UT dituntut untuk jujur, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap proses akademiknya. Tidak ada ruang kompromi dalam integritas.

“Tidak ada negosiasi terhadap akademik,” tegas Heriyanto.

Model pembelajaran jarak jauh memang memberi fleksibilitas, tetapi sekaligus menuntut komitmen tinggi. Mahasiswa harus mampu mengatur waktu di tengah kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Di situlah karakter dibentuk, bukan hanya menjadi lulusan, tetapi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Menariknya, UT Mataram tidak mengenal sistem drop out (DO), skripsi, maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sesuai desain kebijakan pemerintah, istilah DO sudah tidak lagi digunakan. Skripsi dapat diganti dengan karya tulis ilmiah, sementara KKN dinilai tidak relevan karena mayoritas mahasiswa UT merupakan pekerja aktif.

“UT tidak KKN, kenapa? Setiap hari dia KKN. Karena dia (mahasiswa) UT kebanyakan bekerja,” jelasnya.

Logika tersebut mencerminkan pendekatan kontekstual dalam pendidikan tinggi. Dunia kerja menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Hal ini juga relevan dengan SDGs poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, di mana pendidikan dan produktivitas berjalan beriringan.

Dari pantauan di lokasi, suasana pengukuhan mahasiswa baru berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat. Tepuk tangan menggema ketika ratusan peserta resmi menjadi bagian dari keluarga besar UT Mataram. Di antara mereka ada pegawai swasta, aparatur sipil negara, wirausahawan, hingga ibu rumah tangga yang kembali mengejar cita-cita yang sempat tertunda.

Dengan sistem yang fleksibel namun tetap menjaga kualitas, UT Mataram berupaya memastikan bahwa keterbukaan tidak berarti menurunkan standar. Justru sebaliknya, kampus ini menawarkan ruang belajar yang adaptif tanpa mengkhianati mutu akademik.

“Masyarakat itu, saya bilang, siapapun bisa berkuliah untuk menjadi seorang sarjana di UT Mataram,” pungkas Heriyanto.

Di tengah perubahan zaman yang menuntut kecepatan dan efisiensi, UT Mataram hadir sebagai jawaban bahwa pendidikan tinggi tak lagi dibatasi ruang dan waktu. Bagi ratusan mahasiswa baru itu, akhir pekan kemarin bukan sekadar orientasi. Ia adalah titik balik—bahwa mimpi menjadi sarjana selalu punya jalan, selama ada kemauan untuk melangkah.