TING XVII Buktikan: Guru dan Teknologi Bisa Mengubah Wajah Pembelajaran Masa Depan

Tangerang Selatan, 22 November 2025 —Pagi yang cerah di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) membuka babak baru bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tempat inilah, ratusan guru berkumpul membawa semangat yang sama: memperbaiki cara belajar, memperkuat karakter, dan memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan terbaik. TING XVII hadir dengan tema Deep Learning dalam Pendidikan: Membangun Generasi Berkarakter dan Pembelajar Sepanjang Hayat, sebuah gagasan yang begitu relevan bagi para pendidik yang tengah berusaha menjawab tantangan zaman.

Ketua TING XVII, Dr. Ahmad Yani, M.Pd., membuka kegiatan dengan laporan yang membawa rasa bangga sekaligus haru. Ia menyebut tahun ini jumlah peserta mencapai 1.642 orang dengan 247 pemakalah dari 28 institusi mitra, dan 80 persen di antaranya berasal dari luar Universitas Terbuka. “Ini menunjukkan luasnya kepercayaan pada TING sebagai ruang berbagi gagasan,” tuturnya. Ia menggarisbawahi bahwa para pendidik kini ditantang untuk menghadapi multiliterasi, dinamika belajar generasi Z dan Alpha, hingga kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dalam dan bermakna.

Dekan FKIP UT, Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc., kemudian mengajak para peserta untuk melihat pendidikan sebagai ruang yang terus bergerak. Menurutnya, deep learning bukan hanya metode, melainkan jalan untuk menumbuhkan keutuhan manusia: akal, rasa, dan nilai. “TING adalah ruang refleksi dan inspirasi,” kata beliau, seraya memperkenalkan dua buku baru yang lahir dari kolaborasi dosen, mahasiswa, dan guru: Project-Based Learning in Action dan Nyala Daya Juang Para Guru Bangsa—keduanya menjadi jejak bahwa para guru selalu menemukan cara untuk terus menyalakan cahaya belajar.

Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktianto, S.E., M.Si., menghadirkan pesan yang hangat dan meneduhkan. Ia mengingatkan bahwa teknologi dan deep learning harus berjalan seiring untuk membentuk pembelajar yang kritis, beretika, dan berdaya.

“Guru tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi harus mampu memanusiakan teknologi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa UT, dengan model pendidikan terbuka dan jarak jauhnya, terus berkomitmen menghadirkan kesempatan belajar seluas mungkin—sebuah kontribusi nyata terhadap SDG 4, pendidikan berkualitas untuk semua.

Sesi utama menghadirkan Arif Jamali, Staf Khusus Mendikdasmen, yang membawa perspektif kebijakan pendidikan nasional. Ia menyampaikan dua pesan yang menurutnya sangat fundamental: “Pendidikan itu harus bermutu, dan pendidikan itu harus untuk semua,” tegasnya.

Di sisi lain, Ferry Maulana Putra dari Ditjen GTK mengingatkan bahwa guru harus dipersiapkan untuk masa depan yang cepat berubah. “Calon guru harus disiapkan matang untuk 10–20 tahun ke depan,” ujarnya, memberi isyarat bahwa transformasi pendidikan adalah proses jangka panjang.

Perspektif global datang dari Prof. Muhammad Ali, P.hD Dosen University of California. Dengan sudut pandang yang menyejukkan, ia menjelaskan bagaimana deep learning memberi kedalaman moral dalam pendidikan karakter. “Yang penting bukan hanya tahu apa itu karakter, tapi mengapa sebuah tindakan itu baik atau buruk,” katanya. Sementara Prof. Udan Kusmawan dari UT membantu peserta memahami pergeseran besar antara era digital dan era AI, serta konsekuensi bagi proses belajar.

Dalam sesi tanya jawab, para narasumber menekankan pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi perubahan. Mulai dari penggunaan rubrik untuk memantau perkembangan siswa, hingga kecakapan memahami teknologi baru secara bijak. Seluruh rangkaian acara menjadi pengingat bahwa perubahan pendidikan tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi dari ruang-ruang pertemuan seperti TING—ruang yang memungkinkan para guru kembali percaya, kembali belajar, dan kembali menemukan makna.

TING XVII menutup harinya dengan suasana hangat dan optimistis. Para guru membawa pulang bukan hanya materi, tetapi tekad baru bahwa pendidikan Indonesia akan selalu menemukan jalannya, selama ada pendidik yang terus belajar dan universitas yang membuka akses untuk semua. Universitas Terbuka kembali menegaskan perannya: hadir sebagai jembatan pengetahuan, penyedia ruang belajar tanpa batas, dan mitra bagi semua kalangan yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa.