Apa jadinya jika masa depan batik dimulai dari sebuah bahan yang selama ini jarang menjadi sorotan? Di Kampung Batik Laweyan, Surakarta, jawabannya sedang dicoba lewat lilin sawit—bukan sekadar sebagai alternatif bahan, tetapi sebagai bahan alternatif yang mempertemukan praktik tradisional membatik dengan eksplorasi baru.
Selama dua hari, ruang belajar membatik di Laweyan menjadi tempat bertemunya siswa sekolah dasar, mahasiswa, peserta difabel, hingga seniman batik. Mereka datang dengan pengalaman dan kemampuan yang berbeda, tetapi duduk dalam ruang yang sama: belajar mencanting, mengolah warna, mencoba bahan baru, dan menerjemahkan gagasan ke atas kain.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Program Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 yang digelar Universitas Terbuka (UT) bersama Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan melalui program “Pengembangan Lilin Sawit sebagai Inovasi Bahan Baku Batik Berkelanjutan di Kampung Batik Laweyan, Kota Surakarta”.
Laweyan bukan sekadar nama di peta batik Indonesia. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra batik bersejarah di Surakarta yang menjaga tradisi membatik tetap hidup. Namun, sebuah tradisi tidak selalu bertahan hanya dengan mengulang cara lama. Ada saatnya warisan budaya perlu beradaptasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
Di titik itulah inovasi lilin sawit diperkenalkan.
Dalam proses membatik, lilin atau malam berfungsi sebagai perintang warna. Penggunaan bahan alternatif seperti lilin sawit membutuhkan lebih dari sekadar mengganti satu bahan dengan bahan lainnya. Pembatik perlu memahami karakter bahan, proses pemanasan, cara penerapan pada kain, hingga penyesuaian teknik saat menggunakan canting.
Karena itu, pelatihan dirancang bukan sebagai sesi teori semata. Peserta langsung mempraktikkan penggunaan lilin sawit dalam penciptaan karya. Mereka belajar mengenali karakter bahan, mencoba teknik, sekaligus menemukan kemungkinan visual yang dapat dikembangkan dari pengalaman tersebut.
Yang membuat kegiatan ini semakin menarik adalah siapa saja yang berada di dalam ruang belajar itu.
Anak-anak membawa rasa ingin tahu. Mahasiswa membawa energi eksplorasi. Kehadiran peserta difabel menunjukkan pentingnya membuka ruang berkarya yang dapat diakses oleh lebih banyak kalangan. Sementara para seniman batik membawa pengalaman panjang yang menjadi penghubung antara pengetahuan tradisional dan eksperimen baru.
Pertemuan tersebut menjadikan pelatihan lebih dari sekadar transfer keterampilan. Ia menjadi ruang belajar lintas generasi dan inklusif, tempat pengetahuan tentang batik tidak hanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga diperkaya oleh cara pandang yang beragam.
Upaya itu sekaligus membuka peluang lebih luas bagi batik untuk berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan menerima peralatan dan bahan pendukung untuk memperkuat kapasitas pelaksanaan kegiatan setelah pelatihan berakhir.
Selanjutnya, hasil evaluasi, pameran, publikasi, dan pengukuran respons pasar akan menjadi pijakan untuk mengembangkan model pelatihan yang berpotensi dilanjutkan di Laweyan maupun dikembangkan di komunitas dan sentra batik lainnya.
Sebab, menjaga batik tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan motif, canting, dan teknik yang diwariskan dari masa lalu. Lebih dari itu, keberlanjutan batik bergantung pada keberanian untuk membuka ruang bagi inovasi, memberi kesempatan kepada generasi baru, dan memastikan siapa pun dapat mengambil bagian di dalamnya.
Dari Laweyan, sehelai kain kembali mengajarkan satu hal: tradisi tidak harus berjalan mundur untuk tetap setia pada akar. Ia justru bisa terus bergerak maju—dengan tangan-tangan baru, gagasan baru, dan cara baru untuk menjaga warisan tetap bernapas.
Semangat tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 mengenai inovasi, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Program ini didanai melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Program Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.



