Asri Syakilla Putri Sugandi tidak pernah membayangkan namanya akan menjadi salah satu wisudawan terbaik Universitas Terbuka (UT). Dari hampir 2.000 lulusan Periode 1 Tahun 2026, Asri berhasil masuk empat besar wisudawan terbaik S1 Ilmu Komunikasi dengan IPK cumlaude 3,67. Lebih istimewa lagi, semua itu ia capai tanpa pernah duduk di kelas secara langsung, sepenuhnya melalui pembelajaran online.
“Gak nyangka karena dari sekian banyak wisudawan, hampir 2.000 orang, saya bisa terpilih menjadi salah satu dari 4 wisudawan terbaik. Gak nyangka sih sebenarnya,” kata Asri sambil tersenyum usai wisuda di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Minggu (1/2/2026).
Bagi Asri, UT bukan sekadar kampus, tapi jembatan untuk meraih pendidikan tanpa batas. Sistem pembelajaran daring yang fleksibel membuatnya tetap bisa kuliah sambil bekerja penuh waktu sebagai staf tata usaha di pesantren Gunung Sindur, Bogor. “Walaupun saya masuk kerja di hari biasa cuma sampai jam 12, saya masih punya banyak waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah,” ujarnya. Menurut Asri, fleksibilitas inilah yang membedakan UT dari perguruan tinggi lain, karena mahasiswa bisa menyesuaikan kuliah dengan kesibukan mereka.
Perjalanan kuliah Asri menuntut tingkat kemandirian dan kedisiplinan yang tinggi. Melalui sistem pembelajaran daring UT, ia terbiasa mengelola modul, video kuliah, dan platform e-learning secara mandiri. Pada materi tertentu, Asri perlu membaca dan mempelajarinya lebih dari sekali agar benar-benar memahami isi perkuliahan. “Kalau tidak benar-benar belajar, kita tidak akan bisa menyelesaikan soal UAS dengan mudah. Materinya cukup beragam, setiap mata kuliah punya karakteristik sendiri, sehingga kita perlu menyusun strategi belajar yang tepat,” tuturnya.
Asri juga beradaptasi dengan penyesuaian sistem ujian yang diterapkan UT. Pada masa pandemi, ujian dilakukan melalui skema take-home open book, kemudian pada semester berikutnya UT kembali menerapkan Ujian Tatap Muka (UTM) dengan sistem closed book. Penyesuaian ini mendorong Asri untuk menata ulang strategi belajarnya. Meski sempat berpengaruh pada capaian akademik, dukungan sistem pembelajaran UT membantunya beradaptasi dan menyesuaikan strategi belajar secara berkelanjutan.
Selain belajar, UT juga membantunya membangun jejaring sosial. Asri memulai pertemanan lewat Instagram UT Jakarta, bergabung ke grup Telegram dan WhatsApp mahasiswa baru, bahkan aktif di organisasi seperti Makom UT dan KBM. Semua itu membuatnya tetap terhubung, mendapatkan pengalaman organisasi, dan memperluas relasi, meski belajar sepenuhnya online.
Kunci keberhasilan Asri sederhana: disiplin membaca dan rutin latihan soal. “Saya harus baca sebanyak-banyaknya, terus latihan soal di setiap bab modul,” ujarnya. Ia juga mengingatkan calon mahasiswa UT: jangan pernah meremehkan pendidikan daring. UT memberikan akses pendidikan berkualitas bagi semua kalangan, tanpa dibatasi lokasi, usia, atau pekerjaan.
Kesuksesan Asri membuktikan peran UT dalam mendukung SDG 4 tentang pendidikan inklusif dan berkualitas, serta SDG 8 terkait fleksibilitas kerja dan pertumbuhan ekonomi. UT menunjukkan bahwa pendidikan daring bukan sekadar belajar dari jauh, tapi juga kesempatan untuk menembus batas, meraih prestasi, dan membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal jarak maupun waktu.



