Suma Buktikan: Pekerja Migran Bisa Jadi Sarjana dan Penggerak Perubahan

Bagi sebagian orang, menjadi pekerja migran adalah pilihan terakhir. Namun bagi Suma, warga Desa Sende, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, keputusan merantau ke Taiwan justru menjadi titik awal perubahan hidupnya. Ia berangkat bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga menata masa depan—sebuah ikhtiar untuk keluar dari keterbatasan ekonomi dan membangun kehidupan yang lebih layak bagi keluarga.

Suma berangkat ke Taiwan pada 2011 dan menetap hingga 2020. Selama hampir satu dekade, ia bertahan di sektor manufaktur—pekerjaan yang menuntut ketahanan fisik, disiplin tinggi, dan kesiapan menghadapi tekanan kerja. Ia harus melalui proses seleksi yang ketat, beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru, serta bekerja dalam ritme pabrik yang tidak memberi banyak ruang untuk kelengahan. Pengalaman ini membentuk etos kerja sekaligus kesadarannya bahwa pekerjaan layak harus berjalan beriringan dengan ketahanan diri.

Kesempatan kerja yang ia peroleh bukan datang begitu saja. Setiap hari dijalani dengan kerja keras dan konsistensi agar tetap dipercaya perusahaan. Lembur kerap menjadi pilihan, bukan semata demi menambah penghasilan, tetapi sebagai bentuk upaya mempertahankan stabilitas hidup di negeri orang. Namun, Suma menyadari bahwa perjuangan mencari nafkah juga harus diimbangi dengan menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh agar tetap produktif dalam jangka panjang.

“Pada keberangkatan kedua justru pundi-pundi saya bertambah. Kalau lembur terus saya bisa menghasilkan lebih, tapi buat apa kalau tubuh tidak diberi waktu istirahat,” aku Suma, Senin (12/1/2026).

Meski hidupnya di Taiwan relatif mapan, Suma sadar satu hal: bekerja saja tidak cukup. Ia mulai berpikir tentang apa yang akan ia lakukan setelah tak lagi menjadi pekerja migran. Dari sanalah keinginannya untuk kuliah muncul. Di tengah kesibukan bekerja, Suma mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT) jurusan Manajemen—sebuah pilihan yang mencerminkan semangat pendidikan sepanjang hayat dan langkah pasti dalam implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan terutama poin 4 (SDG 4, pendidikan berkualitas).

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sistem pembelajaran jarak jauh UT membuatnya tetap bisa kuliah tanpa meninggalkan pekerjaan. Biaya yang terjangkau juga menjadi pertimbangan penting. Selama 4,5 tahun, Suma membagi waktu antara kerja, belajar, dan aktivitas organisasi. Nilai UT tentang keterbukaan akses pendidikan, kemandirian belajar, dan kesempatan bagi siapa pun untuk berkembang menjadi fondasi penting dalam perjuangannya.

“Kan ada program mahasiswa UT. Jadi semua pegawai migran di Taiwan bisa kuliah dan biayanya murah. Saya hanya ingin membuktikan bahwa TKI juga bisa jadi sarjana,” ujarnya. Bagi Suma, ijazah bukan sekadar gelar, melainkan bekal untuk memperluas pilihan hidup dan membuka ruang kontribusi yang lebih besar setelah masa kerja di luar negeri berakhir.

Di luar pekerjaan dan kuliah, Suma aktif berorganisasi. Ia dipercaya menjadi Ketua Organisasi Pantura di Taiwan. Tak hanya itu, ia juga sempat menjalankan tugas sebagai Satuan Tugas (Satgas) di KBRI Taiwan, menangani berbagai persoalan tenaga kerja Indonesia dan mewakili PMI asal Jawa Barat. Dari sana, ia belajar menghadapi masalah, mendengar keluhan, dan mencari solusi secara kolektif—pengalaman yang mengasah kepemimpinan dan kepekaan sosialnya.

Soal keuangan, Suma memilih jalan aman. Ia tidak tergoda gaya hidup konsumtif. Sebagian besar penghasilannya ia sisihkan untuk investasi emas batangan, yang dibeli sedikit demi sedikit hingga terkumpul sekitar 200 gram. Langkah ini menjadi cara Suma menjaga hasil kerja kerasnya agar benar-benar memberi manfaat jangka panjang.

“Selesai jadi PMI semua emas saya jual dan hasilnya digunakan untuk investasi membeli tanah dan membangun rumah,” jelasnya.

Ketika akhirnya pulang ke Indonesia, Suma tidak memulai dari nol. Bekal pengalaman, pendidikan, dan kepercayaan masyarakat mengantarkannya menjadi Kuwu Desa Sende sejak 2021 hingga sekarang. Menurutnya, ada dua kunci utama agar pekerja migran bisa sukses. Pertama, hidup hemat selama di luar negeri. Kedua, memastikan uang yang dikirim ke tanah air dikelola dengan jujur dan bertanggung jawab.

“PMI itu 90 persen adalah tulang punggung keluarga. Kalau tidak dikelola dengan baik, hasil kerja keras di luar negeri bisa habis begitu saja,” paparnya.

Kini, di sela tugas sebagai kuwu, Suma tetap aktif sebagai penasihat Organisasi Pantura yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Bersama sekitar seratus anggota, mereka rutin menggalang bantuan untuk korban bencana dan membantu rumah ibadah. Kisah Suma menjadi pengingat bahwa pekerja migran bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga penggerak perubahan sosial. Dengan akses pendidikan yang terbuka seperti Universitas Terbuka, perencanaan hidup yang matang, dan kepedulian terhadap sesama, jalan pulang para perantau dapat berujung pada kontribusi nyata bagi desa dan masa depan yang lebih berkelanjutan.