Ratusan Inovasi Dari 7 Negara: Kolaborasi Global Untuk Dunia Yang Lebih Cerdas Dan Tangguh!

Tangerang Selatan, 30 Oktober 2025 – Saat ini perubahan iklim, krisis energi, dan kemajuan teknologi berpacu dalam satu tarikan napas, dunia membutuhkan ruang untuk berpikir dan bersinergi bersama. Ruang yang tak hanya mempertemukan para ilmuwan, tapi juga menghubungkan visi—tentang masa depan yang berkelanjutan.

Ruang tersebut hadir lewat the 5th International Seminar on Science and Technology (ISST) 2025, yang digelar oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Terbuka (UT) di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) dan secara Hybrid melalui Zoom serta kanal YouTube UT TV. Dengan tema “Advancing Science and Technology for a Sustainable and Resilient Future”, ISST 2025 menjadi bukti bagaimana sains dan pendidikan terbuka bisa saling bertaut. Melalui forum ilmiah tahunan ini, UT mempertegas komitmennya untuk menghadirkan ilmu yang menjangkau siapa pun, di mana pun—tanpa sekat ruang dan waktu.

“Kami ingin memastikan bahwa riset dan inovasi tidak berhenti di laboratorium. Ia harus mengalir, menjangkau masyarakat, dan memberi solusi nyata bagi keberlanjutan,” ujar Vita Elysia, S.T., M.Sc., Ph.D., Ketua Panitia ISST 2025.

Acara ini diikuti ratusan akademisi dan peneliti dari tujuh negara, termasuk Malaysia, Belanda, Jepang, dan Arab Saudi. Kolaborasi tersebut menggambarkan wajah baru UT—kampus dengan sistem belajar jarak jauh bukan hanya terbuka dalam akses pendidikan, tapi juga dalam pertukaran ilmu pengetahuan lintas bangsa.

Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyampaikan sambutannya melali tayangan video yang diputar di hadapan para peserta. Dalam pesannya, ia menegaskan makna penting di balik terselenggaranya The 5th International Seminar on Science and Technology (ISST) 2025 sebagai wujud nyata komitmen UT terhadap penguatan riset dan kolaborasi global.

“Merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebahagiaan bagi saya untuk dapat menyapa seluruh peserta ISST 2025, meski secara virtual. Seminar ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan juga bagian dari perayaan 41 tahun perjalanan Universitas Terbuka dalam membawa semangat pendidikan tinggi yang terbuka untuk semua,” ujar Prof. Ali dalam sambutannya.

Ia menambahkan, tema besar ISST 2025 sejalan dengan upaya dunia dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, UT ingin menghadirkan ruang kolaboratif yang mempertemukan gagasan, inovasi, dan aksi nyata dari berbagai disiplin ilmu.

“Melalui forum ini, kami berharap lahir lebih banyak kolaborasi dan penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat serta mendukung masa depan yang berkelanjutan,” tutur Prof. Ali menutup pesannya.

Sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi Universitas Terbuka yang telah berkiprah selama 41 tahun.

“Universitas Terbuka telah banyak melahirkan lulusan yang berkontribusi luas di berbagai bidang. Kementerian tentu mendukung penuh kegiatan seperti ini sebagai ajang untuk menampilkan karya sains dan teknologi dari UT,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat peran sains dan teknologi nasional melalui kolaborasi yang inklusif. “Dengan sumber daya dan jejaring yang dimiliki, UT memiliki potensi besar untuk terus melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Selaras dengan semangat sustainability, ISST tahun ini menghadirkan empat subtema besar yang menyentuh berbagai isu global: Climate Resilience and Sustainable Resource Management, Smart Technologies for Sustainable and Healthy Living, Circular Economy and Sustainable Innovation, serta Water, Energy, and Food Nexus for Resilient Societies.

Dekan FST UT, Dr. Subekti Nurmawati, M.Si., menambahkan bahwa inovasi sains tidak boleh berjalan sendiri.

“Inovasi tanpa nilai keberlanjutan ibarat teknologi tanpa arah. Melalui ISST, kami berusaha membangun jembatan antara penelitian dan kehidupan nyata,” ujarnya.

Universitas Terbuka lahir dari semangat memberikan pendidikan merata bagi masyarakat. Kini, UT membuktikan bahwa jarak dan lokasi bukanlah batasan untuk terhubung secara global. Melalui ISST, UT menghadirkan pengalaman belajar yang mengedepankan aksesibilitas, kualitas, dan relevansi – membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar, berkembang, dan bersaing di dunia internasional.”

Kegiatan ini juga menampilkan Scientific Poster Competition and Exhibition, serta peluncuran buku “Pendekatan Spasial dalam Memahami Isu Kota dan Wilayah” karya dosen FST UT. Buku tersebut diserahkan secara simbolis kepada para narasumber utama, menandai kontribusi nyata UT dalam mendorong riset multidisiplin. Tak hanya itu, peluncuran video “Science Speaks: Launching Ideas into the World” turut menjadi momen berkesan. Video tersebut menampilkan potret dosen dan mahasiswa UT yang menyalurkan gagasan riset mereka untuk menjawab isu-isu global.

Dari ruang seminar hingga layar YouTube, semangat yang terasa sama: ilmu seharusnya tak berhenti di ruang kelas. Ia tumbuh lewat kolaborasi, meluas lewat teknologi, dan hidup dalam setiap langkah yang membawa perubahan.

Di penghujung acara, ISST 2025 meneguhkan satu pesan penting—bahwa masa depan pendidikan bukan hanya tentang belajar dari jarak jauh, tetapi juga berpikir tanpa batas. Sebuah visi yang terus dijaga UT, kampus yang membuktikan: keterbukaan adalah kekuatan.