Di atas ring tinju, tidak ada ruang untuk ragu. Setiap detik adalah keputusan, setiap pukulan adalah risiko. Di sanalah Israellah Athena Bonita Saweho berdiri—sendiri, berhadapan dengan lawan, tekanan, dan ekspektasi. Dari Manado, Sulawesi Utara, petinju putri Indonesia ini membawa pulang medali perunggu dari ajang SEA Games Thailand 2025 di kelas Flyweight 50 kilogram. Sebuah hasil yang mungkin terlihat sederhana di papan klasemen, tetapi menyimpan perjalanan panjang yang penuh disiplin, kesabaran, dan konsistensi.
Prestasi itu tidak datang tiba-tiba. Enam bulan penuh Israellah menjalani pemusatan latihan nasional atau training center dengan intensitas tinggi. Hari-harinya diisi rutinitas yang ketat, pengulangan teknik, pembenahan mental, dan evaluasi tanpa henti. Tidak hanya di dalam negeri, ia juga mengikuti training center ke luar negeri sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas dan jam tanding. Vietnam, Uzbekistan, hingga Thailand menjadi bagian dari proses panjang sebelum ia benar-benar siap menghadapi panggung SEA Games.
“Selama TC kami juga sempat ke luar negeri, yakni Vietnam, Uzbekistan, dan terakhir di Thailand. Jadi sebelum pertandingan, persiapan sudah benar-benar siap,” ujar Israellah saat diwawancarai Jumat (26/12/2025).
Namun, bertanding di ajang sekelas SEA Games bukan semata soal kesiapan fisik. Ada tekanan besar yang harus dikelola—membawa nama daerah, bangsa, dan harapan banyak orang. Di tengah situasi itu, Israellah memilih untuk tetap berpijak pada rasa syukur, meski langkahnya harus berhenti di peringkat ketiga. “Puji Tuhan, saya sangat bersyukur walaupun belum bisa menjadi juara pertama. Di olahraga tinju cukup sulit untuk berlaga di SEA Games, apalagi bisa mendapatkan medali,” katanya.
Stabilitas emosional menjadi kunci lain yang membuatnya bertahan. Dukungan keluarga, menurut Israellah, punya peran besar menjaga fokusnya di atas ring. “Kebetulan mama dan papa datang langsung ke pertandingan untuk memberikan dukungan, sehingga rasa stres bisa terkendali,” ungkapnya. Dalam dunia olahraga yang keras dan kompetitif, dukungan semacam itu menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar dijalani sendirian.
Di balik sosok atlet nasional yang bertanding membawa Merah Putih, Israellah juga menjalani peran lain yang tak kalah menantang. Ia adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Terbuka (UT) Manado. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Ritme latihan yang padat dan jadwal pertandingan yang dinamis menuntut sistem belajar yang fleksibel, tetapi tetap menuntut tanggung jawab tinggi.
Di Universitas Terbuka, proses belajar bertumpu pada kemandirian, pengelolaan waktu, dan konsistensi—nilai-nilai yang justru sangat akrab dengan kehidupan seorang atlet. Tidak ada dosen yang terus-menerus mengawasi, tidak ada kelas konvensional yang mengikat waktu. Yang ada adalah target, komitmen pribadi, dan kesadaran untuk terus berproses. Pola ini berjalan seiring dengan keseharian Israellah: latihan tanpa kompromi, jadwal ketat, dan tuntutan untuk tetap fokus meski berada jauh dari zona nyaman.
Kerja keras di atas ring dan ketekunan di ruang belajar akhirnya saling menguatkan. Keduanya menuntut disiplin yang sama, daya tahan yang sama, dan kesabaran untuk tidak menyerah ketika hasil belum sesuai harapan. Di titik ini, kisah Israellah menjadi cermin bagaimana Universitas Terbuka membuka ruang bagi mahasiswa dengan latar belakang apa pun untuk tetap bertumbuh dan berprestasi, bahkan hingga level internasional.
Lebih dari sekadar prestasi individu, perjalanan Israellah juga merepresentasikan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas (SDG 4) dan kesetaraan gender (SDG 5). Seorang perempuan muda, atlet nasional, sekaligus mahasiswa, diberi kesempatan yang setara untuk berkembang, belajar, dan berdampak—tanpa harus meninggalkan salah satunya.
Ke depan, Israellah masih menyimpan mimpi yang lebih besar. Medali perunggu bukan garis akhir. “Harapan saya ke depan semoga bisa lebih baik lagi. Saya sebagai atlet akan berusaha lebih keras untuk pertandingan-pertandingan berikutnya sampai ke puncak, yaitu Olimpiade,” tegasnya.
Ia pun menutup dengan pesan sederhana namun penuh tekad. “Terima kasih atas support dan kasih sayangnya. Ke depan saya akan berjuang lebih keras dan lebih giat lagi agar bisa membanggakan daerah, bangsa, dan negara Indonesia,” tutup Israellah.
Dari ring tinju hingga ruang belajar jarak jauh, perjalanan Israellah Athena Bonita Saweho memperlihatkan satu benang merah yang kuat: komitmen, kerja keras, dan konsistensi. Nilai-nilai yang menempanya sebagai atlet, sekaligus membentuknya sebagai mahasiswa Universitas Terbuka. Sebuah perjalanan yang pelan, berat, dan penuh tantangan—namun terus bergerak maju, menuju prestasi dan masa depan yang lebih tinggi.


