UT Perkuat Ekosistem Kuliah Lintas Kampus, Mahasiswa Kini Bisa Belajar Tanpa Batas

BOGOR – Belajar lintas kampus kini bukan lagi hal yang sulit. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia Cyber Education (ICE) Institute menghadirkan ruang kolaborasi yang memungkinkan mahasiswa mengakses pembelajaran dari berbagai perguruan tinggi, bahkan ribuan kursus internasional, melalui satu ekosistem digital. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi yang lebih terbuka, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Perjalanan tersebut diperingati melalui 5th Anniversary ICE Institute bertema From Growth to Influence: Shaping the Future of Digital Education yang digelar di Grand Ballroom Startup Center Building, IPB Science Techno Park (STP IPB), Kampus IPB Taman Kencana, Bogor, Selasa (28/7). Menginjak usia lima tahun, ICE Institute tidak hanya merayakan capaian yang telah diraih, tetapi juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat transformasi pendidikan tinggi digital melalui kolaborasi lintas sektor.

Sejak diluncurkan pada 28 Juli 2021 sebagai marketplace pembelajaran daring nasional (national online learning marketplace), ICE Institute terus berkembang menjadi salah satu simpul penting pembelajaran digital di Indonesia. Hingga kini, platform tersebut telah menjalin kemitraan dengan 49 perguruan tinggi dan institusi, menghadirkan 885 kursus daring nasional, membuka akses terhadap lebih dari 16.000 kursus daring internasional, serta mengembangkan 401 mata kuliah daring bersama perguruan tinggi mitra. Pengembangan tersebut didukung oleh 956 pengembang konten dan telah dimanfaatkan oleh lebih dari 50.925 pembelajar dari Indonesia maupun mancanegara.

Berbagai capaian tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Selain memperluas pilihan belajar, ICE Institute juga terus mengembangkan skema micro-credentials, pengakuan kredit pembelajaran (credit recognition), dan berbagai bentuk kolaborasi yang mendorong budaya belajar sepanjang hayat.

Sebagai pelopor pendidikan terbuka dan jarak jauh di Indonesia, Universitas Terbuka (UT) memandang perjalanan lima tahun ICE Institute sebagai bukti bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dibangun sendiri, melainkan membutuhkan sinergi berbagai pihak. Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Bisnis UT, Dr. Hendrian, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh perguruan tinggi mitra, pendidik, pengembang konten, dan mitra industri yang telah berkontribusi membangun ekosistem pembelajaran digital Indonesia.

“Selamat kepada ICE Institute atas pencapaian lima tahun yang mencerminkan inovasi, kolaborasi, dan kontribusi nyata bagi ekosistem pendidikan tinggi digital Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari dedikasi seluruh perguruan tinggi mitra, para pendidik, pengembang konten, serta mitra industri yang bersama-sama membangun ekosistem pembelajaran digital,” ujar Hendrian.

Menurutnya, UT sejak awal memiliki keyakinan bahwa pendidikan berkualitas harus dapat diakses oleh siapa pun tanpa dibatasi jarak, waktu, maupun kondisi. Karena itu, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pembelajaran digital tidak lagi dipandang sebagai alternatif, melainkan telah menjadi salah satu fondasi penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Hendrian menilai tema peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa fondasi yang telah dibangun selama lima tahun terakhir kini harus diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. UT pun berkomitmen untuk terus mendukung ICE Institute dalam memperkuat perannya sebagai platform pembelajaran digital yang mampu menjangkau lebih banyak pembelajar di Indonesia, bahkan kawasan ASEAN.

Ia kemudian mengibaratkan ICE Institute sebagai sebuah pusat perbelanjaan yang menghadirkan beragam pilihan pembelajaran. Agar semakin diminati masyarakat, menurutnya, “pusat pembelajaran” tersebut harus terus memperkaya konten, menghadirkan inovasi, dan menawarkan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Semangat yang sama juga disampaikan Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP, M.Si. Ia menilai kolaborasi melalui ICE Institute telah membuka ruang belajar yang lebih luas bagi mahasiswa lintas perguruan tinggi.

“Melalui ICE Institute, lebih dari 4.000 mahasiswa lintas kampus telah belajar di IPB University, sementara ribuan mahasiswa IPB memperoleh kesempatan memperluas pengetahuan di luar kampus. Ini menjadi bukti bahwa konsep borderless campus telah menjadi kenyataan,” katanya.

Alim menambahkan, perkembangan internet dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah cara perguruan tinggi menyelenggarakan pembelajaran. Karena itu, pembelajaran digital perlu dirancang sejak awal agar mampu mengkombinasikan pembelajaran daring, pertemuan tatap muka, dan praktik lapangan sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang lebih utuh.

Komitmen memperkuat ekosistem pendidikan digital juga tercermin dalam penyelenggaraan High-Level Strategic Talk Show bertajuk ICE Institute at 5: From Innovation to Transformative Impact. Forum tersebut menghadirkan Ketua Majelis Wali Amanat UT Prof. Ainun Na’im, PhD., mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI Rudiantara, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University Prof. drh. Deni Noviana, PhD., Educational Psychology & Digital Learning Specialist Universitas Indonesia (UI) F.A. Triatmoko HS, S.Psi., M.Si., serta mahasiswa Universitas Pradita Felix Fernando sebagai representasi generasi pembelajar digital.

Rangkaian peringatan juga diisi dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) bersama mitra strategis, peluncuran buku, pengumuman pilot project, serta penganugerahan ICE Institute Awards kepada berbagai mitra yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan ekosistem pembelajaran digital di Indonesia.

Memasuki usia kelima, ICE Institute tidak lagi sekadar menjadi platform pembelajaran daring. Kehadirannya telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan digital Indonesia yang lebih terbuka, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses pembelajaran sepanjang hayat, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan inovasi pendidikan berbasis teknologi, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan mitra internasional.