Enam Profesor Baru UT, Satu Komitmen: Ilmu Pengetahuan Harus Berdampak 

Tangerang Selatan, 06 Agustus 2025 – Jika ilmu pengetahuan hanya berhenti sebagai teori, manfaatnya tidak akan pernah benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu, Universitas Terbuka (UT) mengukuhkan enam profesor yang menghadirkan kepakaran di bidang pendidikan, literasi, kecerdasan artifisial (AI), tata kelola pemerintahan, lingkungan perkotaan, hingga perlindungan pekerja migran. Enam bidang keilmuan tersebut dipersatukan oleh satu komitmen: menjadikan hasil riset sebagai solusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan tinggi yang berkualitas dan terbuka bagi semua.  

Momentum tersebut berlangsung dalam Pengukuhan Profesor Universitas Terbuka di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-42 UT yang mengusung tema “Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri.” Lebih dari sekadar seremoni akademik, pengukuhan ini menjadi penegasan bahwa perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh mampu melahirkan pemikiran-pemikiran strategis yang relevan dengan tantangan masa depan sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas ruang, waktu, usia, maupun latar belakang masyarakat. 

Semangat itulah yang kemudian menjadi benang merah dari enam orasi ilmiah yang disampaikan. Masing-masing profesor menawarkan solusi berdasarkan bidang kepakarannya, namun memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan hasil riset tidak berhenti sebagai capaian akademik, melainkan dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. 

Di bidang pendidikan, Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd. menyoroti pentingnya membangun ekosistem pembelajaran abad ke-21 yang adaptif melalui manajemen strategis, pemanfaatan teknologi digital, learning analytics, dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, pendidikan masa depan membutuhkan sistem pembelajaran yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga tetap berpusat pada pengalaman belajar mahasiswa secara humanis. Gagasan tersebut semakin memperkuat posisi Universitas Terbuka sebagai pelopor pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh yang terus berinovasi agar layanan pendidikan berkualitas dapat dinikmati masyarakat di mana pun berada. 
Transformasi pendidikan tersebut kemudian dilengkapi oleh Prof. Dr. Suparti, M.Pd. yang mengangkat strategi pembelajaran literasi melalui metode brainstorming, free writing, dan umpan balik guru. Pendekatan ini dinilai mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, sekaligus meningkatkan kualitas keterampilan menulis peserta didik di era digital. Sementara itu, Prof. Dr. Meri Noviyanti, S.Si., M.Pd. menawarkan pendekatan baru dalam pembelajaran matematika melalui pemanfaatan Python Virtual Lab, GeoGebra interaktif, dan AI guna memperkuat kompetensi pendidik sekaligus membangun kemampuan computational thinking yang menjadi kebutuhan generasi masa depan. 
Tidak hanya berbicara mengenai pendidikan, pengukuhan profesor kali ini juga menunjukkan bagaimana riset Universitas Terbuka hadir untuk menjawab tantangan tata kelola pemerintahan dan persoalan sosial yang berkembang semakin kompleks. 

Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si. memperkenalkan konsep smart governance sebagai pendekatan untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan berbasis data melalui pemanfaatan teknologi digital serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Sejalan dengan itu, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si. menghadirkan model pelaporan kolaboratif berbasis aplikasi digital untuk memperkuat perlindungan pekerja migran Indonesia dari ancaman forced scamming, sebuah bentuk kejahatan siber lintas negara yang terus berkembang. 

Persoalan lingkungan juga tidak luput dari perhatian. Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si. memperkenalkan pendekatan River–Settlement Symbiotic System (RS3) yang memandang sungai dan kawasan permukiman sebagai satu ekosistem yang harus dikelola secara terpadu. Melalui konsep tersebut, pembangunan kawasan perkotaan tidak lagi berorientasi pada penyelesaian masalah secara sektoral, melainkan melalui kolaborasi berbagai disiplin ilmu agar mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di kawasan perkotaan. 

Keseluruhan gagasan itu memperlihatkan bahwa setiap bidang ilmu memiliki peran dalam menjawab persoalan bangsa. Pendidikan, tata kelola pemerintahan, teknologi, lingkungan, hingga perlindungan kelompok rentan saling terhubung untuk membangun ekosistem peradaban yang lebih berkelanjutan. Inilah makna pengukuhan enam profesor Universitas Terbuka tahun ini, yakni menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi memberi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat luas. 

Komitmen tersebut juga ditegaskan Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. Menurutnya, bertambahnya enam profesor menjadikan UT kini memiliki 45 profesor yang diharapkan menjadi teladan, penggerak inovasi, sekaligus pemimpin kelompok riset yang mampu mengawal hilirisasi hasil penelitian hingga benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Dengan dukungan sistem riset yang semakin kuat, Universitas Terbuka terus mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas, tetapi juga melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan Indonesia saat ini maupun di masa depan. 

Semangat tersebut selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemerataan akses pendidikan tinggi, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat penguatan riset dan teknologi, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui inovasi pengelolaan lingkungan perkotaan, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui pengembangan tata kelola pemerintahan yang adaptif dan perlindungan kelompok rentan.