Di tengah riuh tawa dan langkah kecil yang memenuhi Hall 10 ICE BSD, Tangerang, Minggu (7/12/2025), InklusiLand 2025 terasa seperti ruang yang lama dicari—tempat di mana setiap anak, apa pun kebutuhannya, bisa hadir tanpa merasa menjadi “tamu” di ruang publik. Bagi ribuan keluarga yang datang sejak pagi, festival yang digelar Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan momen langka ketika inklusi benar-benar diwujudkan dan dapat dirasakan secara langsung.
Rangkaian aktivitas yang dihadirkan pun beragam dan ramah bagi anak berkebutuhan khusus, mulai dari fun walk, olahraga boccia, instalasi seni, zona sensorik, hingga area UMKM inklusif. Setiap sudut arena dirancang agar mudah diakses dan aman untuk semua. Menurut Ketua Harian YIPB, Cahaya Manthovani, InklusiLand menciptakan kesempatan bagi keluarga untuk terhubung dan saling belajar. “Anak-anak dan keluarga mereka membutuhkan ruang untuk bertemu, belajar, dan merasa diterima,” ujarnya.
Ketua Dewan Pembina YIPB, Maya Miranda Ambarsari, menambahkan bahwa inklusi adalah perjalanan panjang yang hanya bisa terwujud ketika berbagai pihak terlibat aktif. “Ketika lingkungan disiapkan dengan baik, anak-anak disabilitas dapat menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Mereka tidak butuh belas kasihan, mereka butuh kesempatan,” ujarnya.
Salah satu momen penting pada gelaran tahun ini adalah penganugerahan Anugerah Inklusi Pelita Bangsa, yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berkontribusi besar terhadap penguatan ekosistem inklusi di Indonesia. Salah satu penerima adalah Rektor Universitas Terbuka (UT), Prof. Dr. Ali Muktiyanto, yang mendapat perhatian khusus. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen UT dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif, fleksibel, dan dapat dijangkau semua lapisan masyarakat—termasuk penyandang disabilitas, pekerja, warga di daerah 3T, hingga mereka yang tak memiliki akses ke pendidikan konvensional.
Melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang telah dikembangkan lebih dari tiga dekade, UT menghadirkan kesempatan belajar tanpa dibatasi jarak, waktu, dan kondisi fisik. Model pembelajaran ini menegaskan UT sebagai perguruan tinggi yang mengusung inklusivitas sebagai identitas dan praktik nyata, selaras dengan semangat InklusiLand 2025 dan prinsip SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas dan setara bagi semua. Penghargaan untuk Prof. Ali sekaligus menegaskan bahwa inklusi tidak berhenti pada akses fisik di ruang publik—tetapi juga menyangkut akses jangka panjang yang membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.
Dukungan terhadap acara ini datang tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah pusat dan daerah. Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmennya dengan mengatakan bahwa InklusiLand “sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.” Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos menilai format kegiatan ini dapat menjadi rujukan nasional, seraya menekankan, “Model seperti ini layak diterapkan di daerah lain agar inklusi benar-benar hidup dalam praktik.”
Cahaya menutup gelaran InklusiLand dengan pesan sederhana namun kuat: “Setiap anak layak memiliki ruang untuk tumbuh dan merasa hadir.” Pesan ini sekaligus menjadi pengingat akan peran penting perguruan tinggi seperti Universitas Terbuka, yang terus berkomitmen membuka kesempatan belajar bagi siapa pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun. Ketika inklusi benar-benar diwujudkan dalam pendidikan, jalan menuju masa depan yang setara pun menjadi semakin terang bagi banyak orang.



