TANGERANG SELATAN – Ada sesuatu yang terasa lebih dari sekadar penandatanganan dokumen ketika Universitas Terbuka (UT) dan The Open University of Japan (OUJ) kembali duduk bersama. Kedua institusi pendidikan terbuka dan jarak jauh itu telah saling mengenal selama bertahun-tahun, dan kini memilih membawa hubungan tersebut ke tahap yang lebih kuat.
Semangat itu terasa dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UT dan OUJ yang berlangsung di Universitas Terbuka, Kamis (27/8/2026). MoU tersebut ditandatangani Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. dan Presiden OUJ Prof. Dr. Masaya Iwanaga sebagai pijakan untuk memperkuat kemitraan strategis di bidang akademik, pendidikan, penelitian, dan pengembangan kelembagaan.
“Alhamdulillah siang ini kita bertemu sahabat lama kita, The Open University of Japan. Perguruan tinggi jarak jauh yang sama seperti UT di Japan, dan kita sudah punya kerja sama yang sangat panjang. Dan hari ini pembaruan dari kerja sama ini supaya lebih powerful, lebih berdampak,” ujar Prof. Ali.
Bagi UT, kesamaan karakter kedua institusi menjadi modal penting untuk membangun kolaborasi yang lebih bermakna. Keduanya sama-sama memiliki visi memperluas akses terhadap pendidikan tinggi berkualitas melalui sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, sekaligus menghadapi tantangan yang serupa, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pembelajar, hingga meningkatnya kebutuhan akan pembelajaran sepanjang hayat.
Prof. Ali mengatakan, hubungan UT dan OUJ selama bertahun-tahun telah melahirkan berbagai kolaborasi di bidang akademik dan penelitian. Pengalaman tersebut, menurut dia, menjadi fondasi kepercayaan dan saling pengertian yang kini dapat dikembangkan melalui kesepakatan yang lebih kuat. “Penandatanganan Memorandum of Understanding pada hari ini menandai babak baru yang dibangun di atas berbagai kolaborasi bermakna yang telah dijalankan oleh kedua universitas selama ini,” katanya.

Melalui MoU tersebut, kerja sama akan mencakup tujuh bidang utama, yakni pertukaran dosen, proyek penelitian dan pengembangan bersama, pertukaran informasi pendidikan, sumber daya akademik dan teknologi pendidikan, penyelenggaraan seminar, lokakarya, konferensi, serta pertemuan akademik bersama. Selain itu, kedua pihak juga membuka ruang pertukaran publikasi akademik dan bahan pendidikan, kegiatan kolaboratif dalam pengembangan pendidikan terbuka dan jarak jauh, serta bentuk kerja sama lain yang disepakati secara tertulis.
Presiden OUJ Prof. Masaya Iwanaga menyambut penandatanganan tersebut sebagai momentum penting bagi hubungan kedua universitas. Ia mengungkapkan bahwa meskipun selama bertahun-tahun UT dan OUJ belum memiliki perjanjian kerja sama pertukaran secara formal, keduanya telah menjalankan berbagai bentuk pertukaran dan membangun hubungan yang erat dalam banyak kesempatan.
Kenangan personal pun ikut mewarnai sambutannya. Prof. Iwanaga masih mengingat kunjungan pertamanya ke mantan Rektor UT Dr. Atwi Suparman lebih dari 20 tahun lalu. “Saat itu saya masih muda dan rambut saya jauh lebih banyak,” ujarnya disambut tawa. Ia juga mengenang kunjungan Wakil Rektor UT Prof. Rahmat Budiman ke OUJ pada tahun lalu untuk memberikan kuliah, serta kunjungannya ke kampus UT bersama mantan Rektor UT Prof. Dr. Ojat Darojat untuk mengikuti seminar dan menikmati suasana pegunungan serta durian.

“Suatu kehormatan besar bagi saya dapat menandatangani perjanjian internasional ini. Sekian lama kita tidak memiliki perjanjian formal antara Universitas Terbuka (UT) dan Open University of Japan (OUJ), namun pada kenyataannya kita telah melakukan banyak sekali kolaborasi internasional bersama,” kata Prof. Iwanaga.
Kini, hubungan yang tumbuh dari pertemuan, pertukaran pengetahuan, dan persahabatan itu memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang. Prof. Iwanaga berharap kesepakatan tersebut dapat mendorong pertukaran yang lebih aktif dalam sumber daya manusia, sumber daya, dan gagasan antara UT dan OUJ.
Harapan serupa disampaikan Prof. Ali. Ia ingin kesepakatan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi melahirkan lebih banyak program konkret sekaligus memperkuat jejaring akademik kedua universitas. Semangat berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh juga diharapkan memberi kontribusi lebih luas bagi kemajuan pendidikan di Indonesia, Jepang, dan tingkat global.
Bagi dua perguruan tinggi yang sejak awal hadir untuk menembus batas ruang dan waktu, kolaborasi pun tidak semestinya berhenti di atas kertas. Ada pengetahuan untuk dipertukarkan, pengalaman untuk saling menguatkan, dan inovasi yang dapat dikembangkan bersama. Dari Indonesia hingga Jepang, MoU ini membuka babak baru bagi persahabatan lama bukan sekadar untuk menjaganya, tetapi untuk membuatnya bekerja dan memberi dampak lebih luas.



