TANGERANG SELATAN — Bola bergerak cepat, keputusan harus diambil dalam hitungan detik, sementara kerja sama tim menjadi penentu setiap serangan. Dalam permainan basket 3X3, kemampuan pemain tidak hanya diuji lewat skor akhir, tetapi juga melalui strategi, komunikasi, dan sportivitas di lapangan.
Semangat tersebut terlihat dalam Disporseni Nasional Universitas Terbuka (UT) 3X3 Basketball Championship 2026 tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang berlangsung di lapangan basket Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Sabtu (22/8/2026).Kompetisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Disporseni Nasional UT 2026 sekaligus ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan olahraga.
Wakil Rektor II UT Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum, Adrian Sutawijaya, mengatakan kompetisi tersebut mempertemukan tim-tim basket pelajar tingkat SLTA dalam pertandingan yang berlangsung sengit dan dinamis. “Ajang Disporseni Nasional UT 3X3 Basketball Championship 2026 ini mempertemukan tim-tim basket pelajar tingkat SLTA,” ujar Adrian dalam keterangannya.
Menurutnya, format pertandingan 3X3 membuat permainan berlangsung cepat dan dinamis. Kondisi tersebut menuntut para pemain untuk mampu membangun kerja sama, menyusun strategi, sekaligus mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Bagi UT, kompetisi olahraga pelajar memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menentukan pemenang. Ajang tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk menemukan bibit potensial sekaligus memberikan pengalaman bertanding kepada atlet muda sebelum menghadapi kompetisi pada level yang lebih tinggi.
“Kompetisi ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan dan membangun sportivitas,” kata Adrian.
Ia berharap penyelenggaraan kompetisi tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan tidak hanya menjadi agenda tahunan. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan dengan dukungan PERBASI dan sponsor dapat membuka peluang lebih besar bagi tumbuhnya talenta basket muda.
“Semoga event ini bisa dilaksanakan sepanjang tahun dengan dukungan PERBASI dan sponsor, agar tumbuh talenta-talenta muda yang bisa berkiprah di internasional,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis, Adrian menilai olahraga juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan karakter generasi muda. Melalui pertandingan, pelajar dapat belajar memperkuat kerja sama, menjunjung sportivitas, serta mengembangkan potensi yang mereka miliki.
“Melalui kompetisi ini kami ingin menjadikan olahraga sebagai salah satu ruang pengembangan karakter dan potensi generasi muda,” katanya.
Pada gelaran tersebut, SMA PPOP Ragunan menyapu gelar juara kategori putra dan putri. Di kategori putra, PPOP Ragunan keluar sebagai juara setelah mengalahkan SMA 1 PSKD dengan skor 16–10. Posisi ketiga diraih SMA 8 Jakarta setelah menundukkan SMA Labschool Kebayoran 22–20.
Di kategori putri, PPOP Ragunan kembali menjadi kampiun setelah menundukkan SMAN 36 Jakarta dengan skor 13–10. Sementara itu, SMA Kharisma Bangsa menempati posisi ketiga setelah mengalahkan SMA 63 Jakarta dengan skor 18–9.
Klasemen akhir kategori putra menempatkan SMA PPOP Ragunan sebagai Juara I, SMA 1 PSKD Juara II, SMA 8 Jakarta Juara III, dan SMA Labschool Kebayoran Juara IV. Untuk kategori putri, SMA PPOP Ragunan menjadi Juara I, disusul SMAN 36 Jakarta sebagai Juara II, SMA Kharisma Bangsa Juara III, dan SMA 63 Jakarta Juara IV.
Melalui kompetisi tersebut, UT menempatkan olahraga bukan hanya sebagai arena pertandingan, tetapi juga sebagai wadah bagi pelajar untuk mengasah kemampuan dan karakter. Pengalaman bertanding diharapkan dapat menjadi bagian dari proses menuju prestasi yang lebih tinggi, termasuk membuka peluang bagi lahirnya talenta yang mampu berkiprah di tingkat nasional hingga internasional.
Upaya tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendukung pengembangan keterampilan, karakter, dan potensi generasi muda melalui kegiatan pendidikan di luar ruang akademik.



