Tangerang Selatan, 12 Desember 2025 – Palembang, kota yang kaya akan sejarah dan semangat juang, mimpi untuk meraih pendidikan tinggi kini terbuka bagi setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Filosofi pendidikan yang inklusif ini diwujudkan secara nyata oleh Universitas Terbuka (UT) Palembang, yang memastikan bahwa penyandang disabilitas pun dapat melanjutkan pendidikan tinggi setelah tamat SLTA. Kisah ini adalah tentang kebahagiaan dan semangat yang dibawa oleh seorang mahasiswa bernama Deni Hidayat.
Deni Hidayat, mahasiswa Jurusan Sistem Informasi semester I, adalah bukti hidup dari keberhasilan layanan Pendidikan Inklusif yang ditawarkan UT. Kebahagiaan Deni terasa begitu nyata saat ia mengenakan almamater kuning kebanggaan UT Palembang.
“Saya sangat senang bisa kuliah di UT Palembang. Pastinya beruntung sekali bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi,” kata Deni, ditemui di Kampus UT Palembang setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester (UAS) dalam mode Ujian Online (UO) beberapa waktu lalu.
Keberuntungan itu ia temukan dalam sistem pembelajaran UT yang ia sebut fleksibel. Deni, yang sehari-hari mengabdi sebagai Tata Usaha (TU) sekaligus Operator di SMP N 9 Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (OI), bisa menjalankan tugas pekerjaannya tanpa harus mengorbankan impian pendidikannya.
“Saya kerja sebagai TU dan Operator di sana. Karena sistem belajarnya fleksibel, bisa kuliah jarak jauh. Bahkan kita kerja pun bisa sambil kuliah,” ungkapnya pada Jumat, 12 Desember 2025. Fleksibilitas ini menjamin SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) tetap berjalan beriringan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), menciptakan peluang peningkatan karir bagi semua kalangan.
Namun, kebahagiaan Deni tidak berhenti pada pencapaian pribadinya. Ia kini tergerak oleh rasa peduli yang dalam, menyuarakan imbauan tulus kepada teman-temannya sesama penyandang disabilitas di Sumatera Selatan. Ia ingin mereka tahu bahwa pendidikan adalah hak yang tak boleh digadaikan oleh keraguan atau rasa minder.
“Jangan menyerah dengan keadaan, kejar pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi. Karena pendidikan itu penting untuk kita,” seru Deni, suaranya dipenuhi ketegasan dan harapan.
Dengan hati terbuka, Deni menyarankan semua penyandang disabilitas di Sumsel untuk memilih UT Palembang. Menurutnya, layanan Pendidikan Inklusif di UT tidak hanya menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga membangun sebuah komunitas, tempat mereka bisa bertemu dan saling menguatkan, sehingga rasa minder atau malu perlahan terobati.
“Jangan minder dan malu, ayo ke UT Palembang, ada saya dan teman-teman yang lain. Sebab biasanya ada kemauan kuliah, tapi minder. Jangan minder ya, kejar pendidikan setinggi mungkin,” ajak Deni.
Kisah Deni Hidayat ini adalah janji yang ditepati oleh Universitas Terbuka: bahwa pendidikan tinggi adalah cermin yang harus memantulkan keragaman masyarakatnya. Melalui layanan inklusif dan sistem yang fleksibel, UT Palembang berhasil menjadi rumah yang hangat, mengundang setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, untuk percaya diri dan meraih cita-cita akademik mereka tanpa ada batasan yang berarti.



